👀 BEI Kembali Ubah Batas ARB Jadi 7%, Kecualikan Saham HSC dari Perhitungan IHSG / by Stockbit Investment Research

Photo by: Stockbit

Daily Market Performance 🚀

IHSG Foreign Flow Kurs USD/IDR Gold
4.996,6 -3,64%-Rp1,72 triliun18.043 +0,17%4.187 +0,15%
Oil Coal CPO Nickel
108,7 -1,02%155,0 +0,00%4.766 -0,06%15.363 +0,93%

👋 Stockbitor!

IHSG mengalami koreksi tajam hingga -14,8% dalam 2 hari perdagangan terakhir, menyusul pengumuman dari MSCI yang meluncurkan konsultasi terkait usulan downgrade klasifikasi Indonesia menjadi standalone market. Menanggapi koreksi tajam ini, BEI kembali mengumumkan penyesuaian batasan auto rejection bawah (ARB) menjadi asimetris sebesar -7% untuk saham dengan harga di atas Rp10/saham yang diperdagangkan di pasar reguler dan tunai pada 19 Oktober–31 Desember 2026.

BEI menjelaskan bahwa penyesuaian ini bertujuan memberikan kesempatan bagi investor untuk mengevaluasi dan mencerna informasi yang tersedia, sehingga dapat membantu proses pengambilan keputusan investasi secara lebih baik berdasarkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia. Langkah ini diumumkan hanya beberapa pekan setelah BEI mengubah klasifikasi dan batas ARB pada 28 September 2026 lalu dan akan dievaluasi kembali mengikuti perkembangan yang terjadi di pasar. Sebelumnya, BEI berencana untuk mengubah batas ARB menjadi simetris dengan auto rejection atas (ARA) per 1 Januari 2027.

Sementara itu, Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan pada Senin (19/10) bahwa pihaknya tidak akan lagi memperhitungkan pergerakan saham–saham yang termasuk dalam daftar high shareholding concentration (HSC) dalam perhitungan IHSG untuk memberikan indeks harga yang kredibel dan berintegritas. Jeffrey menekankan bahwa saham–saham dalam daftar HSC tetap dapat diperdagangkan, tetapi pergerakan harganya tidak akan lagi memengaruhi pergerakan IHSG. Jeffrey juga menyebut bahwa BEI akan merinci lebih lanjut keterangan afiliasi dalam publikasi pemegang saham dengan kepemilikan 1%. Selain itu, Jeffrey menyebut tidak dapat mengungkap detail maupun kesimpulan dari pertemuan dengan MSCI pada sore hari ini.

Key Takeaway

Meski sentimen negatif berpotensi masih berlanjut dalam jangka pendek, koreksi tajam ini dapat menjadi kesempatan akumulasi bagi investor jangka panjang. Berikut beberapa saham yang kami nilai memiliki fundamental solid dan rutin membagikan dividen dengan yield tinggi, beserta penjelasan terkait kriteria–kriteria yang kami gunakan:

  • Dividend yield >6% — Saham menawarkan dividend yield setidaknya 6%, berdasarkan angka dividen per saham dari tahun buku terakhir serta rata–rata dividen per saham dari 3 tahun buku terakhir.
  • Net cash — Emiten memiliki balance sheet kuat dengan posisi net cash (cash melebihi utang), sehingga dapat menjadi buffer bagi dividend payout ratio.
  • Eksposur terbatas terhadap kepemilikan investor asing — Saham dengan kepemilikan oleh reksa dana dan dana pensiun investor asing yang relatif rendah terhadap total market cap maupun free float market cap.
  • Earnings sustainability — Selain faktor–faktor kuantitatif di atas, kami juga melakukan penilaian secara kualitatif, terutama terkait earnings sustainability ke depan, sehingga angka dividen historis dapat dijadikan acuan yang reliable.

🤑 DMAS 9M26: Marketing Sales +317% YoY ke Rp2,6 T, Upgrade Target 2026 ke Rp2,95 T

