ARA (Auto Rejection Atas) adalah batas maksimum kenaikan harga saham dalam satu hari perdagangan. ARB (Auto Rejection Bawah) adalah batas maksimum penurunannya. Keduanya adalah mekanisme penolakan otomatis yang dijalankan oleh JATS (Jakarta Automated Trading System), sistem perdagangan elektronik Bursa Efek Indonesia (BEI), terhadap order beli atau jual yang harganya melampaui batas tersebut.
Berdasarkan ketentuan yang berlaku sejak 8 April 2025, batas ARA ditetapkan sebesar 35% untuk saham berharga Rp50 sampai Rp200, 25% untuk saham di atas Rp200 sampai Rp5.000, dan 20% untuk saham di atas Rp5.000. Batas ARB ditetapkan seragam 15% untuk seluruh rentang harga. Karena persentase batas atas dan batas bawah berbeda, ketentuan yang berlaku saat ini disebut auto rejection asimetris.
Artikel ini membahas cara kerja auto rejection, tabel batasan lengkap termasuk untuk saham IPO (Initial Public Offering, penawaran saham perdana ke publik) dan Papan Pemantauan Khusus, cara menghitung harga ARA dan ARB, apa yang sebenarnya terjadi saat sebuah saham menyentuh batas tersebut, serta perbedaannya dengan trading halt dan suspensi.
Apa Itu Auto Rejection dan Mengapa Ada
Auto rejection adalah mekanisme otomatis di sistem perdagangan BEI yang menolak order jual atau beli apabila harganya melampaui batas persentase tertentu dari harga acuan hari itu. Harga acuan adalah harga yang dijadikan patokan untuk menghitung batas ARA dan ARB, dan umumnya adalah harga penutupan hari bursa sebelumnya.
Tujuan mekanisme ini adalah meredam volatilitas ekstrem, yaitu naik-turunnya harga saham secara tajam dalam waktu singkat. Tanpa batasan, harga sebuah saham bisa bergerak tanpa rem dalam satu sesi. Misalnya, harga bisa turun 60% dalam hitungan menit hanya karena satu berita negatif atau aksi jual besar-besaran. Situasi seperti itu membuat proses pembentukan harga menjadi tidak wajar dan merugikan investor yang tidak memiliki akses informasi secepat pelaku pasar besar.
Dua hal penting yang sering disalahpahami sejak awal:
βοΈ Auto rejection menolak order, bukan menghentikan perdagangan. Saat sebuah saham menyentuh ARA atau ARB, perdagangan tetap berjalan. Yang ditolak hanya order dengan harga di luar batas.
π Batasnya dihitung dari harga acuan, bukan dari harga saat ini. Karena harga acuan sudah ditetapkan sejak sebelum bursa dibuka, batas ARA dan ARB tidak bergeser mengikuti pergerakan harga sepanjang hari.
Di aplikasi Stockbit, batas atas dan batas bawah harga suatu saham bisa dilihat langsung di halaman detail emiten (perusahaan yang menerbitkan saham tersebut). Dengan begitu, kamu sudah tahu sejak awal sesi sampai di mana harga bisa bergerak hari itu, tanpa perlu menghitung manual.
Apa Itu ARA (Auto Rejection Atas)
ARA adalah batas kenaikan harga maksimum sebuah saham dalam satu hari bursa. Ketika harga saham menyentuh level ARA, sistem menolak seluruh order beli yang dipasang di atas harga tersebut.
Yang terjadi secara praktis saat saham ARA:
π’ Antrean beli menumpuk, antrean jual mengering. Banyak pihak ingin membeli di harga ARA, tetapi sedikit yang bersedia menjual. Order book (daftar antrean order beli dan jual pada suatu saham) menampilkan bid (harga yang ditawarkan calon pembeli) dalam jumlah besar, sementara offer (harga yang diminta calon penjual) tipis atau bahkan kosong.
π Sulit mendapatkan barang. Meskipun kamu memasang order beli di harga ARA, order itu belum tentu terisi. Antrean mengikuti prinsip prioritas harga dan waktu, sehingga order yang lebih dulu masuk akan dieksekusi lebih dulu.
