Photo by: Stockbit
Stockbit's take:
Laba bersih Darma Henwa ($DEWA) tumbuh +182% QoQ pada 2Q26, sehingga naik +89% YoY selama 1H26.
Pertumbuhan laba bersih didukung oleh faktor one–off berupa penyesuaian nilai wajar investasi saham yang tidak dirinci perseroan, yang mengkompensasi kenaikan beban bunga akibat denda pinjaman bank yang juga bersifat one–off.
Mengesampingkan kedua faktor one–off tersebut, core profit relatif flat secara kuartalan pada 2Q26 dan tumbuh +1% YoY selama 1H26, sejalan dengan ekspektasi, sementara EBITDA tumbuh lebih solid.
Momentum pertumbuhan laba bersih selama 2H26 berpotensi lebih kencang dibandingkan 1H26, seiring: 1) porsi pengerjaan internal yang akan mencapai 100%; dan 2) penambahan kontrak dari klien di luar ekosistem Bumi Resources ($BUMI), PT Sebuku Sejaka Coal, meski bergantung pada hasil revisi kuota produksi RKAB 2026.
Core Profit Sejalan dengan Ekspektasi — DEWA mencatat laba bersih Rp262 M pada 2Q26 (+182% QoQ, +121% YoY), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai Rp354 M (+89% YoY). Kenaikan laba bersih didukung oleh penyesuaian nilai wajar investasi saham sebesar Rp229 M pada 2Q26, yang mengkompensasi kenaikan beban keuangan yang signifikan (+95% QoQ) terutama akibat denda pinjaman bank yang bersifat one–off senilai Rp46 M. Mengesampingkan kedua beban one–off tersebut, core profit flat secara kuartalan pada 2Q26 dan tumbuh +1% YoY selama 1H26, sejalan dengan ekspektasi karena setara 41% estimasi 2026F konsensus, dengan ekspektasi momentum pertumbuhan selama 2H26 akan lebih solid dibandingkan 1H26. Core profit yang flat secara kuartalan pada 2Q26 terjadi di tengah pertumbuhan pendapatan yang solid dan ekspansi margin laba kotor, sementara terdapat kenaikan pada beban karyawan pada opex (+109% QoQ) dan beban bunga underlying dari pinjaman bank (+51% QoQ).
Kenaikan Tarif Pengerjaan & Porsi Pengerjaan Internal Dorong Margin Laba Kotor — Kenaikan pendapatan +7% QoQ pada 2Q26 lebih didorong oleh kenaikan tarif pengerjaan (+9% QoQ) dibandingkan volume material moved (-1% QoQ). Volume material moved menurun seiring turunnya volume pengerjaan subkontraktor (-53% QoQ), sementara volume pengerjaan internal naik +14% QoQ, sehingga porsi pengerjaan secara internal naik menjadi 89% (vs. 1Q26: 77%). Naiknya proporsi pengerjaan internal terjadi seiring dimulainya pengerjaan internal penuh pada proyek Bengalon milik PT Kaltim Prima Coal sejak Mei 2026. Margin laba kotor secara kuartalan pun mencapai level tertingginya setidaknya sejak 1Q22 di 20,7% (vs. 1Q26: 17,3%). Selama 1H26, pendapatan tumbuh +3% YoY, didukung kenaikan material moved (+9% YoY), sementara EBITDA naik +19% YoY, sejalan dengan ekspektasi karena setara 44% estimasi 2026F konsensus.
Momentum 2H26 Berpotensi Solid, tapi Bergantung pada Realisasi RKAB — Kami menilai DEWA tidak akan kesulitan mencapai estimasi konsensus 2026F, seiring potensi core profit yang lebih tinggi pada 2H26 dibandingkan 1H26. Penilaian kami didasarkan oleh pertimbangan bahwa porsi pengerjaan internal akan mencapai 100% pada 2H26, serta diperolehnya kontrak jasa pertambangan untuk tambang di luar ekosistem BUMI, PT Sebuku Sejaka Coal, dengan estimasi volume overburden hingga 55 juta bcm dan produksi batu bara hingga 5 juta ton per tahun. Meski demikian, kami tetap wait and see terhadap realisasi kontrak PT Sebuku Sejaka Coal karena kinerjanya akan dipengaruhi oleh hasil revisi kuota produksi RKAB 2026, mengingat status tambang PT Sebuku Sejaka Coal sebagai IUP OP. Sebelumnya, pemerintah mengumumkan bahwa tambang yang tidak mengalami pemangkasan kuota produksi 2026 adalah pemegang izin PKP2B generasi I dan BUMN pemegang izin IUP [stockbit.com/post/28325402].
Ditulis oleh Everson Sugianto, Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.
Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.
