Cara Memilih Saham Pertama: Screening dari Ribuan Emiten / by Stockbit

Screening saham adalah proses menyaring seluruh emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia menggunakan kriteria terukur, seperti likuiditas, kapitalisasi pasar, profitabilitas, dan rasio valuasi, sehingga daftar ratusan saham menyusut menjadi beberapa kandidat yang layak dianalisis lebih dalam. Bagi investor pemula, cara memilih saham pertama yang paling efektif adalah melalui tiga tahap berurutan: menyaring secara kuantitatif dengan stock screener, memverifikasi kualitas bisnisnya secara manual, lalu memilih satu emiten yang bisnisnya benar-benar Anda pahami.

Per pertengahan 2026, jumlah perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia sudah melewati angka 960 emiten. Memilih satu saham pertama dari daftar sebesar itu tanpa metode penyaringan sama saja dengan menebak. Artikel ini membedah kerangka screening yang bisa langsung dipraktikkan.

🎯 1. Tetapkan Tujuan dan Horizon Investasi Terlebih Dahulu

Kriteria screening yang tepat sepenuhnya bergantung pada tujuan Anda. Investor yang mencari pertumbuhan jangka panjang akan menyaring dengan filter berbeda dibanding investor yang mengincar arus kas dividen.

Tentukan dulu posisi Anda di tiga pertanyaan berikut:

  • ⏳ Berapa lama dana ini tidak akan dipakai? Dana yang dibutuhkan dalam waktu kurang dari tiga tahun sebaiknya tidak masuk ke saham. Horizon di atas lima tahun memberi ruang bagi bisnis untuk bertumbuh dan bagi harga untuk pulih dari koreksi.

  • πŸ’΅ Apa yang Anda cari, pertumbuhan nilai atau pendapatan rutin? Pencari pertumbuhan akan memprioritaskan filter pertumbuhan laba dan pendapatan. Pencari dividen akan memprioritaskan dividend yield, konsistensi pembayaran, dan payout ratio yang sehat.

  • πŸ“‰ Seberapa besar penurunan yang sanggup Anda tahan? Jika penurunan 20% membuat Anda tidak bisa tidur, kriteria screening Anda harus condong ke emiten berkapitalisasi besar dan berbisnis defensif.

Untuk saham pertama, jawaban paling aman biasanya mengarah ke emiten besar, likuid, dan berlaba konsisten. Bukan karena potensinya paling tinggi, tetapi karena risiko kesalahan fatalnya paling rendah saat Anda masih belajar membaca laporan keuangan.

🚦 2. Filter Pertama: Likuiditas dan Papan Pencatatan

Sebelum menyentuh rasio keuangan, buang dulu emiten yang secara struktural berisiko tinggi bagi pemula. Ini adalah filter yang menyelamatkan paling banyak kerugian, tetapi paling sering dilewati.

  • πŸ’§ Likuiditas transaksi. Saham dengan nilai transaksi harian rendah sulit dijual saat Anda butuh keluar. Untuk pemula, batasi pada saham dengan nilai transaksi harian rata-rata yang wajar, misalnya di atas Rp5 miliar per hari.

  • πŸ“‹ Papan pencatatan. BEI membagi emiten ke dalam beberapa papan, yaitu Papan Utama, Papan Pengembangan, Papan Akselerasi, Papan Ekonomi Baru, dan Papan Pemantauan Khusus. Emiten di Papan Pemantauan Khusus berada dalam pengawasan karena memenuhi kriteria tertentu seperti kinerja bermasalah atau likuiditas rendah, dan tidak cocok sebagai saham pertama.

  • ⚠️ Notasi khusus. BEI menyematkan kode notasi khusus di samping kode saham untuk menandai kondisi tertentu, misalnya ekuitas negatif, opini disclaimer dari auditor, atau permohonan PKPU. Kehadiran notasi khusus adalah sinyal untuk menunda, bukan tantangan untuk ditaklukkan.

  • πŸ•°οΈ Rekam jejak listing. Emiten yang baru saja IPO belum punya cukup riwayat kinerja sebagai perusahaan terbuka. Untuk saham pertama, prioritaskan emiten yang sudah tercatat minimal tiga tahun.

Filter tahap ini saja biasanya sudah memangkas daftar dari ratusan emiten menjadi sekitar seratusan kandidat.