π ARA bukan jaminan kenaikan akan berlanjut. Saham yang ARA hari ini bisa saja dibuka turun keesokan harinya. Batas ARA hanya membatasi pergerakan dalam satu hari, bukan menunjukkan arah tren.
Saham menyentuh ARA umumnya karena dua sebab yang sangat berbeda. Pertama, katalis fundamental nyata, seperti pengumuman kontrak besar, kenaikan laba signifikan, atau aksi korporasi yang menguntungkan pemegang saham. Kedua, pergerakan yang tidak didukung kinerja perusahaan, yang biasa disebut "saham gorengan" β istilah untuk saham yang harganya digerakkan oleh spekulasi atau permainan harga, bukan oleh kinerja bisnis yang sebenarnya.
Membedakan kedua sebab ini adalah keterampilan yang perlu dilatih. Langkah paling dasar adalah memeriksa apakah ada keterbukaan informasi resmi (pengumuman resmi) dari emiten yang menjelaskan kenaikan tersebut, lalu mengecek apakah kinerja keuangannya mendukung. Stockbit AI Reports bisa digunakan untuk melihat ringkasan kinerja emiten secara cepat, sehingga kamu tidak menilai sebuah ARA hanya dari grafik harganya.
Apa Itu ARB (Auto Rejection Bawah)
ARB adalah batas penurunan harga maksimum sebuah saham dalam satu hari bursa. Ketika harga menyentuh level ARB, sistem menolak seluruh order jual yang dipasang di bawah harga tersebut.
Yang terjadi secara praktis saat saham ARB:
π΄ Antrean jual menumpuk, antrean beli mengering. Ini kebalikan dari kondisi ARA. Order book menampilkan offer yang menumpuk di harga ARB, sementara bid sangat tipis.
β Sulit keluar dari posisi. Ini yang paling sering dirasakan investor. Kamu bisa memasang order jual di harga ARB, tetapi order itu hanya akan terisi jika ada pembeli yang bersedia mengambilnya. Jika tidak ada, posisimu tetap tertahan.
π ARB bisa berlanjut beberapa hari berturut-turut. Karena batasnya berlaku per hari, saham dengan tekanan jual yang sangat kuat bisa menyentuh ARB berhari-hari. Penurunan 15% per hari selama tiga hari berturut-turut menghasilkan penurunan kumulatif sekitar 39% dari harga awal.
Perlu ditegaskan agar tidak menimbulkan salah paham: ARB tidak melarangmu menjual. Yang dilarang adalah memasang order di harga lebih rendah dari batas ARB. Kamu tetap bisa menjual di harga ARB β hanya saja, terisi atau tidaknya order itu bergantung pada ada tidaknya pembeli di level tersebut.
Tabel Batasan ARA dan ARB yang Berlaku Saat Ini
Ketentuan berikut mengacu pada Surat Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00003/BEI/04-2025, yang berlaku efektif sejak 8 April 2025, untuk saham di Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Ekonomi Baru β tiga papan pencatatan tempat saham dikelompokkan berdasarkan kriteria pencatatannya di BEI β termasuk ETF (Exchange Traded Fund, reksa dana yang diperdagangkan seperti saham) dan DIRE (Dana Investasi Real Estate).
Rentang harga Rp50 sampai Rp200
Batas ARA: 35%
Batas ARB: 15%
Rentang harga di atas Rp200 sampai Rp5.000
Batas ARA: 25%
Batas ARB: 15%
Rentang harga di atas Rp5.000
Batas ARA: 20%
Batas ARB: 15%
Perhatikan bahwa batas ARB kini seragam di seluruh rentang harga, sementara batas ARA masih dibedakan berdasarkan harga saham. Inilah yang dimaksud dengan auto rejection asimetris.
Implikasinya cukup besar dan jarang dibahas: saham berharga Rp1.000 bisa naik sampai 25% dalam sehari, tetapi hanya bisa turun maksimal 15%. Bagi pemegang saham, ini memberi ruang penurunan yang lebih terkendali. Bagi pihak yang ingin masuk saat harga jatuh, ini berarti proses penyesuaian harga ke bawah membutuhkan waktu lebih lama dan bisa terjadi bertahap selama beberapa hari.
