
Daily Market Performance 🚀
IHSG | Foreign Flow | Kurs USD/IDR | Gold |
| 5.057,1 -0,80% | -Rp140,3 miliar | 18.127 -0,03% | 3.984 -1,18% |
Oil | Coal | CPO | Nickel |
| 117,6 +2,32% | 153,0 +1,76% | 4.681 +1,41% | 15.536 -0,44% |
👋 Stockbitor!
Cikarang Listrindo ($POWR) mencatat laba bersih US$34 juta pada 3Q26 (+72% QoQ, +91% YoY), sehingga laba bersih selama 9M26 mencapai US$71 juta (+24% YoY) dan setara 79% estimasi 2026F Stockbit. Kami menilai capaian ini sejalan dengan ekspektasi kami, mengingat laba bersih pada 3Q26 ditopang pendapatan klaim asuransi sebesar US$7,4 juta yang telah kami perkirakan sebelumnya. POWR juga telah mengadakan earnings call pada Jumat (30/10). Berikut catatan penting kami:
Data Center: Kenaikan Guidance Ditopang Tenant Existing — Manajemen POWR menaikkan proyeksi kapasitas terkontrak untuk data center menjadi 393/522/580 MVA pada 2026F–2028F (vs. sebelumnya: 303/385/447 MVA) serta hingga 750 MVA pada 2030F. Hal ini terjadi seiring capaian kapasitas terkontrak data center sebesar 307 MVA pada 9M26, yang telah melampaui proyeksi akhir 2026F sebelumnya di 303 MVA. Manajemen menyebut kenaikan guidance tersebut berasal dari tenant existing, sembari menekankan bahwa “pertumbuhan ini belum pernah kami alami sebelumnya.” Meski demikian, manajemen memperkirakan kontribusi data center terhadap konsumsi listrik pelanggan industri baru akan naik ke ~13% pada akhir 2026 (vs. 9M26: 12%) karena utilisasi dari tenant data center masih akan di bawah 50% seiring tenant menambah kapasitas lebih dahulu sebelum konsumsinya naik.
PLN & Diesel: Volume PLN Tertahan, Beban Diesel Diharapkan Mereda — Manajemen memberikan guidance volume PLN dalam jangka pendek akan berada di level run–rate saat ini di ~174 GWh per kuartal, seiring PLN yang masih menyesuaikan penyerapan listrik dengan ketersediaan gas dengan skema HGBT. Selain itu, kenaikan beban diesel menjadi US$4 juta pada 3Q26 (vs. 2Q26: US$0,6 juta) diatribusikan oleh manajemen kepada maintenance serta gangguan pasokan gas dari Perusahaan Gas Negara ($PGAS), di mana manajemen berharap tidak ada gangguan lanjutan hingga akhir 2026.
MM2100: Ekspansi ~US$240 Juta Didanai Kas Internal — Manajemen menyebut bahwa capex ekspansi PLTG MM2100 sebesar ~US$240 juta akan didanai secara internal dan tersebar dalam 3 tahun, sebelum beroperasi komersial pada awal 2030. Dengan demikian, total capex mencapai ~US$120 juta per tahun, yang terdiri dari ~US$80 juta untuk pembangunan pembangkit baru dan ~US$40 juta untuk sustaining capex. Dari sisi payout, manajemen akan menyeimbangkan pembagian dividen dengan kebutuhan ekspansi tersebut, dengan tetap berkomitmen pada kebijakan dividend payout ratio setidaknya 60%.
Key Takeaway
Pasar merespons positif kinerja 3Q26/9M26 POWR ini — yang sesuai dengan ekspektasi kami — dengan harga saham POWR naik +5,5% pada Jumat (30/10), di saat IHSG justru melemah -0,8%.
Meski laba usaha POWR berpotensi melampaui estimasi 2026F kami di level US$133 juta seiring realisasi 9M26 telah mencapai 81% estimasi kami, kami bersikap konservatif dengan mempertahankan estimasi laba bersih POWR pada 2026F di US$90 juta, seiring: 1) tren pelemahan rupiah yang dapat menaikkan rugi selisih kurs dan beban pajak tangguhan di bawah laba usaha; 2) outlook volume PLN yang di bawah ekspektasi kami; dan 3) masih adanya potensi gangguan pasokan gas yang dapat meningkatkan penggunaan diesel.