πŸ“Š 3. Filter Kedua: Kriteria Fundamental Dasar

Setelah lolos saringan struktural, gunakan kriteria kuantitatif untuk menilai kesehatan bisnis. Berikut kriteria yang relatif konservatif dan cocok untuk penyaringan awal:

  • 🏒 Kapitalisasi pasar minimal Rp10 triliun. Ukuran besar tidak menjamin keuntungan, tetapi umumnya berkorelasi dengan likuiditas yang baik, cakupan riset analis yang luas, dan keterbukaan informasi yang lebih rapi.

  • βœ… Laba bersih positif selama tiga sampai lima tahun terakhir. Konsistensi lebih penting daripada besarnya laba. Emiten yang untung setiap tahun menunjukkan model bisnis yang teruji di berbagai kondisi ekonomi.

  • πŸ“ˆ Return on Equity (ROE) di atas 10%. ROE mengukur seberapa efisien perusahaan menghasilkan laba dari modal pemegang saham. Angka konsisten di atas 15% biasanya menandakan keunggulan kompetitif.

  • βš–οΈ Debt to Equity Ratio (DER) di bawah 1,5 kali. Utang tidak selalu buruk, tetapi utang berlebih membuat perusahaan rapuh saat suku bunga naik atau permintaan turun. Perlu dicatat, sektor perbankan dan pembiayaan memiliki karakter DER yang secara alami sangat tinggi sehingga tidak bisa dibandingkan langsung dengan sektor lain.

  • πŸ’° Arus kas operasi positif. Laba di laporan laba rugi bisa dipengaruhi pencatatan akuntansi, sementara arus kas operasi menunjukkan uang yang benar-benar masuk. Laba besar tetapi arus kas operasi negatif adalah tanda tanya besar.

  • 🏷️ PER dan PBV dalam rentang wajar dibanding rata-rata industrinya. Valuasi hanya bermakna jika dibandingkan dengan emiten sejenis, bukan dengan seluruh pasar.

Anda tidak harus menerapkan semua kriteria sekaligus. Mulailah dengan tiga filter (kapitalisasi, laba konsisten, ROE), lihat berapa emiten yang lolos, lalu perketat bila hasilnya masih terlalu banyak.

πŸ› οΈ 4. Menggunakan Stock Screener secara Efektif

Stock screener adalah alat yang menjalankan kriteria penyaringan Anda ke seluruh emiten sekaligus, sehingga pekerjaan yang secara manual butuh berhari-hari selesai dalam hitungan detik.

Alur kerja yang efisien:

  • 1️⃣ Masukkan filter struktural dulu, yaitu kapitalisasi pasar dan likuiditas, untuk memangkas populasi secara drastis.

  • 2️⃣ Tambahkan filter profitabilitas, misalnya ROE dan laba bersih positif, untuk menyisakan emiten yang sehat secara operasional.

  • 3️⃣ Terakhir baru filter valuasi, seperti PER dan PBV. Urutan ini penting agar Anda tidak berakhir dengan daftar berisi perusahaan murah karena memang bermasalah, fenomena yang dikenal sebagai value trap.

  • 4️⃣ Targetkan 10 sampai 20 emiten tersisa. Jika hasilnya nol, longgarkan satu kriteria. Jika hasilnya ratusan, perketat.

Di aplikasi Stockbit, fitur screener memungkinkan Anda menyusun kombinasi filter fundamental dan teknikal, lalu menyimpannya agar bisa dijalankan ulang setiap kuartal ketika laporan keuangan baru terbit. Kandidat yang lolos bisa langsung dimasukkan ke watchlist untuk dipantau tanpa harus terburu-buru membeli.

🧠 5. Filter Ketiga: Pahami Bisnisnya, Bukan Hanya Angkanya

Screener hanya menyaring angka masa lalu. Tahap ini menyaring pemahaman Anda terhadap masa depan bisnis tersebut, dan tidak bisa diotomatisasi.

Untuk setiap kandidat yang tersisa, jawab pertanyaan berikut dengan bahasa sederhana:

  • 🏭 Perusahaan ini menjual apa dan kepada siapa? Jika Anda tidak bisa menjelaskan sumber pendapatannya dalam dua kalimat kepada orang awam, kandidat tersebut belum layak jadi saham pertama Anda.

  • πŸ›‘οΈ Apa yang membuat pesaing sulit merebut pelanggannya? Bisa berupa merek yang kuat, jaringan distribusi luas, biaya produksi rendah, atau lisensi yang sulit didapat.