Batasan Auto Rejection di Papan Pemantauan Khusus
Papan Pemantauan Khusus adalah papan tempat BEI menempatkan saham emiten yang memenuhi kriteria tertentu, misalnya harga sangat rendah, ekuitas negatif (total utang perusahaan lebih besar daripada total asetnya), opini audit disclaimer (opini auditor yang menyatakan tidak dapat memberikan pendapat karena keterbatasan data), atau perusahaan dalam proses PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, proses hukum ketika perusahaan berupaya menyelesaikan utang dengan para krediturnya agar terhindar dari kepailitan). Saham di papan ini ditandai dengan notasi khusus, yaitu kode tambahan pada kode saham yang menandai kondisi tertentu.
Mekanisme perdagangan di papan ini berbeda dari pasar reguler karena menggunakan full call auction, yaitu lelang berkala dalam beberapa sesi per hari, bukan perdagangan berkelanjutan sepanjang jam bursa. Batasan auto rejection-nya juga berbeda:
π Saham berharga Rp1 sampai Rp10: batas kenaikan dan penurunan sebesar Rp1.
π Saham berharga di atas Rp10: batas kenaikan dan penurunan sebesar 10%, berlaku simetris (sama besar untuk batas atas dan bawah).
Harga minimum saham di papan ini adalah Rp1, berbeda dari pasar reguler yang batas bawahnya Rp50.
Bagi investor pemula, notasi khusus pada sebuah emiten sebaiknya diperlakukan sebagai peringatan, bukan sekadar informasi tambahan. Papan ini berisi emiten dengan kondisi yang perlu dicermati lebih dalam. Notasi khusus dan papan pencatatan setiap emiten bisa dilihat di halaman profil saham pada aplikasi Stockbit. Screener saham (alat penyaring saham berdasarkan kriteria tertentu) juga bisa dipakai untuk menyaring emiten berdasarkan kriteria fundamental sebelum kamu memutuskan menelusurinya lebih jauh.
Cara Menghitung Harga ARA dan ARB
Rumus dasarnya sederhana:
Harga ARA = Harga acuan + (Harga acuan Γ persentase ARA)
Harga ARB = Harga acuan β (Harga acuan Γ persentase ARB)
Harga acuan umumnya adalah harga penutupan hari bursa sebelumnya. Berikut contohnya di beberapa rentang harga.
Contoh 1: Saham berharga Rp100
Masuk rentang Rp50 sampai Rp200, sehingga ARA 35% dan ARB 15%.
Harga ARA: Rp100 + (Rp100 Γ 35%) = Rp135
Harga ARB: Rp100 β (Rp100 Γ 15%) = Rp85
Contoh 2: Saham berharga Rp1.000
Masuk rentang di atas Rp200 sampai Rp5.000, sehingga ARA 25% dan ARB 15%.
Harga ARA: Rp1.000 + (Rp1.000 Γ 25%) = Rp1.250
Harga ARB: Rp1.000 β (Rp1.000 Γ 15%) = Rp850
Contoh 3: Saham berharga Rp6.000
Masuk rentang di atas Rp5.000, sehingga ARA 20% dan ARB 15%.
Harga ARA: Rp6.000 + (Rp6.000 Γ 20%) = Rp7.200
Harga ARB: Rp6.000 β (Rp6.000 Γ 15%) = Rp5.100
Catatan tentang pembulatan dan fraksi harga
Hasil perhitungan tidak selalu jatuh tepat pada harga yang sah. Harga saham hanya bisa berada pada kelipatan tertentu, sesuai ketentuan fraksi harga BEI:
Harga di bawah Rp200: kelipatan Rp1
Harga Rp200 sampai di bawah Rp500: kelipatan Rp2
Harga Rp500 sampai di bawah Rp2.000: kelipatan Rp5
Harga Rp2.000 sampai di bawah Rp5.000: kelipatan Rp10
Harga Rp5.000 ke atas: kelipatan Rp25
Jika hasil hitungan tidak sesuai kelipatan yang berlaku, sistem akan menyesuaikannya ke harga sah terdekat yang masih berada di dalam batas. Karena itu, batas atas dan bawah yang tampil di aplikasi sekuritas bisa sedikit berbeda dari hasil perhitungan manual.
