Sektor Konsumer Tertekan Harga Bahan Baku & Inflasi, Prospek Perbankan Lebih Menarik / by Stockbit Investment Research

Photo by: Stockbit

Kami menilai harga saham beberapa emiten consumer staples berpotensi tertekan dalam jangka pendek, didorong oleh 2 faktor: 1) kenaikan harga beberapa bahan baku utama — seperti CPO, gula, gandum, dan kemasan — yang berpotensi menggerus margin emiten; serta 2) inflasi akibat El Nino yang berpotensi menekan daya beli masyarakat.

Harga CPO, gula, dan gandum masing–masing telah menguat sekitar +8%, +19%, dan +16% dalam 1 bulan terakhir. Sementara itu, harga minyak global — yang menjadi basis harga kemasan plastik — juga bertahan di level tinggi di atas US$90/barrel. Meski komposisi penggunaan bahan baku tersebut berbeda–beda untuk tiap emiten, secara keseluruhan kenaikan harga bahan baku menjadi sentimen negatif bagi emiten–emiten konsumer. Di sisi lain, tekanan inflasi diperkirakan akan meningkat hingga akhir tahun seiring menguatnya intensitas El Nino, yang pada gilirannya dapat menekan daya beli dan membatasi ruang bagi emiten konsumer untuk meneruskan kenaikan harga bahan baku kepada konsumen. Meski kami memperkirakan pemerintah akan mengambil langkah untuk melindungi daya beli melalui penambahan jumlah bantuan, faktor inflasi ini menambah ketidakpastian bagi sektor konsumer.

Mengacu pada estimasi konsensus untuk beberapa emiten konsumer, kami melihat adanya risiko tidak tercapainya proyeksi laba bersih (earnings miss), terutama dari sisi margin laba kotor (lihat tabel). Secara umum, proyeksi margin laba kotor konsensus masih mengimplikasikan margin yang lebih tinggi pada 2H26 dibandingkan 1H26, kecuali untuk Mayora Indah ($MYOR). Sementara itu, Indofood Sukses Makmur ($INDF) memiliki segmen CPO dan tepung terigu (Bogasari), sehingga sedikit memberikan natural hedging.

Dalam jangka pendek sekitar 3–6 bulan ke depan, kami menilai sektor perbankan menawarkan prospek yang relatif lebih baik, seiring dengan: 1) kondisi likuiditas yang tidak seketat yang dikhawatirkan; 2) mulai menguatnya momentum pertumbuhan kredit; serta 3) tren kualitas aset yang terjaga. Di antara big 4 banks, preferensi kami jatuh pada Bank Negara Indonesia ($BBNI) dan Bank Rakyat Indonesia ($BBRI).

  • BBNI — telah membuat pencadangan yang konservatif selama 1H26 (+42% YoY), sehingga memiliki upside laba bersih dari sisi pencadangan yang lebih rendah pada 2H26. Pembahasan lebih lengkap terkait kinerja BBNI pada 1H26 dan 7M26 serta prospek ke depan dapat dilihat di https://stockbit.com/post/34549667 dan https://stockbit.com/post/35130218.

  • BBRI — mulai optimisnya manajemen untuk kembali menumbuhkan segmen mikro dapat menjadi sentimen positif bagi BBRI, setelah mengalami de–rating valuasi yang paling signifikan di antara bank Himbara. Pembahasan kinerja BBRI hingga 1H26 serta prospek ke depan dapat dilihat di sini https://stockbit.com/post/35309578.


Ditulis oleh Edi Chandren, Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.