  • πŸ“‰ Apa yang bisa membuat bisnis ini hancur? Ketergantungan pada satu pelanggan besar, harga komoditas, regulasi, atau pergantian teknologi adalah risiko yang perlu dikenali sejak awal.

  • πŸ‘₯ Siapa pengendalinya dan bagaimana rekam jejaknya? Cek struktur pemegang saham dan riwayat aksi korporasi di laporan tahunan.

Prinsip circle of competence berlaku di sini. Investor yang bekerja di industri perbankan punya keunggulan menilai emiten bank. Yang berbelanja setiap minggu di ritel modern punya intuisi lebih baik soal emiten konsumer. Manfaatkan pengetahuan yang sudah Anda miliki.

πŸ”Ž 6. Verifikasi Melalui Laporan Keuangan dan Riset

Setelah menyisakan tiga sampai lima kandidat, lakukan pemeriksaan silang agar tidak terjebak angka yang menyesatkan:

  • πŸ“„ Buka laporan keuangan kuartalan terbaru. Fokus pada tiga hal: tren pendapatan, tren laba bersih, dan arus kas operasi. Bandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, bukan dengan kuartal sebelumnya, agar terhindar dari distorsi musiman.

  • 🧾 Periksa apakah laba berasal dari kegiatan usaha utama. Lonjakan laba yang bersumber dari penjualan aset atau keuntungan kurs bersifat satu kali dan tidak akan berulang.

  • πŸ—‚οΈ Baca ringkasan laporan tahunan. Bagian analisis manajemen sering memuat penjelasan tentang tantangan dan rencana ke depan yang tidak terlihat di angka.

  • πŸ€– Manfaatkan ringkasan berbasis AI. Fitur AI Reports di Stockbit membantu memahami inti laporan keuangan emiten dengan lebih cepat, terutama bagi pemula yang belum terbiasa membaca dokumen keuangan berpuluh halaman. Gunakan sebagai titik awal pemahaman, lalu verifikasi ke dokumen aslinya.

  • πŸ’¬ Simak diskusi investor lain. Kolom Stream memungkinkan Anda melihat sudut pandang berbeda atas emiten yang sama. Perlakukan sebagai bahan pertimbangan, bukan sebagai instruksi beli.

πŸ“ 7. Contoh Kriteria Screening Siap Pakai untuk Saham Pertama

Berikut satu set kriteria konservatif yang bisa langsung Anda coba di screener sebagai titik awal, lalu disesuaikan dengan preferensi masing-masing:

  • 🏒 Kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun

  • πŸ’§ Nilai transaksi harian rata-rata di atas Rp5 miliar

  • βœ… Laba bersih positif dalam lima tahun terakhir

  • πŸ“ˆ ROE di atas 12%

  • βš–οΈ DER di bawah 1,5 kali (kecuali sektor keuangan)

  • πŸ’° Arus kas operasi positif dalam tiga tahun terakhir

  • 🚫 Tidak berada di Papan Pemantauan Khusus dan tanpa notasi khusus

Untuk investor yang mengincar dividen, tambahkan filter dividend yield di atas 3% dan riwayat pembagian dividen minimal tiga tahun berturut-turut. Untuk yang mengincar pertumbuhan, ganti filter valuasi dengan pertumbuhan pendapatan rata-rata di atas 10% per tahun.

❌ 8. Kesalahan Umum Pemula Saat Memilih Saham Pertama

Beberapa pola yang berulang kali membuat investor baru merugi di transaksi pertamanya:

  • πŸ“’ Membeli karena rekomendasi tanpa verifikasi. Rekomendasi dari media sosial jarang disertai konteks harga masuk, target, dan batas risiko. Ketika Anda ikut membeli, posisi orang yang merekomendasikan bisa jadi sudah berbeda.

  • πŸ’Έ Memilih saham hanya karena harganya murah per lembar. Saham Rp50 tidak lebih murah dari saham Rp10.000. Yang menentukan mahal atau murah adalah valuasi terhadap laba dan aset, bukan nominal harga.

  • 🎒 Mengejar saham yang sedang naik kencang. Kenaikan tajam tanpa dukungan kinerja sering diikuti penurunan yang sama tajamnya, khususnya pada emiten dengan likuiditas rendah.

  • 🧺 Langsung membeli banyak saham sekaligus. Diversifikasi berguna, tetapi memantau delapan emiten sekaligus di awal justru membuat Anda tidak memahami satu pun secara mendalam.