Perbedaan Auto Rejection, Trading Halt, dan Suspensi
Ketiga istilah ini sering tertukar, padahal mekanismenya berbeda.
βοΈ Auto Rejection β Berlaku pada satu saham. Perdagangan tetap berjalan; hanya order di luar batas harga yang ditolak sistem.
βΈοΈ Trading Halt β Penghentian sementara perdagangan di seluruh bursa ketika IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan, indikator yang mengukur pergerakan harga seluruh saham di BEI) turun tajam dalam satu hari. Ketentuan yang berlaku menetapkan penghentian sementara selama 30 menit jika IHSG turun lebih dari 8%, tambahan penghentian 30 menit jika penurunan mencapai lebih dari 15%, dan penghentian yang lebih panjang jika penurunan melampaui 20%.
π Suspensi β Penghentian perdagangan pada satu saham tertentu oleh bursa. Umumnya terjadi karena pergerakan harga yang tidak wajar, keterlambatan penyampaian laporan keuangan, kondisi keuangan bermasalah, atau menunggu penjelasan resmi dari emiten. Durasinya bisa satu hari bursa hingga bertahun-tahun.
Perbedaan praktisnya jelas: saat saham ARB, kamu masih bisa memasang order jual meski sulit terisi. Saat saham disuspensi, kamu tidak bisa bertransaksi sama sekali sampai suspensi dicabut. Suspensi berkepanjangan adalah salah satu risiko terbesar yang jarang diperhitungkan investor pemula.
Notifikasi dan rangkuman keterbukaan informasi emiten di Stockbit bisa membantumu mengetahui lebih cepat ketika ada pengumuman suspensi atau penjelasan resmi terkait pergerakan harga yang tidak wajar pada saham di portofoliomu.
Sekilas Perubahan Ketentuan ARB dari Waktu ke Waktu
Memahami riwayatnya membantu menjelaskan mengapa banyak artikel di internet memuat angka yang berbeda-beda.
π Sebelum Maret 2020: Auto rejection bersifat simetris. Batas atas dan bawah sama besar, yaitu 35%, 25%, dan 20% sesuai rentang harga.
π Maret 2020: Menghadapi gejolak pasar akibat pandemi, BEI memangkas batas ARB menjadi 7% untuk seluruh rentang harga, sementara ARA tetap. Sejak titik ini, auto rejection menjadi asimetris.
π Juni 2023: Sebagai tahap normalisasi, batas ARB dinaikkan dari 7% menjadi 15%.
π September 2023: BEI menerapkan auto rejection simetris kembali, dengan ARB mengikuti besaran ARA di masing-masing rentang harga.
π April 2025: BEI kembali menetapkan batas ARB seragam 15% untuk seluruh rentang harga. Ketentuan asimetris inilah yang berlaku saat ini.
Karena ketentuan ini terbukti bisa berubah mengikuti kondisi pasar, sebaiknya selalu verifikasi ke pengumuman resmi BEI di idx.co.id sebelum mengambil keputusan yang bergantung pada angka batas tersebut.
Usulan Perubahan yang Sedang Dibahas
Per pertengahan 2026, BEI sedang menjalankan proses Rule Making Rule β proses konsultasi kepada pelaku pasar sebelum sebuah aturan baru difinalisasi β terkait penyempurnaan mekanisme Papan Pemantauan Khusus.
Beberapa poin yang diusulkan:
π Penyesuaian batas auto rejection di papan tersebut, dari sebelumnya seragam 10% untuk saham di atas Rp10, menjadi beberapa kategori berdasarkan rentang harga yang lebih mendekati ketentuan pasar reguler.
π Penerapan Non-Cancellation Period (periode ketika order tidak bisa dibatalkan) pada tahapan perdagangan, sehingga urutan tahapannya menjadi Order Collection (pengumpulan order), Non-Cancellation Period, Random Closing (penutupan pada waktu acak untuk mencegah manipulasi harga di detik-detik akhir), dan Order Matching (pencocokan order beli dan jual).
