AKR Corporindo ($AKRA) pada Senin (26/10) mengadakan earnings call untuk membahas kinerja 9M26, dengan highlights kinerja yang telah kami tuliskan melalui link berikut [https://stockbit.com/post/36932905]. Berikut catatan penting kami:
Seasonality Jadi Penopang Volume Segmen Perdagangan & Distribusi pada 4Q26 — Manajemen AKRA optimistis terhadap volume penjualan BBM pada 4Q26, seiring pola seasonality klien pertambangan yang meningkatkan produksi untuk mengejar kuota RKAB pada akhir tahun. Manajemen juga menjelaskan bahwa harga komoditas yang tinggi — terutama batu bara — mendorong penambang untuk membuka pit baru, sehingga volume overburden dan konsumsi BBM diharapkan ikut meningkat. Dari sisi suplai, AKRA telah mengamankan pasokan BBM hingga akhir 2026 dengan harga jual yang mengikuti harga pasar.
JIIPE: Guidance Penjualan Lahan Tidak Dinaikkan — Manajemen merasa cukup dengan penjualan lahan 93 ha selama 9M26 dan membuka kemungkinan tambahan penjualan sekitar 3–5 ha pada 4Q26. Meski realisasi telah memasuki target 90–100 ha sejak 3Q26, manajemen tetap mempertahankan target tersebut, yang kami nilai mencerminkan sikap konservatif.
Utilitas JIIPE: Guidance Pendapatan Tetap ~Rp1 T — Kami menilai manajemen juga konservatif dalam mempertahankan target pendapatan utilitas selama 2026 di sekitar Rp1 T, mengingat aktivitas tenant membaik seiring peningkatan utilisasi smelter Freeport pada September 2026 setelah tambang Grasberg kembali berproduksi sejak Juli dan Xinyi Glass memulai lini produksi kedua. Sebagai konteks, pendapatan utilitas pada 4Q26 hanya perlu mencapai Rp268 M untuk memenuhi target tersebut, sementara realisasi 3Q26 mencapai Rp305 M. Manajemen memperkirakan bahwa margin laba kotor utilitas berada di kisaran 10–15% pada tahap awal dan berpotensi naik seiring economic of scale.
Dividen: Peluang Investasi Baru Berpotensi Menahan Payout — Manajemen kini lebih konservatif terhadap dividen seiring adanya peluang investasi baru yang belum dianggarkan pada awal tahun dan berpotensi diumumkan sebelum akhir 2026. Meski demikian, manajemen menyebut dividen final kemungkinan besar lebih tinggi dari dividen final tahun buku 2025 yang mencapai Rp50/saham, jika tidak ada dividen interim kedua.
Stockbit’s View: Seasonality Segmen Perdagangan & Distribusi Topang 4Q26, Laba 2026F Berpotensi Lampaui Konsensus
Kami mempertahankan pandangan positif terhadap AKRA. Estimasi konsensus terhadap laba bersih AKRA pada 2026F di Rp2,78 T hanya membutuhkan laba bersih 4Q26 sebesar Rp571 M, di bawah realisasi pada 3Q26 yang mencapai Rp780 M. Meski penjualan lahan 4Q26 berpotensi hanya bertambah sekitar 3–5 ha (vs. 3Q26: 35 ha, 4Q25: 62 ha), kami memperkirakan seasonality segmen perdagangan dan distribusi dapat menopang laba bersih 4Q26 ke kisaran Rp660–780 M, sehingga laba bersih AKRA pada 2026F dapat melampaui konsensus. Dengan capaian tersebut, target manajemen untuk melanjutkan laju pertumbuhan laba bersih saat ini, yang berdasarkan perhitungan kami setara +16–21% YoY (2026F: Rp2,87–2,99 T), dapat tercapai.
Dengan asumsi laba bersih 2026F di +20% YoY dan dividend payout ratio sekitar 70–80% (vs. DPR 2025: ~80%), AKRA berpotensi membagikan dividen final sekitar Rp54–68/saham di luar dividen interim Rp50/saham pada Agustus 2026. Dividen final tersebut mengimplikasikan dividend yield sekitar 3,8–4,9% pada harga Rp1.400/saham.
Key upside: 1) pertumbuhan volume dan margin segmen perdagangan dan distribusi pada 4Q26 yang lebih tinggi dari seasonality; 2) tambahan penjualan lahan JIIPE di atas kisaran 3–5 ha pada 4Q26; dan 3) pertumbuhan pendapatan utilitas yang lebih tinggi dari ekspektasi seiring ramp–up aktivitas smelter Freeport dan beroperasinya lini kedua Xinyi Glass.
Faktor risiko: 1) ketidakpastian suplai BBM akibat kendala operasional, ketegangan geopolitik, maupun perubahan regulasi; 2) kembali melebarnya rugi JV SPBU bersama BP, PT Aneka Petroindo Raya, serta berlanjutnya penyisihan kerugian piutang usaha pada 4Q26; dan 3) dividend payout ratio yang lebih rendah seiring kebutuhan pendanaan investasi baru yang berpotensi diumumkan sebelum akhir 2026.
Ditulis oleh Theodorus Melvin, Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.
Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.