  • πŸ’° Menggunakan dana yang dibutuhkan dalam waktu dekat. Tekanan kebutuhan uang memaksa Anda menjual di waktu yang salah.

  • πŸ” Berhenti melakukan evaluasi setelah membeli. Screening bukan aktivitas sekali jalan. Kondisi bisnis berubah setiap kuartal.

πŸš€ 9. Setelah Memilih: Langkah Praktis Masuk ke Pasar

Kandidat sudah terpilih, tetapi eksekusi juga menentukan hasil:

  • πŸͺ™ Mulai dengan nominal kecil. Satu sampai dua lot sudah cukup untuk membangun pengalaman emosional menghadapi fluktuasi harga.

  • πŸ“† Pertimbangkan pembelian bertahap. Metode Dollar Cost Averaging menghindarkan Anda dari beban menebak waktu masuk terbaik.

  • 🎯 Catat alasan membeli. Tuliskan tiga alasan Anda memilih emiten tersebut. Catatan ini menjadi acuan objektif saat harga bergerak dan emosi mulai memengaruhi keputusan.

  • πŸ”„ Jadwalkan evaluasi kuartalan. Periksa apakah alasan awal Anda masih berlaku setiap kali laporan keuangan baru terbit.

  • πŸ“‰ Tentukan sikap sejak awal jika harga turun. Putuskan apakah penurunan akan Anda tanggapi dengan menambah posisi, menahan, atau keluar, dan atas dasar apa.

FAQ Seputar Cara Memilih Saham Pertama

  • Apa itu screening saham?
    Screening saham adalah proses menyaring seluruh emiten di bursa menggunakan kriteria terukur seperti kapitalisasi pasar, likuiditas, profitabilitas, dan rasio valuasi, agar tersisa sejumlah kecil kandidat yang layak dianalisis lebih dalam.

  • Berapa jumlah emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia?
    Per pertengahan 2026, jumlah perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia sudah melewati 960 emiten, dan BEI menargetkan angka tersebut mencapai sekitar 1.100 perusahaan pada 2030.

  • Saham apa yang cocok untuk pembelian pertama?
    Tidak ada satu jawaban universal, tetapi profil yang umumnya paling sesuai untuk pemula adalah emiten berkapitalisasi besar, likuid, berlaba konsisten, dan bergerak di sektor yang bisnisnya mudah dipahami sehari-hari.

  • Berapa banyak kriteria screening yang sebaiknya digunakan?
    Mulailah dengan tiga sampai lima kriteria. Terlalu banyak filter sering menghasilkan daftar kosong, sementara terlalu sedikit menyisakan ratusan emiten yang tidak praktis dianalisis satu per satu.

  • Apakah saham dengan harga per lembar rendah lebih menguntungkan?
    Tidak. Nominal harga per lembar tidak mencerminkan mahal atau murahnya sebuah saham. Yang menentukan adalah valuasi terhadap laba, aset, dan prospek bisnisnya.

  • Apa itu Papan Pemantauan Khusus dan mengapa perlu dihindari pemula?
    Papan Pemantauan Khusus adalah papan pencatatan BEI untuk emiten yang memenuhi kriteria pengawasan tertentu, misalnya terkait kinerja atau likuiditas. Saham di papan ini memiliki risiko lebih tinggi sehingga kurang sesuai sebagai pilihan pertama.

  • Berapa modal minimal untuk membeli saham pertama?
    Transaksi minimal di BEI adalah satu lot atau 100 lembar, sehingga modal yang dibutuhkan bergantung pada harga sahamnya. Banyak emiten likuid yang bisa dibeli dengan modal di bawah Rp500.000 per lot.

  • Berapa sering screening perlu diulang?
    Idealnya setiap kuartal, mengikuti terbitnya laporan keuangan emiten, agar kandidat dalam watchlist Anda selalu mencerminkan kondisi terkini.


Konten ini ditulis oleh PT Stockbit Karya Indonesia (β€œStockbit”), perusahaan media ekonomi dan keuangan yang menghadirkan berita, analisis, dan insight tentang dunia bisnis, investasi, dan kebijakan ekonomi, khususnya yang terkait Pasar Modal.

Selanjutnya, semua keputusan investasi nasabah mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas investasi tersebut. Seluruh risiko investasi bukan merupakan tanggung jawab Stockbit melainkan menjadi tanggung jawab masing–masing nasabah.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisis terbaru langsung di aplikasi Stockbit.