Keputusan manajemen untuk mengalokasikan capex secara merata sepanjang 2027F–2029F — lebih awal dari asumsi kami sebelumnya bahwa capex baru dimulai pada 2028F — membuat kami mengantisipasi dividend payout ratio pada tahun buku 2027 akan lebih rendah dari asumsi kami di ~95%. Untuk tahun buku 2026, kami masih optimistis payout ratio dapat bertahan di ~95% karena capex untuk ekspansi baru mulai berjalan pada 2027F dan total posisi kas POWR masih berada di level US$345 juta per 9M26. POWR sendiri memiliki rekam jejak konsisten membagikan dividen interim pada periode November–Desember dalam 7 tahun terakhir. Mengasumsikan dividen interim sekitar 35–39% laba bersih 9M26 dan kurs rupiah terhadap dolar AS di 18.000, kami memperkirakan POWR dapat membagikan dividen interim sekitar Rp27–31/saham, mencerminkan dividend yield sekitar 2,9–3,2% per penutupan Jumat (30/10) di Rp960/saham.
📈 AMMN: Laba Bersih +11% QoQ pada 3Q26, Kinerja 9M26 Sejalan dengan Ekspektasi
- $AMMN: Amman Mineral Internasional mencatat laba bersih US$374 juta pada 3Q26 (+11% QoQ, 3Q25: rugi US$30 juta) sehingga laba bersih selama 9M26 mencapai US$871 juta (vs. 9M25: rugi US$179 juta) dan setara 86%/88% estimasi 2026F dari Stockbit/konsensus. Kami menilai hasil ini relatif positif, meski kami menilai kinerja AMMN selama 9M26 sejalan dengan ekspektasi mengingat laba bersih pada 4Q26 yang diperkirakan akan tertahan oleh tren harga komoditas yang lebih rendah. Kami akan memantau outlook kenaikan volume produksi periode 4Q26 pada earnings call mendatang, yang berpotensi menahan dampak penurunan harga tersebut. Secara kuartalan, margin laba kotor naik ke 58,2% pada 3Q26 (vs. 2Q26: 50%) ditopang oleh 2 faktor, yakni: 1) bea keluar dan royalti yang turun sebesar US$64 juta, setelah seluruh penjualan berasal dari katoda tembaga dan emas batangan yang tidak lagi dikenakan bea keluar konsentrat dan memiliki tarif royalti tembaga yang lebih rendah; dan 2) cash cost yang turun sebesar US$48 juta, di saat kontribusi produk smelter (perak dan asam sulfat) naik sebesar US$24 juta seiring smelter yang beroperasi pada tingkat 98% kapasitas desain. Secara operasional, produksi katoda tembaga naik +156% QoQ menjadi 54.027 ton dan emas batangan naik +213% QoQ menjadi 174.766 oz, sehingga realisasi produksi selama 9M26 mencapai 79%/85% guidance 2026. Di sisi lain, produksi konsentrat naik +30% QoQ menjadi 233.406 dmt pada 3Q26, di saat produksi emas dalam konsentrat justru turun -7% QoQ menjadi 194.983 oz seiring kadar emas yang turun ke 0,58 g/t (vs. 2Q26: 0,75 g/t).
- $TINS: Timah mencatat laba bersih Rp1,4 T pada 3Q26 (+16% QoQ, +365% YoY), sehingga laba bersih selama 9M26 mencapai Rp4,1 T (+584% YoY) dan melampaui ekspektasi karena setara 94% estimasi 2026F konsensus. Laba bersih selama 9M26 ditopang oleh kenaikan margin, di saat pendapatan sebesar Rp16,1 T baru setara 74% estimasi 2026F konsensus. Secara kuartalan, harga jual rata–rata (ASP) logam timah pada 3Q26 naik +6% QoQ menjadi ~US$53.524/ton, sementara cash cost turun -2% QoQ menjadi ~US$21.990/ton berdasarkan perhitungan kami, sehingga margin laba kotor pada 3Q26 naik ke level 43,4% (vs. 2Q26: 39,3%). Volume penjualan juga naik +7% QoQ menjadi 5.320 ton pada 3Q26, melampaui guidance manajemen yang memperkirakan volume penjualan pada 3Q26 kurang lebih sama dengan realisasi 2Q26 di 4.975 ton. Meski demikian, laba bersih pada 3Q26 hanya naik +16% QoQ di saat laba usaha naik +35% QoQ menjadi Rp2,1 T, seiring tarif pajak efektif yang naik ke level 33,1% (vs. 2Q26: 24,6%). Adapun beban pajak selama 9M26 mencakup penyesuaian pajak tahun lalu sebesar Rp197 M, ditambah beban bunga pajak sebesar Rp80 M pada pos beban lain–lain, yang kami perkirakan dibukukan pada 3Q26.