  • $DMAS: Puradelta Lestari menaikkan target marketing sales 2026 dari Rp2,08 T menjadi Rp2,95 T, atau sekitar +42% lebih tinggi dibandingkan target awal, mempertimbangkan pipeline serta tren penjualan lahan industri hingga melewati 1H26 sebagai kontributor utama, khususnya dari segmen data center. DMAS sendiri mencatat marketing sales ~Rp1,5 T pada 3Q26 (vs. 3Q25: Rp46 M, 2Q26: Rp589 M), sehingga marketing sales selama 9M26 mencapai ~Rp2,6 T (+317% YoY) atau setara ~89% target 2026 yang baru. Direktur dan Sekretaris Perusahaan DMAS, Tondy Suwanto, mengatakan bahwa penjualan lahan industri selama 9M26 dikontribusikan oleh segmen data center, sembari menambahkan bahwa permintaan lahan untuk data center masih terbuka lebar seiring lonjakan kebutuhan teknologi AI.
  • $BBCA: Bank Central Asia mengatakan akan kembali melaksanakan program buyback saham pada 19–21 Oktober 2026. Aksi korporasi ini merupakan bagian dari buyback saham dengan alokasi dana hingga Rp5 T pada periode 12 Maret 2026–11 Maret 2027, yang telah disetujui dalam RUPST pada Maret 2026. BBCA menjelaskan bahwa perseroan telah melaksanakan sebagian buyback pada April dan Juni 2026, meski tidak merinci jumlahnya lebih lanjut. BBCA juga menyebut bahwa buyback saham ini menunjukkan keyakinan BBCA terhadap fundamental bisnis perseroan, serta turut mendukung stabilisasi pasar modal Indonesia.
  • $BREN: Barito Renewables Energy berencana buyback saham dengan alokasi dana hingga Rp1 T pada periode 19 Oktober–31 Desember 2026. Rencana ini tidak memerlukan persetujuan pemegang saham, seiring relaksasi yang diberikan OJK untuk mendukung stabilitas pasar modal. Dalam keterbukaan informasi terpisah, BREN menyatakan menghormati keputusan OJK dan BEI yang diumumkan pada 16 Oktober 2026, serta akan memberikan kerja sama yang diperlukan dan mematuhi ketentuan pasar modal yang berlaku. BREN juga menyebut seluruh kegiatan operasional perseroan dan anak usaha saat ini berjalan normal. Sebelumnya, OJK mengumumkan sanksi denda sebesar Rp500 M kepada pihak yang terkait pelanggaran transaksi saham BREN.
  • $CUAN: Petrindo Jaya Kreasi berencana buyback saham dengan alokasi dana hingga Rp500 M pada periode 19 Oktober–31 Desember 2026. Rencana ini tidak memerlukan persetujuan pemegang saham, seiring relaksasi yang diberikan OJK untuk mendukung stabilitas pasar modal. Dalam keterbukaan informasi terpisah, CUAN menyatakan menghargai ketetapan dari OJK dan BEI yang disampaikan pada 16 Oktober 2026, serta siap bekerja sama dan menyediakan informasi yang diperlukan. CUAN juga menyebut seluruh kegiatan operasional perseroan, baik pada tingkat induk perusahaan maupun entitas anak, masih tetap berjalan normal. Sebelumnya, OJK mengumumkan sanksi denda sebesar Rp100 M kepada pihak yang terkait pelanggaran transaksi saham CUAN.
  • $BRPT: Barito Pacific berencana buyback saham dengan alokasi dana hingga Rp1 T pada periode 19 Oktober–31 Desember 2026. Rencana ini tidak memerlukan persetujuan pemegang saham, seiring relaksasi yang diberikan OJK untuk mendukung stabilitas pasar modal.
  • $TPIA: Chandra Asri Pacific berencana buyback saham dengan alokasi dana hingga Rp1 T pada periode 20 Oktober 2026–19 Januari 2027. Rencana ini tidak memerlukan persetujuan pemegang saham, seiring relaksasi yang diberikan OJK untuk mendukung stabilitas pasar modal.
  • $DSSA: Dian Swastatika Sentosa berencana buyback saham dengan alokasi dana hingga Rp1 T pada periode 19 Oktober 2026–18 Januari 2027. Rencana ini tidak memerlukan persetujuan pemegang saham, seiring relaksasi yang diberikan OJK untuk mendukung stabilitas pasar modal.
  • $CTRA: Ciputra Development mencatat marketing sales ~Rp2,9 T pada 3Q26 (+55% YoY, +29% QoQ). Hasil ini membuat marketing sales selama 9M26 mencapai ~Rp7,6 T, flat secara tahunan dan setara ~80% target 2026 di ~Rp9,5 T. Dari total marketing sales 9M26, sebanyak ~Rp3,1 T atau ~41% di antaranya berasal dari produk yang memenuhi syarat PPN DTP.

