
Daily Market Performance 🚀
IHSG | Foreign Flow | Kurs USD/IDR | Gold |
| 5.098,1 -3,49% | -Rp1,1 triliun | 18.132 -0,28% | 4.042 -0,24% |
Oil | Coal | CPO | Nickel |
| 114,3 -0,86% | 150,6 -1,28% | 4.616 -1,47% | 15.605 -0,15% |
👋 Stockbitor!
Bukit Asam ($PTBA) mencatat laba bersih ~Rp1,8 T pada 3Q26 (-5% QoQ, +214% YoY), sehingga laba bersih selama 9M26 mencapai ~Rp4,4 T (+217% YoY) dan melampaui ekspektasi karena setara 83% estimasi 2026F konsensus. Penurunan laba bersih secara kuartalan pada 3Q26 disebabkan oleh faktor non–operasional berupa kenaikan beban pajak (+73% QoQ, +280% YoY). Secara operasional, laba usaha pada 3Q26 naik menjadi ~Rp2,3 T (+23% QoQ, +250% YoY) dengan margin laba usaha naik ke 17,2% (vs. 2Q26: 15,2%, 3Q25: 6%), didorong oleh kenaikan harga jual rata–rata (+7% QoQ) dan volume penjualan (+2% QoQ). Kami menilai kinerja PTBA selama 2026 dapat melampaui ekspektasi 2026F konsensus, meski risiko utama datang dari kenaikan biaya bahan bakar.
Harga Batu Bara Masih Menguat, Namun Kenaikannya Mulai Melandai — PTBA masih membukukan kenaikan rata–rata harga jual batu bara (ASP) menjadi ~Rp1,2 juta/ton pada 3Q26 (+7% QoQ, +33% YoY), meski mulai melandai secara kuartalan (vs. 2Q26: +15% QoQ), seiring permintaan batu bara yang meningkat akibat mengetatnya pasokan LNG dan kenaikan harga energi di tengah konflik Timur Tengah dan meningkatnya permintaan batu bara menjelang musim dingin pada akhir tahun. Sementara itu, volume penjualan pada 3Q26 hanya naik sedikit secara kuartalan menjadi 11,1 juta ton (+2% QoQ, -8% YoY), sehingga volume penjualan selama 9M26 menjadi 32,2 juta ton (-4% YoY) dan setara dengan 65% guidance 2026 dari manajemen.
Margin Naik Meski Biaya Bahan Bakar Melonjak, Ditopang Kenaikan ASP & Penurunan Stripping Ratio — Dalam press release, PTBA menjelaskan bahwa biaya bahan bakar selama 9M26 mengalami kenaikan yang cukup signifikan sebesar +36% YoY, yang berdampak pada biaya penambangan dan pengangkutan batu bara. Meski demikian, kenaikan ASP (+18% YoY) dan penurunan stripping ratio ke level 5,6x (vs. 9M25: 6x) selama 9M26 membantu menekan kenaikan biaya tersebut, sehingga margin laba kotor selama 9M26 masih naik ke 20,6% (vs. 9M25: 11,4%).
Key Takeaway
Secara keseluruhan, kami menilai kinerja PTBA pada 3Q26 menunjukkan hasil yang positif, didukung oleh kenaikan ASP dan volume penjualan secara kuartalan. Ke depan, kami memproyeksikan harga dan permintaan batu bara tetap berada di level yang relatif tinggi, didukung oleh krisis energi berkepanjangan akibat konflik Timur Tengah dan meningkatnya permintaan batu bara menjelang musim dingin pada akhir tahun, meski kenaikan ASP pada 3Q26 mulai melandai dibandingkan kuartal sebelumnya. Dari sisi operasional, PTBA juga masih perlu meningkatkan volume penjualan batu bara pada 4Q26 menjadi 17,3 juta ton untuk memenuhi guidance volume penjualan 2026 di 49,5 juta ton.
Dengan asumsi harga batu bara berada di level yang tinggi serta volume penjualan batu bara yang stabil, kami memproyeksikan PTBA setidaknya dapat mencetak laba bersih sekitar Rp6,2 T selama 2026, melampaui ekspektasi 2026F konsensus (117% estimasi 2026F konsensus), meski risiko utama tetap dari kenaikan biaya bahan bakar. Berdasarkan estimasi laba tersebut, serta mengasumsikan dividen payout ratio sebesar 45% seperti pada tahun buku 2025, PTBA berpotensi membagikan dividen tahun buku 2026 sebesar ~Rp242/saham, yang mengimplikasikan dividend yield 7,9% berdasarkan harga penutupan pada Kamis (29/10) di Rp3.060/lembar.
🪙 BRMS: Laba Bersih 3Q26 Berbalik Positif, 9M26 Turun -37% YoY
- $BRMS: Bumi Resources Minerals mencatat laba bersih US$11 juta pada 3Q26 (vs. 2Q26: rugi US$5 juta, 3Q25: laba US$15 juta), sehingga laba bersih selama 9M26 mencapai US$24 juta (-37% YoY) dan setara 52% estimasi 2026F konsensus. Kinerja pada 3Q26 ditopang oleh volume penjualan emas yang naik ke 16.748 oz pada 3Q26 (+166% QoQ, -5% YoY), seiring kadar emas yang diproses naik ke 1,94 g/t (vs. 2Q26: 0,9 g/t) setelah operasi pushback di tambang PT Citra Palu Minerals rampung pada Juli 2026. Sementara itu, harga jual rata–rata pada 3Q26 relatif stabil di US$4.128/oz (-0,2% QoQ, +19% YoY), dengan diskon terhadap rata–rata harga emas global menyempit ke ~3% (vs. 2Q26: ~8%). Ke depan, manajemen BRMS berharap bahwa seluruh produksi emas akan terjual pada 2H26, setelah perseroan menandatangani perjanjian penjualan dengan beberapa pembeli pada harga yang cukup kompetitif. Sementara itu, peningkatan kapasitas pabrik carbon–in–leach (CIL) pertama dari 500 ton bijih per hari menjadi 2.000 ton bijih per hari mundur ke awal 2027, dibandingkan target sebelumnya pada 4Q26, dengan laporan keuangan mencatat estimasi penyelesaian pada April 2027.
- $BSDE: Dian Swastatika Sentosa ($DSSA) melalui entitas usahanya, PT SMPlus Cakrawala Cipta Gemilang, membeli lahan seluas 166.261 meter persegi di BSD City dari anak usaha Bumi Serpong Damai, PT Surya Inter Wisesa, senilai Rp3,1 T. Pembelian ini ditujukan untuk mendukung ekspansi dan pengembangan data center oleh PT SMPlus Cakrawala Cipta Gemilang, serta tergolong transaksi afiliasi karena adanya hubungan keluarga antara ultimate beneficial owners kedua perusahaan.
- $EMAS: Merdeka Gold Resources mendapatkan fasilitas pinjaman term loan dan revolving credit dengan nilai pokok total US$435 juta dari konsorsium perbankan yang terdiri atas Bank CIMB Niaga ($BNGA), Bank Danamon Indonesia ($BDMN), DBS Bank Ltd., Kasikornbank Public Company Ltd., dan Bank Maybank Indonesia ($BNII). Fasilitas tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan korporasi umum, termasuk namun tidak terbatas pada pelunasan utang, capex, pendanaan biaya transaksi, pembiayaan intragrup, pengelolaan pembayaran obligasi rupiah, dan modal kerja. Fasilitas ini memiliki tenor 5 tahun serta dikenakan bunga 2,75% per tahun ditambah suku bunga acuan majemuk.
- $PGAS: Perusahaan Gas Negara menandatangani 4 kontrak pembelian pasokan gas bumi dan liquefied natural gas (LNG) dengan total estimasi nilai transaksi mencapai lebih dari ~US$10,6 miliar. Kontrak–kontrak pembelian tersebut mencakup: 1) LNG Lapangan Gas Abadi Masela sebanyak 775 tbtu senilai ~US$7,4 miliar selama 15 tahun mulai 2033; 2) LNG North Hub senilai ~US$1,5 miliar pada periode 2029–2037, dengan opsi perpanjangan hingga 2038; 3) LNG South Hub senilai ~US$996,5 juta pada periode 2027–2032; dan 4) gas bumi wilayah kerja Sakakemang sebanyak 38 bbtud senilai ~US$725,6 juta pada periode 1 September 2027–31 Desember 2037. Kontrak pembelian LNG North Hub dan LNG South Hub juga melibatkan PT Pertagas Niaga dan PT Perta Arun Gas sebagai pembeli, selain PGAS. Seluruh transaksi tersebut disepakati pada tanggal 28 Oktober 2026 guna memperkuat portofolio pasokan dan menjaga keandalan pasokan energi bagi pelanggan perseroan.
- $CNMA: Nusantara Sejahtera Raya mencatat laba bersih Rp227 M pada 3Q26 (+45% YoY, +25% QoQ), sehingga laba bersih selama 9M26 mencapai Rp368 M (-17% YoY) dan di bawah ekspektasi kami karena hanya setara ~50% estimasi 2026F Stockbit. Pendapatan pada 3Q26 masih tumbuh +8% YoY, tetapi turun -1% QoQ seiring penurunan admissions ke 20,5 juta (-2% YoY, -6% QoQ). Penurunan admissions pada 3Q26 utamanya ditekan oleh penurunan admissions pada film lokal (-30% YoY, -49% QoQ), sementara film internasional justru mencatatkan pertumbuhan admissions yang solid (+27% YoY, +76% QoQ). Margin laba kotor naik ke 61,3% (vs. 3Q25: 59,7%, 2Q26: 60,3%) seiring meningkatnya pengeluaran F&B per pengunjung dan rata–rata harga tiket. CNMA juga mengumumkan akan membagikan dividen interim tahun buku 2026 senilai Rp4/saham, mengindikasikan dividend yield ~5,6% per Kamis (29/10), dengan cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 6 November 2026 serta pembayaran pada 19 November 2026. Pembahasan lengkap terkait kinerja 3Q26/9M26 serta outlook akan kami bahas setelah menghadiri earnings call 3Q26 yang akan diadakan Jumat (30/10).
- $TPIA: Chandra Asri Pacific berencana buyback hingga 1,6 miliar (1,84%) saham dengan alokasi dana hingga Rp2 T pada periode 29 Oktober 2026–28 Januari 2027. Maksimum harga pembelian ditetapkan sebesar Rp3.000/saham. Buyback akan dilaksanakan melalui PT BCA Sekuritas. Rencana ini tidak memerlukan persetujuan pemegang saham, seiring relaksasi yang diberikan OJK untuk mendukung stabilitas pasar modal. TPIA juga mengumumkan penghentian lebih awal program buyback saham periode 19 Oktober–31 Desember 2026 dengan alokasi dana hingga Rp1 T yang sebelumnya diumumkan pada 19 Oktober 2026.
- $BMRI: Bank Mandiri mengumumkan telah menandatangani perjanjian bersyarat untuk mendivestasikan 20% kepemilikan di PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia (Inhealth) kepada PT Asuransi Jiwa IFG (IFG Life) senilai Rp570 M. Rencana transaksi ini mencakup pengalihan seluruh porsi saham BMRI di Inhealth, berserta eksekusi hak opsi jual (put option) milik BMRI kepada IFG Life. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari inisiatif streamlining BMRI serta konsolidasi BUMN di sektor asuransi jiwa di bawah IFG Life selaku holding BUMN asuransi. Rencana transaksi ini tergolong transaksi afiliasi karena BMRI dan IFG Life dikendalikan secara tidak langsung oleh pemerintah melalui BP BUMN.
- $BBNI: Bank Negara Indonesia berencana buyback saham dengan alokasi dana hingga Rp547 M pada periode 28 Oktober 2026–27 Januari 2027. Rencana ini tidak memerlukan persetujuan pemegang saham, seiring relaksasi yang diberikan OJK untuk mendukung stabilitas pasar modal.
- $ERAA: Erajaya Swasembada mencatat kontraksi same store sales growth (SSSG) -4,2% YoY pada September 2026 (vs. Agustus 2026: +0,1% YoY), meski SSSG ERAA selama 9M26 masih tumbuh +1,4% YoY (vs. 8M26: +1,9% YoY). Manajemen menyebut kinerja ERAA tersebut sesuai ekspektasi, seiring konsumen menahan pembelian menjelang peluncuran produk baru Apple, dengan iPhone 18 dan iPhone Duo diluncurkan pada Oktober 2026. Sementara itu, Sinar Eka Selaras ($ERAL) mencatat SSSG +10,1% YoY pada September 2026 (vs. Agustus 2026: +18,3% YoY), sehingga SSSG ERAL selama 9M26 tumbuh +9,2% YoY (vs. 8M26: +9,1% YoY). Penjualan XPeng mencapai 454 unit pada September 2026, sehingga wholesales mobil ERAL selama 9M26 mencapai 2.745 unit dengan total produksi 2.968 unit. Perseroan berencana meluncurkan 2 model baru pada 4Q26. Secara konsolidasi, grup Erajaya menambah 50 toko secara net pada September 2026, dengan Erajaya Digital membuka 33 toko net dan ERAL 12 toko net, sehingga total toko mencapai 2.655 unit per September 2026 (vs. Agustus 2026: 2.605 unit).
- $PGEO: Pertamina Geothermal Energy mencatat laba bersih US$47 juta pada 3Q26 (+32% QoQ, +33% YoY), sehingga laba bersih selama 9M26 mencapai US$127 juta (+21% YoY) dan relatif sejalan dengan ekspektasi karena setara 77% estimasi 2026F konsensus serta 79–84% guidance 2026 dari manajemen. Laba usaha tumbuh +33% QoQ menjadi US$69 juta meski pendapatan turun tipis, seiring margin laba usaha yang naik menjadi 59,3% pada 3Q26 (vs. 2Q26: 44%). Kenaikan margin didorong oleh turunnya mayoritas pos beban pasca–maintenance pada 2Q26, yang kami perkirakan belum mencerminkan level normal. Secara tahunan, margin juga ditopang oleh beban MESOP yang hampir 0 pada 3Q26 (vs. 3Q25: ~US$9 juta) setelah pelaksanaan MESOP terakhir pada Agustus 2026. Di sisi lain, selisih kurs berbalik menjadi rugi US$5 juta pada 3Q26 (vs. 2Q26: laba US$2 juta) seiring menguatnya yen Jepang terhadap dolar AS atas pinjaman PGEO yang berdenominasi yen Jepang. Di sisi operasional, produksi selama 9M26 mencapai 4.113 GWh (+10% YoY), setara 78% target 2026 di 5.255 GWh, sementara produksi pada 3Q26 relatif stabil secara kuartalan di 1.369 GWh (+3% YoY, -0,4% QoQ).
🔎 Insider Transactions

Top Gainer 🔥
$CMRY | $TPIA | $RMKE | $MYOR |
| +2,41% | +1,12% | +0,65% | +0,00% |
Top Loser 🤕
$ENRG | $INET | $BKSL | $WIRG |
| -6,99% | -6,98% | -6,98% | -6,98% |
🔥 Hal lain yang lagi hot yang perlu kamu ketahui…

- Bank sentral AS, The Fed, menahan suku bunga di kisaran 3,75–4% pada pertemuan Rabu (28/10) waktu setempat, sejalan dengan ekspektasi. Dalam konferensi pers, Kepala The Fed, Kevin Warsh, mengatakan bahwa ekonomi AS tidak sedang tumbuh terlalu panas meski ada tekanan permintaan dari lonjakan investasi AI, sembari menambahkan bahwa tujuan The Fed bukan untuk menghambat laju ekonomi dan produktivitas AS dinilai telah membaik. The Fed menilai aktivitas ekonomi AS tumbuh kuat meski inflasi masih tinggi, serta menyatakan bahwa tambahan data akan membantu untuk menentukan kebijakan yang tepat guna mengembalikan inflasi ke target 2%. Menyusul keputusan tersebut, analisis dari CME FedWatch Tool menunjukkan bahwa probabilitas The Fed untuk menaikkan suku bunga AS sebesar 25 bps ke kisaran 4–4,25% pada pertemuan Desember 2026 mencapai ~78%. Berikut reaksi pasar per penutupan Rabu (28/10) menyusul pengumuman The Fed tersebut:
- Harga emas naik +0,2% ke US$4.067/oz.
- Yield obligasi tenor 10 tahun AS naik sekitar +2 bps dan kembali berada di atas level 5%.
- Indeks dolar AS (DXY) turun -0,1%, relatif flat di level 102,2.
- Indeks S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones masing–masing menguat +0,28%, +0,27%, dan +0,19%.
- Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ke ~7,65% pada penutupan Rabu (28/10), menandai kenaikan dalam 5 hari beruntun, sebelum melandai ke ~7,64% pada penutupan Kamis (29/10). Berdasarkan data Kementerian Keuangan, investor asing mencatatkan net sell obligasi pemerintah sebesar Rp465 M pada 26 Oktober 2026, meski kembali mencatatkan net buy Rp1,2 T pada 27 Oktober 2026. Di sisi lain, permintaan di lelang obligasi pemerintah pada Selasa (27/10) melemah, dengan pemerintah hanya menyerap ~Rp20,7 T dari target indikatif Rp30 T. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup all–time low di level 18.183 per dolar AS pada Rabu (28/10), berdasarkan data Bloomberg, sebelum menguat +0,3% pada penutupan Kamis (29/10) ke 18.132 per dolar AS. Bank Indonesia mengatakan akan terus melakukan stabilisasi melalui intervensi di pasar non–deliverable forward offshore dan domestik, spot, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
- BEI pada Rabu (28/10) mengeluarkan Astra International ($ASII), Bank Central Asia ($BBCA), Barito Pacific ($BRPT), Bumi Resources ($BUMI), dan Indofood Sukses Makmur ($INDF) dari daftar saham yang dapat ditransaksikan secara short selling pada November 2026. Langkah ini membuat tidak ada saham yang dapat ditransaksikan secara short selling pada November 2026, meski BEI baru mengimplementasikan perdagangan tersebut per 1 Oktober 2026 setelah menundanya beberapa kali akibat volatilitas pasar global dan domestik.
- Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengatakan bahwa pihaknya telah menggeledah kantor PT Djarum dan kantor bea cukai di Kudus pada Rabu (28/10) terkait perkara penerimaan negara dari bidang cukai. CNN Indonesia dan Antara melaporkan bahwa penggeledahan ini merupakan pengembangan dari perkara di bea cukai yang terungkap pada Februari 2026, saat KPK melakukan operasi tangkap tangan di lingkungan bea cukai dan menetapkan sejumlah pihak sebagai tersangka. Budi menyebut bahwa penyidik telah menyita sejumlah dokumen dan barang bukti elektronik saat penggeledahan untuk mendalami dugaan potensi kickback dari PT Djarum kepada oknum pejabat bea cukai terkait pengurusan pita cukai rokok. Menanggapi hal ini, Corporate Communications Manager PT Djarum, Budi Darmawan, mengatakan bahwa pihaknya menghormati proses hukum yang berjalan dan akan bersikap kooperatif.
- Habco Trans Maritima ($HATM) mendapatkan fasilitas kredit investasi hingga Rp500 M dari Bank Central Asia ($BBCA) untuk penambahan armada kapal. Nilai pagu kredit berjangka waktu 5 tahun ini setara 30,54% dari total ekuitas HATM per 30 Juni 2026.
- Grahaprima Suksesmandiri ($GTRA) berencana menggelar private placement hingga ~189,4 juta saham baru dengan efek dilusi 9,09%. Harga pelaksanaan dan calon investor belum diumumkan, sementara perolehan dana ditujukan untuk memperkuat struktur permodalan, meningkatkan fleksibilitas/ketahanan keuangan, serta mendanai pengembangan usaha perseroan dan/atau entitas anak. Rencana ini akan dibahas dalam RUPS Independen pada 7 Desember 2026.
🗜️ Tekanan MSCI terhadap SBN dan Rupiah
“Tekanan MSCI tak hanya mengguncang pasar saham, tetapi juga SBN dan rupiah. Dalam kondisi penuh ketidakpastian, stabilisasi belum tentu berarti pemulihan.” — klinikporto
Kutipan menarik dari komunitas Stockbit minggu ini
Tekanan MSCI terhadap potensi penurunan status Indonesia menjadi Standalone Market tidak hanya memicu gejolak di pasar saham, tetapi juga merembet ke SBN dan rupiah melalui peningkatan premi risiko dan arus keluar modal asing. Yield SBN 10 tahun naik ke 7,52% pada 27 Oktober 2026, tertinggi sejak November 2022, sementara rupiah melemah ke Rp18.153 per dolar AS, mendekati rekor terendahnya. Estimasi passive outflow sebesar US$5,6 miliar atau sekitar Rp101 triliun jika Indonesia keluar dari indeks MSCI Emerging Markets bukanlah proyeksi langsung arus keluar obligasi, tetapi dapat memperbesar tekanan pada aset rupiah secara keseluruhan. Ketidakpastian ini berpotensi berlanjut hingga keputusan final MSCI paling lambat 30 Juni 2027, di tengah tekanan fundamental berupa harga minyak yang tinggi dan proyeksi pelebaran defisit fiskal. Kenaikan yield juga meningkatkan beban bunga utang pemerintah, sehingga risiko eksternal dan fiskal saling memperkuat. Dalam skenario dasar, yield SBN 10 tahun diperkirakan bertahan di kisaran 7,3%–7,5% dan rupiah di Rp18.000–Rp18.300 hingga akhir 2026. Menurut Stockbitor klinikporto, pasar lebih berpotensi mengalami stabilisasi pada level yang tinggi daripada pemulihan cepat, sehingga perkembangan MSCI, arus modal asing, harga minyak, spread SBN–UST, dan kebijakan suku bunga BI perlu terus dipantau. Baca selengkapnya di sini.
Disclaimer:
Konten ini ditulis oleh PT Stockbit Karya Indonesia (“Stockbit”), perusahaan media ekonomi dan keuangan yang menghadirkan berita, analisis, dan insight tentang dunia bisnis, investasi, dan kebijakan ekonomi, khususnya yang terkait Pasar Modal.
Selanjutnya, semua keputusan investasi nasabah mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas investasi tersebut. Seluruh risiko investasi bukan merupakan tanggung jawab Stockbit melainkan menjadi tanggung jawab masing–masing nasabah.
Domain resmi Stockbit adalah https://stockbit.com/ dan semua informasi yang dikirimkan oleh kami akan menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit dan/atau alamat email yang diakhiri @Stockbit.com.
Semua pemberian Informasi Rahasia kepada pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit namun tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit merupakan tanggung jawab pribadi pihak pemilik Informasi Rahasia dan kami tidak bertanggung jawab atas setiap penyalahgunaan Informasi Rahasia yang dilakukan oleh pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit yang tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit.

IHSG
Foreign Flow
Kurs USD/IDR
Gold
Oil
Coal
CPO
Nickel
$CMRY
$TPIA
$RMKE
$MYOR
$ENRG
$INET
$BKSL
$WIRG