- $PGAS: Perusahaan Gas Negara mencatat laba bersih US$91 juta pada 3Q26 (-19% QoQ, -3% YoY), sehingga laba bersih 9M26 mencapai US$293 juta (+23% YoY) dan melampaui ekspektasi karena setara 98% estimasi 2026F konsensus. Hingga 9M26, PGAS belum membukukan tambahan provisi atas putusan parsial arbitrase Gunvor senilai US$128,6 juta, selain provisi yang telah dibukukan sebesar US$72 juta. Secara kuartalan, spread gas trading turun menjadi US$1,72/mmbtu (vs. 2Q26: US$2,09/mmbtu) di saat volume gas trading turun -3% QoQ menjadi 839 bbtud, sehingga laba segmen ‘trading & transmission’ turun -23% QoQ menjadi US$119 juta. Penurunan spread ini bersamaan dengan implementasi harga LNG untuk industri menjadi US$13/mmbtu, yang berlaku pada 2H26. Meski demikian, penurunan laba bersih tertahan oleh absennya provisi terkait pajak dan PPN Blok South Sesulu sebesar US$16 juta serta rugi kurs US$15 juta yang menekan laba 2Q26. Secara kumulatif, kenaikan laba bersih selama 9M26 ditopang spread gas trading yang naik ke US$1,94/mmbtu (vs. 9M25: US$1,86/mmbtu) dan laba segmen ‘exploration & production’ yang naik menjadi US$51 juta (vs. 9M25: US$3 juta), di saat volume gas trading relatif stabil di 827 bbtud (-1% YoY). Selain itu, tarif pajak efektif turun menjadi 18,4% (vs. 9M25: 21,5%), sehingga capaian laba bersih jauh di atas capaian pendapatan yang baru setara 74% estimasi 2026F konsensus.
- $ANTM: Eramet dalam laporan operasional periode 3Q26 menyebut bahwa PT Weda Bay Nickel telah meningkatkan target penjualan bijih nikel ke pihak eksternal selama 2026 dari 9 juta wmt menjadi sekitar 23–26 juta wmt, menyusul persetujuan revisi RKAB pada September 2026. PT Weda Bay Nickel pun kini telah kembali beroperasi, setelah aktivitas penambangannya sempat dihentikan selama lebih dari 4 bulan akibat habisnya kuota produksi. Penjualan eksternal PT Weda Bay Nickel pada 3Q26 sendiri hanya mencapai 1,6 juta wmt (-83% YoY), sehingga menekan laba bersih Antam pada periode tersebut. Penjualan PT Weda Bay Nickel diperkirakan akan meningkat pada periode November–Desember 2026, dengan komposisi yang didominasi oleh limonit. Sebagai konteks, ANTM memiliki 10% saham di PT Weda Bay Nickel, berdasarkan laporan keuangan 9M26.
- $INCO: Vale Indonesia mencatat laba bersih US$43 juta pada 3Q26 (-30% QoQ, +57% YoY), sehingga laba bersih selama 9M26 mencapai US$147 juta (+181% YoY) dan di bawah ekspektasi karena hanya setara 66% estimasi 2026F konsensus. Secara kuartalan, harga rata–rata penjualan (ASP) nickel matte turun -5% QoQ menjadi US$14.053/ton mengikuti harga nikel LME, sementara cash cost naik +4% QoQ menjadi US$10.404/ton seiring kenaikan harga high sulfur fuel oil dan batu bara, sehingga kembali di atas target manajemen di US$10.000/ton. Selain itu, pendapatan bijih nikel turun -18% QoQ menjadi US$70 juta di saat volume penjualan justru naik +10% QoQ menjadi 1,73 juta wmt, sehingga harga jual bijih turun ke US$40/wmt (vs. 2Q26: US$54/wmt) seiring porsi blok Pomalaa — yang kami asumsikan lebih banyak berisi limonit — naik menjadi 76% dari total volume (vs. 2Q26: 32%).