🔎 Insider Transactions

Source: IDX

Top Gainer 🔥

$INCO $AADI $PGAS $PTBA
+4,93%+2,78%+2,52%+2,50%

Top Loser 🤕

$MDKA $BUVA $INET $MBMA
-7,00%-7,00%-6,95%-6,95%

 🔥 Hal lain yang lagi hot yang perlu kamu ketahui…

  • Harga minyak Brent melandai -1,3% ke kisaran US$108,4/barrel pada Senin (19/10) pagi, setelah sempat melonjak ke level tertinggi dalam 5 bulan di US$110/barrel pada Jumat (16/10). Lonjakan harga minyak pada Jumat (16/10) didorong oleh rumor potensi serangan oleh Iran kepada Arab Saudi, yang meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Selain itu, kenaikan harga minyak pada Jumat (16/10) juga didorong kekhawatiran terkait pasokan diesel global setelah kilang minyak Ryazan di Rusia menghentikan unit distilasi utamanya akibat serangan drone oleh Ukraina. Sementara itu, harga minyak melandai pada Senin (19/10) setelah Presiden AS, Donald Trump, menandatangani kebijakan untuk menangguhkan sanksi dan tarif terhadap Rusia, yang berpotensi meningkatkan kembali pasokan ekspor bahan bakar Rusia, termasuk kesepakatan ekspor diesel ke AS. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan bahwa AS memiliki waktu hingga 60 hari untuk mengevaluasi dampak ekonomi dari penangguhan sanksi ini, sementara Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, menilai kebijakan AS tersebut akan merugikan Ukraina.
  • Direktur Sinar Eka Selaras ($ERAL), Andre Tanudjaja, mengatakan bahwa pihaknya optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan double digit hingga akhir 2026, ditopang ekspansi jaringan ritel, penambahan merek internasional, serta momentum peluncuran produk baru termasuk seri iPhone 18. Andre mengeklaim bahwa pre–order seri iPhone 18 jauh lebih tinggi dibandingkan iPhone 17 dengan “gap yang cukup tinggi”, di mana permintaan mengarah ke varian berkapasitas penyimpanan besar seperti 1 TB dan 2 TB serta seri Pro Max. Dari sisi ekspansi, jaringan ritel Urban Republic — distributor resmi produk iPhone — saat ini memiliki ~60 gerai dengan rencana penambahan 1–2 gerai lagi hingga akhir 2026.
  • Indocement Tunggal Prakarsa ($INTP) mengumumkan bahwa Christian Kartawijaya dan Juan Francisco Defalque telah mengajukan surat pengunduran diri dari jabatannya masing–masing sebagai direktur utama dan komisaris perseroan. Christian mengajukan surat pengunduran diri karena telah memasuki masa pensiun, sementara pengunduran diri Defalque karena alasan pribadi. Pengendali INTP, Heidelberg Materials Group, mengusulkan agar Jose Maria Magrina Vadillo — yang saat ini menjabat sebagai wakil direktur utama INTP — menjadi direktur utama baru INTP. Heidelberg Materials juga mengusulkan Christian Kartawijaya menjadi komisaris utama, menggantikan posisi Roberto Callieri yang akan mengisi posisi komisaris. Seluruh rencana ini akan dibahas dalam RUPSLB pada 3 Desember 2026.

😮 DCA vs Buyback Di Area ARB: Kapan Beli, Kapan Jangan, dan Kapan Jual

“Kalau penyebab turunnya belum jelas, jangan eksekusi dulu.” — illusix

Kutipan menarik dari komunitas Stockbit minggu ini

Saham ARB sering kali memicu kepanikan investor dan keputusan berdasarkan emosi. Stockbitor Illusix membagikan 2 kerangka sederhana yang dapat membantu keputusanmu berbasis hitungan, yaitu DCA dan buyback. DCA dilakukan dengan membeli saham secara bertahap untuk menurunkan harga rata-rata, sedangkan buyback berarti membeli kembali saham yang sudah dijual pada harga lebih rendah dari harga jual. Namun, stockbitor illusix menuliskan kedua strategi ini hanya layak dipertimbangkan jika fundamental perusahaan masih sehat, seperti laba konsisten minimal tiga tahun, rutin membagikan dividen, utang terkendali, ROE dan arus kas operasi positif, likuiditas memadai, valuasi wajar, serta bukan saham bermasalah atau gorengan. Hal terpenting adalah memahami penyebab penurunan harga. Jika hanya karena sentimen pasar, peluang bisa saja muncul, tetapi beda halnya apabila didasari masalah fundamental seperti gagal bayar, fraud, atau kerugian besar, menambah posisi justru berisiko memperbesar kerugian. Selain itu, Stockbitor illusix juga menuliskan contoh hitungan, kesalahan umum, manajemen resiko, dan kapan waktu menjual. Untuk mengetahui lebih lanjut, jangan lupa baca tulisannya di sini!

Kutipan menarik dari komunitas Stockbit minggu ini

illusix merupakan salah satu investor dan trader aktif di Stockbit sejak 2018 yang dikenal lewat analisis saham berbasis kombinasi fundamental, teknikal, dan bandarmologi. Melalui pendekatan yang sistematis, ia membagikan strategi screening saham, membaca pergerakan bandar, serta mencari peluang trading dengan mempertimbangkan momentum dan manajemen risiko.

Copyright 2026 Stockbit, all rights reserved.

Disclaimer:

Konten ini ditulis oleh PT Stockbit Karya Indonesia (“Stockbit”), perusahaan media ekonomi dan keuangan yang menghadirkan berita, analisis, dan insight tentang dunia bisnis, investasi, dan kebijakan ekonomi, khususnya yang terkait Pasar Modal.

Selanjutnya, semua keputusan investasi nasabah mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas investasi tersebut. Seluruh risiko investasi bukan merupakan tanggung jawab Stockbit melainkan menjadi tanggung jawab masing–masing nasabah.

Domain resmi Stockbit adalah https://stockbit.com/ dan semua informasi yang dikirimkan oleh kami akan menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit dan/atau alamat email yang diakhiri @Stockbit.com.

Semua pemberian Informasi Rahasia kepada pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit namun tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit merupakan tanggung jawab pribadi pihak pemilik Informasi Rahasia dan kami tidak bertanggung jawab atas setiap penyalahgunaan Informasi Rahasia yang dilakukan oleh pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit yang tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit.