ARKO Closed–Door Meeting Takeaways: Bisnis PLTA Berkualitas, Valuasi ala Konglomerat / by Stockbit Investment Research

Stockbit mengadakan Closed–Door Meeting dengan manajemen Arkora Hydro ($ARKO) pada Kamis (18/6). ARKO adalah produsen listrik swasta tenaga air aliran sungai yang didirikan sejak 2010 dan menjual 100% listriknya ke PLN lewat kontrak jangka panjang hingga 30 tahun, dengan kapasitas terkontrak 62,8 MW. Dari jumlah tersebut, sebanyak ~32,8 MW di antaranya sudah beroperasi di 4 lokasi berbeda. Berikut poin–poin utama Closed–Door Meeting dengan ARKO:

Produksi & Operasional

  • Guidance produksi tumbuh +30% per tahun pada 2026–2027 — Manajemen ARKO menargetkan produksi listrik dapat tumbuh sekitar +30% per tahun pada periode 2026 dan 2027, masing–masing ke level ~197 GWh pada 2026F dan ~257 GWh pada 2027F. Target tersebut didorong oleh dimulainya operasional PLTA Kukusan 2 (5,4 MW) secara komersial pada Februari 2026, serta penyelesaian PLTA Tomoni (10 MW) dengan progres konstruksi 73% yang ditargetkan beroperasi secara komersial pada 2026. Perseroan juga tengah menyelesaikan konstruksi PLTA Pongbembe (20 MW), yang baru dimulai pada akhir 2025 dengan target beroperasi secara komersial pada sekitar 2029.

  • Pengaruh cuaca — Manajemen mewaspadai potensi penurunan produksi saat kemarau, yang pada 2026 diprediksi lebih kering seiring potensi El Nino pada 2H26. Namun, volatilitas cuaca dinilai termitigasi karena proyeksi produksi sejak awal memperhitungkan studi hidrologi jangka panjang. Selain itu, lokasi aset di kawasan hutan lindung berfungsi sebagai daerah tangkapan air, sehingga pepohonan dapat menyerap dan melepaskan air secara bertahap. Hal ini membantu normalisasi volume produksi saat El Nino (kering), sekaligus menekan risiko banjir bandang saat La Nina (basah).

Keuangan

  • Pertumbuhan pendapatan & laba bersih — Dalam 4 tahun terakhir (2021–2025), produksi listrik ARKO tumbuh sekitar +12,2% CAGR, dengan pertumbuhan pendapatan sekitar +14,7% CAGR dan laba bersih sekitar +6,9% CAGR. Sebagian besar pendapatan ARKO (72–83%) adalah pendapatan jasa konstruksi yang muncul ketika pembangkit sedang dibangun, sehingga produksi listrik dan pendapatan keuangan dari piutang konsesi menjadi ukuran pertumbuhan operasional yang lebih representatif ketimbang pendapatan.

  • Margin & profitabilitas — Berdasarkan estimasi kami, margin EBITDA ARKO berada di kisaran 40–70%. Berbeda dengan karakteristik perusahaan utilitas pada umumnya yang cenderung memiliki margin EBITDA stabil, margin EBITDA ARKO bergerak fluktuatif seiring naik turunnya porsi pendapatan konstruksi serta beban umum dan administrasi.

  • Pendanaan — ARKO memiliki green bond seri A senilai Rp318 M yang jatuh tempo pada 8 Agustus 2026. Dengan posisi kas ~Rp89 M, manajemen menyatakan akan memenuhinya melalui penerbitan utang baru atau opsi pendanaan ekuitas.

Pertumbuhan ke Depan

  • Pipeline proyek — ARKO sudah memiliki pipeline proyek dengan kapasitas produksi listrik lebih dari 300 MW, setara ~2,5% target penambahan PLTA/PLTM dalam RUPTL PLN periode 2025–2034 di ~11,7 GW. Tarif jual ke PLN umumnya bersifat tetap dan bertahap — di mana tarif lebih tinggi pada 10 tahun pertama sebelum turun mulai tahun ke–11 — dengan tarif proyek terbaru berbasis sen dolar AS/kWh.

  • IRR — Manajemen menyebut bahwa keekonomian proyek berada di level yang menarik dengan IRR berkisar 12–13% dan dapat mencapai kisaran 18–19% dengan bantuan pendanaan bank, sementara capex berkisar ~US$2 juta/MW.

  • Pendanaan ekspansi — Mengasumsikan capex ~US$2 juta/MW, perseroan membutuhkan dana ~US$600 juta atau ~Rp10,8 T untuk seluruh pipeline–nya yang mencapai lebih dari 300 MW, jauh lebih besar dibandingkan ekuitas perseroan saat ini di level Rp533 M. Untuk pendanaan ekspansi jangka panjang, manajemen tengah mengeksplorasi berbagai opsi pembiayaan, termasuk pinjaman bank, obligasi, hingga rights issue. Pertimbangan aksi korporasi yang akan diambil bergantung pada kondisi pasar dan ketersediaan proyek.

Struktur Pemegang Saham

  • Pengendali & backing — ARKO dikendalikan kelompok pendiri melalui PT Arkora Bakti Indonesia yang memiliki porsi 38,89% saham, dengan Aldo Artoko sebagai ultimate beneficial owner. Perseroan juga mendapat dukungan pendanaan, legal, dan tata kelola dari grup Astra melalui anak usaha United Tractors ($UNTR), PT Energia Prima Nusantara dan PT Bina Pertiwi Energi.

  • Akumulasi Hapsoro — Kelompok terafiliasi Hapsoro tercatat melakukan akumulasi hingga ~6,9% saham ARKO via PT Tirta Orisa Yasa dan PT Sentosa Bersama Mitra, sementara kepemilikan langsung Hapsoro di ARKO mencapai 2,04% saham. Manajemen menyambut positif masuknya pengusaha sekaliber Hapsoro sebagai bentuk kepercayaan investor terhadap prospek perseroan.

Stockbit’s View:

  • Valuasi premium seiring faktor konglomerat — Dengan harga Rp6.400/saham per 22 Juni 2026, ARKO diperdagangkan dengan valuasi yang sangat premium pada P/E ~312x dan P/BV ~35x, sejajar dengan Barito Renewables Energy ($BREN) yang memiliki valuasi P/E ~210x dan P/BV ~42x sebagai renewable bernarasi pertumbuhan dengan backing konglomerat. Valuasi ini jauh di atas emiten yang dihargai lebih dekat ke fundamentalnya, seperti Pertamina Geothermal Energy ($PGEO) dengan P/E ~15x dan P/BV ~1,07x, Kencana Energi Lestari (KEEN) sebagai sesama IPP hidro yang memiliki P/E ~25x dan P/BV ~1,02x, maupun Hero Global Investment (HGII) dengan P/E ~52x dan P/BV ~1,1x. Kami menilai bahwa valuasi premium ARKO lebih banyak mencerminkan ekspektasi pertumbuhan dan faktor konglomerat, sehingga kemampuan ARKO untuk mengeksekusi pipeline — khususnya proyek besar dengan kapasitas berkisar 100–200 MW — menjadi faktor penentu utama untuk arah valuasinya ke depan.

  • Eksekusi pipeline sebagai indikator rights issue — Pertumbuhan ARKO bergantung pada kemampuannya untuk mengeksekusi pipeline proyek secara terus–menerus. Tanpa aliran proyek baru, baik penambahan kapasitas maupun pendapatan jasa konstruksi (yang menyumbang mayoritas top–line) akan melandai, menyisakan penghasilan pembiayaan dari aset yang sudah beroperasi. Kami mengestimasi kebutuhan dana untuk merealisasikan seluruh pipeline ~US$600 juta (~300 MW x ~US$2 juta/MW), di luar kapasitas balance sheet saat ini. Oleh karena itu, eksekusi capex dalam skala besar dan serentak, inisiatif inorganik, dan/atau kemenangan atas proyek besar (kapasitas 100–200 MW) berpotensi memunculkan kebutuhan pendanaan ekuitas seperti rights issue.

  • Risiko utama — 1) risiko cuaca, di mana curah hujan yang tidak menentu (El Nino/La Nina) berpotensi menekan volume produksi; 2) valuasi premium sehingga rentan de–rating jika ekspektasi growth tak terpenuhi; dan 3) kegagalan merealisasikan proyek baru, di mana pertumbuhan bergantung pada realisasi pipeline kontrak dengan PLN.


Ditulis oleh Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.