- $KLBF: Kalbe Farma mencatat laba bersih Rp817 M pada 3Q26 (+25% YoY, -8% QoQ), sehingga laba bersih selama 9M26 mencapai Rp2,7 T (+4% YoY) dan melampaui ekspektasi karena setara ~80% estimasi 2026F konsensus (vs. rata–rata 3 tahun terakhir: ~73% laba bersih tahunan). Sebagai catatan, pertumbuhan laba bersih secara tahunan pada 3Q26 sebagian terbantu oleh low–base effect pada 3Q25 yang tercatat sebesar Rp656 M. Pertumbuhan laba bersih secara tahunan yang solid pada 3Q26 ditopang oleh pertumbuhan pendapatan yang moderat serta efisiensi beban penjualan, sehingga mendorong ekspansi margin laba usaha. Pendapatan pada 3Q26 tumbuh +7% YoY ke Rp9,5 T, ditopang utamanya oleh segmen ‘distribution and logistics’ (+12% YoY) dan ‘consumer health’ (+8% YoY). Adapun margin laba kotor pada 3Q26 menyusut -1,7 percentage point secara tahunan ke 37,8% (vs. 3Q25: 39,5%), utamanya akibat penurunan margin segmen ‘prescription pharmaceutical’ ke 45,3% (vs. 3Q25: 50%). Meski turun secara tahunan, margin laba kotor pada 3Q26 meningkat secara kuartalan (vs. 2Q26: 36,8%) seiring peningkatan margin segmen ‘consumer health’ ke 66,3% (2Q26: 64%). Hasil ini lebih positif dibandingkan outlook manajemen yang mengindikasikan bahwa tekanan margin berpotensi berlanjut pada 2H26 seiring dampak pelemahan rupiah dan kenaikan harga active pharmaceutical ingredients. Di sisi lain, margin laba usaha pada 3Q26 meningkat ke 10,3% (vs. 3Q25: 9,7%) seiring penurunan rasio beban penjualan terhadap pendapatan ke 21,9% (vs. 3Q25: 24,1%).
- $ERAA: Erajaya Swasembada mencatat laba bersih Rp304 M pada 3Q26 (+40% YoY, -8% QoQ), sehingga laba bersih selama 9M26 mencapai Rp1,1 T (+38% YoY) dan relatif sejalan dengan ekspektasi karena setara ~77% estimasi 2026F konsensus (vs. rata–rata 2 tahun terakhir: ~71% laba bersih tahunan). Sebagai catatan, laba bersih ERAA selama 1H26 setara 59% konsensus (vs. rata–rata 2 tahun: ~51%). Pertumbuhan laba bersih pada 3Q26 ditopang oleh pendapatan yang solid (+22% YoY) seiring ekspansi, kenaikan margin laba kotor (+110 bps YoY), serta berkurangnya beban keuangan (-27% YoY). Pendapatan pada 3Q26 tumbuh +22% YoY ke Rp21,1 T, utamanya ditopang oleh ekspansi gerai, di mana grup secara konsolidasi menambah 149 toko net pada periode 3Q26. Margin laba kotor pada 3Q26 naik +110 bps YoY ke 12% (vs. 2Q26: 11,8%), utamanya ditopang oleh kombinasi pergeseran mix, seiring segmen ‘lifestyle’ yang naik dari 3% ke 7% dan segmen ‘computer’ naik dari 5% ke 7%. Rasio SG&A pada 3Q26 naik ke level 9,7% (vs. 3Q25: 9,5%) seiring ekspansi gerai, namun margin laba usaha masih meningkat secara tahunan ke 3,1% (vs. 3Q25: 2,8%). Dengan mengecualikan pos ‘others’, laba usaha inti tercatat Rp491 M pada 3Q26 (+105% YoY, -9% QoQ) dengan margin laba usaha inti di level 2,3% (vs. 3Q25: 1,4%, 2Q26: 2,6%).
- $ULTJ: Ultra Jaya Milk Industry mencatat laba bersih Rp382 M pada 3Q26 (+7% YoY, -31% QoQ), sehingga laba bersih selama 9M26 mencapai Rp1,4 T (+49% YoY). Pertumbuhan laba bersih secara tahunan pada 3Q26 ditopang oleh topline yang tumbuh solid (+25% YoY), meski tertahan oleh penyusutan margin laba kotor ke 29,3% (vs. 3Q25: 31,9%) seiring pertumbuhan beban pokok pendapatan (+29% YoY) yang melampaui pendapatan, utamanya dari kenaikan factory overhead (+33% YoY) dan beban bahan baku (+25% YoY). Laba usaha pada 3Q26 tumbuh +14% YoY, tetapi margin laba usaha turun ke 17,9% (vs. 3Q25: 19,6%) seiring melonjaknya opex, utamanya dari kenaikan biaya distribusi (+38% YoY). Pertumbuhan laba bersih secara tahunan pada 3Q26 jauh lebih rendah dibandingkan realisasi selama 1H26 di +74% YoY, karena efek base di mana 1H25 merupakan periode yang relatif lemah utamanya karena kinerja 2Q25, sementara 3Q25 sudah mengalami recovery sehingga menjadi base yang lebih tinggi.
- $PANI: Pantai Indah Kapuk Dua mencatat marketing sales Rp1,1 T pada 3Q26 (-45% YoY, +15% QoQ), sehingga marketing sales PANI selama 9M26 mencapai ~Rp3 T (-4% YoY) dan setara ~70% target 2026 di Rp4,3 T. Selama 9M26, segmen ‘residential’ menjadi kontributor terbesar PANI dengan kontribusi 54% dari total marketing sales, diikuti ‘commercial land plots’ (29%) dan ‘commercial products’ (17%). Sementara itu, Bangun Kosambi Sukses ($CBDK) mencatat marketing sales Rp218 M pada 3Q26 (vs. 3Q25: Rp27 M, 2Q26: Rp74 M), sehingga marketing sales CBDK selama 9M26 mencapai Rp448 M (+40% YoY) dan setara ~80% target 2026 di Rp563 M. Selama 9M26, segmen CBDK dengan kontribusi terbesar berasal dari ‘commercial land plots’ (85%), diikuti ‘residential’ (8%) dan ‘commercial’ (7%). Baik PANI maupun CBDK mempertahankan target marketing sales 2026 masing–masing, serta memproyeksikan dukungan dari ramp–up operasional Nusantara International Convention and Exhibition dan pengoperasian fungsional sebagian Jalan Tol Kataraja Seksi 1, yang diharapkan dapat memperkuat aktivitas bisnis dan posisi kawasan sebagai destinasi bisnis dan gaya hidup terintegrasi.
- $CMRY: Cisarua Mountain Dairy mencatat laba bersih Rp546 M pada 3Q26 (-10% YoY, -11% QoQ), sehingga laba bersih selama 9M26 mencapai Rp1,7 T (+6% YoY) dan sejalan ekspektasi karena setara ~75% estimasi 2026F konsensus. Pendapatan pada 3Q26 tumbuh solid +27% YoY ke Rp3,5 T, ditopang oleh kedua segmen — dengan segmen ‘dairy products’ tumbuh +45% YoY ke Rp1,6 T dan ‘consumer foods’ naik +15% YoY ke Rp1,9 T — melanjutkan tren 2 kuartal terakhir di mana segmen ‘dairy products’ bertumbuh lebih pesat. Meski pendapatan tumbuh solid, laba usaha pada 3Q26 menurun -6% YoY, sering penyusutan margin laba kotor dan margin laba usaha. Margin laba kotor pada 3Q26 tertekan cukup dalam hingga -4,2 percentage point secara tahunan ke 42,1%, meski masih sejalan guidance 2026F dari manajemen di kisaran 42–44%. Tekanan ini disebabkan oleh kenaikan beban pokok pendapatan (+37% YoY), utamanya dari kenaikan bahan baku dan kemasan (+30% YoY). Sementara itu, margin laba usaha turun lebih dalam hingga -6,4 percentage point secara tahunan ke 17,9% (vs. 3Q25: 24,3%) seiring lonjakan opex (+40% YoY) akibat kenaikan A&P dan beban distribusi, selain karena tekanan dari kenaikan bahan baku.
- $AVIA: Avia Avian akan membagikan dividen interim tahun buku 2026 senilai Rp12/saham, mengindikasikan dividend yield 4% per penutupan Jumat (30/10). Cum dividen dan tanggal pembayaran belum diumumkan.
- $SMRA: Summarecon Agung mencatat marketing sales ~Rp1,3 T pada 3Q26 (-6% YoY, -3% QoQ), sehingga marketing sales selama 9M26 mencapai ~Rp3,8 T (+8% YoY) dan setara ~74% target 2026 di Rp5,2 T. Kontribusi marketing sales terbesar selama 9M26 berasal dari segmen ‘rumah’ (75%), diikuti ‘ruko’ (15%), ‘tanah kavling’ (8%), ‘apartemen’ (1%), serta ‘perkantoran dan komersial’ (<0,1%).
- $BSDE: Bumi Serpong Damai mencatat marketing sales ~Rp2,4 T pada 3Q26 (-5% YoY, -7% QoQ), sehingga marketing sales selama 9M26 mencapai ~Rp7,5 T (-1% YoY) dan setara ~75% target 2026 di level Rp10 T. Segmen ‘residential’ menjadi kontributor terbesar selama 9M26 dengan kontribusi 52% dari total marketing sales, diikuti oleh ‘shophouse’ (23%), ‘commercial lot’ (16%), ‘land plots JV’ (5%), dan ‘apartments’ (4%).
- $MPMX: Mitra Pinasthika Mustika mencatat laba bersih Rp203 M pada 3Q26 (+21% YoY, +24% QoQ), sehingga laba bersih selama 9M26 mencapai Rp539 M (+23% YoY) dan telah melampaui laba bersih selama 2025 di Rp462 M seiring efek low–base akibat besarnya kerugian PT JACCS Mitra Pinasthika Mustika Finance Indonesia pada 4Q25. MPMX mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang relatif flat baik pada 3Q26 maupun 9M26, masing–masing sebesar Rp4,3 T (+1% YoY) dan Rp12 T (-0,2% YoY). Namun, margin laba kotor pada 3Q26 membaik ke level 9,5% (vs. 3Q25: 8,7%, 2Q26: 8,8%), didorong oleh perbaikan margin laba kotor segmen ‘distribution, retail & AM’ ke 9,2% (vs. 3Q25: 8,2%; 2Q26: 8,5%). Pertumbuhan laba bersih pada 3Q26 sendiri utamanya didorong oleh membaiknya bagian laba entitas asosiasi dan ventura bersama (JV&A) yang berbalik positif menjadi Rp6 M (vs. 3Q25: rugi Rp22 M), sehingga laba JV&A selama 9M26 mencapai Rp9 M (vs. 9M25: rugi Rp51 M).
🔎 Insider Transactions

Top Gainer 🔥
$DSNG | $PGAS | $PTBA | $EXCL |
| +9,93% | +8,64% | +5,88% | +5,85% |
Top Loser 🤕
$ARCI | $RATU | $BRPT | $CUAN |
| -6,99% | -6,97% | -6,96% | -6,83% |
🔥 Hal lain yang lagi hot yang perlu kamu ketahui…

- Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun ditutup naik sekitar +8 bps ke level 7,72% pada Jumat (30/10), menandai level tertinggi sejak Mei 2020, seiring kenaikan harga minyak Brent +2,5% pada sore hari ini ke level US$117,8/barrel. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS relatif flat dengan ditutup di level 18.127 pada Jumat (30/10).
- Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan pada Kamis (29/10) bahwa pengumuman MSCI yang membuka peluang status pasar saham Indonesia turun ke standalone market bersifat shock jangka pendek. Destry menambahkan bahwa pihaknya berharap pasar dapat pulih kembali setelah kekhawatiran yang disampaikan MSCI terhadap pasar saham Indonesia ditangani oleh regulator pasar modal Indonesia. Dalam kesempatan yang sama, adik Presiden Prabowo Subianto sekaligus Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia, Hashim Djojohadikusumo, mengatakan bahwa pengumuman MSCI dapat memicu nilai tukar rupiah terhadap dolar AS anjlok hingga ke kisaran 20.000–22.000 seiring aksi jual investor asing di pasar modal Indonesia. Hashim menekankan bahwa risiko tersebut dapat menjadi “bencana dan malapetaka bagi ekonomi Indonesia”, seraya menambahkan bahwa pelemahan rupiah yang signifikan juga dapat menimbulkan dampak politik yang sangat negatif.
- Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, pada Kamis (29/10) mengeklaim bahwa pihaknya telah menerima setoran denda Rp2,1 T dari pihak–pihak yang dikenakan sanksi terkait praktik pelanggaran perdagangan saham emiten Dian Swastatika Sentosa ($DSSA), Barito Renewables Energy ($BREN) dan Petrindo Jaya Kreasi ($CUAN). Hingga kini, OJK belum mengumumkan nama lengkap pihak–pihak yang dikenakan sanksi terkait praktik manipulasi saham tersebut, meski dalam konferensi pers pada awal pekan ini menyebut akan mengungkap nama lengkap pihak–pihak yang terlibat setelah masa banding berakhir. Pada pekan lalu, OJK telah mengumumkan daftar pihak yang dikenakan sanksi, tetapi masih dalam bentuk inisial.
- Chapman Taylor, mantan manajer portofolio ekuitas Capital Group sekaligus dewan penasihat Danantara dan anggota Komite High Shareholding Concentration (HSC), optimistis bahwa Indonesia mampu mempertahankan status pasar sahamnya sebagai emerging market di MSCI. Taylor memperkirakan peluang Indonesia mempertahankan status tersebut lebih besar dari 50% seiring menguatnya koordinasi pemerintah dan regulator serta komunikasi dengan penyedia indeks global. Menurut Taylor, keseriusan pemerintah dan regulator dalam memperbaiki tata kelola pasar modal mulai terlihat, ditandai dengan perkembangan positif dari kembali aktifnya komunikasi dengan MSCI serta penegakan hukum terhadap manipulasi pasar. Selain itu, Taylor menjelaskan bahwa pembentukan komite HSC, penguatan sistem pengawasan berbasis teknologi Nasdaq, serta peningkatan pengawasan pasar dapat memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global. Taylor menyebut bahwa pasar belum sepenuhnya memperhitungkan dampak positif reformasi tersebut, sembari menambahkan bahwa bahkan jika MSCI tetap menurunkan klasifikasi Indonesia, potensi aksi jual dari investor pasif dapat menjadi peluang bagi investor aktif karena valuasi saham Indonesia sudah relatif murah.
- Biro analisis ekonomi AS mencatat bahwa indeks personal consumption expenditures (PCE) inti di AS mengalami inflasi 0,3% MoM pada September 2026, sejalan dengan ekspektasi konsensus dan stabil dibandingkan angka Agustus 2026 yang direvisi naik dari 0,2% MoM. Secara tahunan, PCE inti naik ke 3,1% YoY (vs. Agustus 2026: inflasi 3% YoY). Inflasi PCE merupakan acuan The Fed untuk menilai perekonomian AS. Menyusul rilis data ini, analisis dari CME FedWatch Tool memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Desember 2026 mencapai ~82%.
- Ekonomi AS tumbuh +3,4% secara annualized pada 3Q26 (vs. 2Q26: +2,2%), berdasarkan estimasi awal yang dirilis oleh biro analisis ekonomi AS, melampaui ekspektasi konsensus di level +3,2%. Akselerasi pertumbuhan utamanya ditopang oleh percepatan investasi dan kenaikan belanja pemerintah, di tengah melandainya ekspor yang menahan laju pertumbuhan. Kenaikan investasi terutama berasal dari penambahan stok barang (inventori) oleh perusahaan dan pembelian komputer beserta perangkat pendukungnya seiring belanja terkait AI, sementara konsumsi rumah tangga tumbuh stabil di +3,8% (vs. 2Q26: +3,8%). Reuters melaporkan bahwa ekonom memperkirakan konsumsi rumah tangga AS akan melambat ke depan seiring harga bensin yang masih tinggi akibat konflik di Timur Tengah serta tren rumah tangga yang makin sedikit menabung dan mulai memakai simpanannya untuk membiayai konsumsi.
- Darma Henwa ($DEWA) melalui anak usahanya, PT DH Kontraktama, mendapatkan fasilitas kredit investasi hingga Rp149,2 M dari Bank Mega ($MEGA) untuk pembelian alat berat. Jangka waktu fasilitas ini mencapai 63 bulan, dengan suku bunga 10% per tahun.