π Penghapusan sebagian kriteria penempatan saham di Papan Pemantauan Khusus yang dinilai sudah tidak relevan.
Perlu ditegaskan bahwa poin-poin di atas masih berstatus usulan dan belum berlaku. Investor sebaiknya mengikuti pengumuman resmi BEI untuk mengetahui ketentuan final beserta tanggal efektifnya.
Kesalahpahaman yang Sering Terjadi Seputar ARA dan ARB
β "Saham ARA berarti bagus untuk dibeli." ARA hanya menunjukkan harga sudah naik maksimal hari itu. Ini tidak mengatakan apa pun tentang kualitas perusahaan atau arah harga besok.
β "Saham ARB berarti tidak bisa dijual sama sekali." Kamu tetap bisa memasang order jual di harga ARB. Yang menjadi kendala adalah ketersediaan pembeli, bukan larangan sistem.
β "Batas ARA dan ARB berubah mengikuti pergerakan harga intraday." Batas dihitung dari harga acuan yang sudah ditetapkan sebelum sesi dimulai dan tidak bergeser sepanjang hari.
β "ARA dan ARB besarnya sama." Sejak April 2025, keduanya berbeda. ARA mengikuti rentang harga, ARB seragam 15%.
β "Auto rejection melindungi investor dari kerugian." Mekanisme ini meredam kecepatan penurunan, bukan mencegahnya. Saham tetap bisa turun sangat dalam melalui akumulasi ARB berhari-hari.
β "Semua saham punya batas yang sama." Saham di Papan Pemantauan Khusus dan saham IPO hari pertama memiliki ketentuan tersendiri.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Saat Saham di Portofoliomu ARB
Situasi ini menekan secara emosional, dan keputusan yang diambil dalam kondisi panik jarang menjadi keputusan terbaik. Berikut beberapa langkah yang lebih terukur:
1οΈβ£ Cari tahu penyebabnya lebih dulu. Periksa apakah ada keterbukaan informasi resmi, pemberitaan material, atau justru penurunan yang terjadi di seluruh sektor atau pasar secara umum. Penurunan karena sentimen pasar berbeda sifatnya dari penurunan karena masalah di perusahaan.
2οΈβ£ Tinjau ulang alasan awal pembelian. Apakah alasanmu membeli saham itu masih berlaku? Jika alasan itu sudah gugur, itu informasi yang relevan. Jika alasan itu masih utuh dan penurunan bersifat sentimen, penilaiannya berbeda.
3οΈβ£ Hindari keputusan besar dalam hari yang sama. Tekanan waktu memperbesar kemungkinan salah menilai.
4οΈβ£ Evaluasi ukuran posisi. Jika satu saham yang ARB membuat seluruh portofoliomu goyah, masalahnya bukan hanya pada saham itu, melainkan pada konsentrasi portofolio β porsi dana yang terlalu besar ditaruh pada satu saham.
5οΈβ£ Catat kejadiannya untuk evaluasi. Apa yang kamu lewatkan sebelum membeli? Apakah ada tanda yang seharusnya terbaca? Catatan ini yang membuat pengalaman menjadi pembelajaran.
Diskusi antar investor di Stockbit Stream bisa menjadi sumber sudut pandang tambahan saat mencari tahu latar belakang sebuah pergerakan harga. Tetap perlakukan opini di sana sebagai bahan pertimbangan, bukan dasar keputusan, dan verifikasi ulang dengan keterbukaan informasi resmi.
FAQ Seputar ARA dan ARB Saham
Apa itu ARA dan ARB dalam saham?
ARA atau Auto Rejection Atas adalah batas maksimum kenaikan harga saham dalam satu hari bursa, sedangkan ARB atau Auto Rejection Bawah adalah batas maksimum penurunannya. Order dengan harga di luar batas tersebut akan otomatis ditolak oleh sistem perdagangan BEI.
Berapa persen batas ARA dan ARB saat ini?
Batas ARA adalah 35% untuk saham berharga Rp50 sampai Rp200, 25% untuk saham di atas Rp200 sampai Rp5.000, dan 20% untuk saham di atas Rp5.000. Batas ARB ditetapkan seragam 15% untuk seluruh rentang harga sejak 8 April 2025.
Kenapa batas ARA dan ARB berbeda?
Karena BEI saat ini menerapkan auto rejection asimetris, yaitu persentase batas atas dan batas bawah yang tidak sama. Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga stabilitas pasar dan membatasi kecepatan penurunan harga, sementara ruang kenaikan tetap mengikuti ketentuan berdasarkan rentang harga.
Apakah saham yang kena ARB masih bisa dijual?
Bisa. Auto rejection hanya menolak order jual yang dipasang di bawah harga ARB. Kamu tetap bisa memasang order jual pada harga ARB, meskipun terisi atau tidaknya bergantung pada ketersediaan pembeli di harga tersebut.
Berapa hari saham bisa ARB berturut-turut?
Tidak ada batas jumlah hari. Selama tekanan jual berlanjut, sebuah saham bisa menyentuh ARB beberapa hari berturut-turut. Penurunan 15% per hari selama tiga hari berturut-turut menghasilkan penurunan kumulatif sekitar 39% dari harga awal.
Apa bedanya ARB dengan suspensi saham?
Saat ARB, perdagangan saham tetap berjalan dan order pada harga batas masih bisa dimasukkan. Saat suspensi, perdagangan saham tersebut dihentikan sepenuhnya oleh bursa sehingga tidak ada transaksi yang bisa dilakukan sampai suspensi dicabut.
Bagaimana cara menghitung harga ARA?
Harga ARA dihitung dengan menambahkan harga acuan dengan persentase ARA yang berlaku. Untuk saham berharga Rp1.000 dengan batas ARA 25%, harga ARA-nya adalah Rp1.000 ditambah Rp250, yaitu Rp1.250. Hasilnya kemudian disesuaikan dengan ketentuan fraksi harga bila diperlukan.
Apakah saham IPO punya batas ARA yang berbeda?
Ya. Saham yang diperdagangkan pertama kali setelah IPO memiliki batasan auto rejection dua kali lipat dari persentase normal pada hari perdagangan perdananya, dengan harga penawaran umum (harga jual saham saat pertama kali ditawarkan ke publik) sebagai harga acuan.
Apa itu auto rejection simetris dan asimetris?
Auto rejection simetris berarti persentase batas atas dan batas bawah sama besar. Auto rejection asimetris berarti keduanya berbeda. BEI pernah menerapkan keduanya di periode yang berbeda, dan ketentuan yang berlaku saat ini bersifat asimetris.
Apakah batas ARA dan ARB berlaku sama di semua papan?
Tidak. Saham di Papan Pemantauan Khusus dengan mekanisme full call auction memiliki ketentuan tersendiri, yaitu batas Rp1 untuk saham berharga Rp1 sampai Rp10 dan 10% untuk saham di atas Rp10.
Apakah ARA berarti saham tersebut layak dibeli?
Tidak. ARA hanya menunjukkan bahwa harga telah naik hingga batas maksimum yang diizinkan hari itu. Kelayakan sebuah saham perlu dinilai dari kinerja keuangan, prospek bisnis, dan valuasinya, bukan dari pergerakan harga harian.
Di mana bisa melihat batas ARA dan ARB sebuah saham?
Batas atas dan bawah harga umumnya ditampilkan pada halaman detail saham di aplikasi sekuritas, termasuk di Stockbit. Ketentuan resminya bisa dicek pada peraturan dan pengumuman di situs Bursa Efek Indonesia.
Konten ini ditulis oleh PT Stockbit Karya Indonesia (βStockbitβ), perusahaan media ekonomi dan keuangan yang menghadirkan berita, analisis, dan insight tentang dunia bisnis, investasi, dan kebijakan ekonomi, khususnya yang terkait Pasar Modal.
Selanjutnya, semua keputusan investasi nasabah mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas investasi tersebut. Seluruh risiko investasi bukan merupakan tanggung jawab Stockbit melainkan menjadi tanggung jawab masingβmasing nasabah.
Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisis terbaru langsung di aplikasi Stockbit.