- Telkom Indonesia ($TLKM) berencana menggabungkan 2 anak usahanya, PT Infrastruktur Telekomunikasi Indonesia (Telkominfra) dan PT Telkom Akses, dengan PT Telkom Akses akan menjadi surviving entity, sebagai bagian dari agenda streamlining dan penataan portofolio. Penggabungan ini ditargetkan efektif pada 1 Januari 2027, dengan jadwal RUPSLB dan penandatanganan akta pada 30 November 2026. Penggabungan ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan struktur biaya, mengintegrasikan fungsi perencanaan dan engineering jaringan, serta mengoptimalkan produktivitas sumber daya pendukung dan utilisasi tenaga kerja. Secara proforma per 30 April 2026, jumlah aset gabungan mencapai ~Rp4,7 T dengan ekuitas Rp529,5 M.
- Tower Bersama Infrastructure ($TBIG) berencana buyback hingga 52,8 juta (0,23%) saham dengan alokasi dana hingga Rp106 M pada periode 2 November 2026–29 Januari 2027. Buyback akan dilaksanakan melalui PT Ciptadana Sekuritas Asia. Rencana ini tidak memerlukan persetujuan pemegang saham, seiring relaksasi yang diberikan OJK untuk mendukung stabilitas pasar modal.
🔑 Bertahan Adalah Kunci
“Peluang terbesar saat krisis bukan hanya milik mereka yang berani membeli, tetapi mereka yang telah mempersiapkan diri, menjaga likuiditas, dan tetap rasional ketika pasar dilanda ketidakpastian.” — VarelJoanK
Kutipan menarik dari komunitas Stockbit minggu ini
Di tengah tekanan pasar saham Indonesia yang telah mengalami penurunan lebih dari 40% sepanjang tahun, investor perlu memiliki kemampuan untuk bertahan ketika kondisi pasar memburuk. Berkaca dari pengalaman Warren Buffett saat menghadapi bear market 1973–1974, investor sebaiknya tetap berfokus pada nilai fundamental bisnis, bukan kepanikan pasar. Hal ini dapat dilakukan dengan menjaga likuiditas, menghindari utang dan leverage yang berisiko memaksa penjualan saham di harga rendah, serta membedakan harga saham dengan nilai intrinsik perusahaan agar tidak sekadar membeli saham yang sedang turun. Dengan tetap rasional, disiplin, dan mempersiapkan dana sebelum peluang datang, investor dapat memanfaatkan peluang investasi jangka panjang ketika pasar berada dalam tekanan. Baca selengkapnya di sini.
Sekilas tentang VarelJoanK
Stockbitor VarelJoanK aktif membagikan pandangan seputar investasi saham dengan pendekatan alokasi modal (capital allocation) serta fokus pada pemilihan saham dan pengelolaan portofolio. Ia cenderung menekankan pentingnya strategi distribusi modal, risk-reward, dan cara berpikir sebagai investor dibanding sekadar mengikuti pergerakan jangka pendek.
Disclaimer:
Konten ini ditulis oleh PT Stockbit Karya Indonesia (“Stockbit”), perusahaan media ekonomi dan keuangan yang menghadirkan berita, analisis, dan insight tentang dunia bisnis, investasi, dan kebijakan ekonomi, khususnya yang terkait Pasar Modal.
Selanjutnya, semua keputusan investasi nasabah mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas investasi tersebut. Seluruh risiko investasi bukan merupakan tanggung jawab Stockbit melainkan menjadi tanggung jawab masing–masing nasabah.
Domain resmi Stockbit adalah https://stockbit.com/ dan semua informasi yang dikirimkan oleh kami akan menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit dan/atau alamat email yang diakhiri @Stockbit.com.
Semua pemberian Informasi Rahasia kepada pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit namun tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit merupakan tanggung jawab pribadi pihak pemilik Informasi Rahasia dan kami tidak bertanggung jawab atas setiap penyalahgunaan Informasi Rahasia yang dilakukan oleh pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit yang tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit.

IHSG
Foreign Flow
Kurs USD/IDR
Gold
Oil
Coal
CPO
Nickel
$DSNG
$PGAS
$PTBA
$EXCL
$ARCI
$RATU
$BRPT
$CUAN