Photo by: Stockbit
Market Vectors Index Solutions, penyedia indeks yang dijadikan benchmark oleh VanEck, akan mengumumkan evaluasi untuk indeks saham Global Gold Miners Index (GDX) dan Global Junior Gold Miners Index (GDXJ) pada 11 September 2026, dengan komposisi inklusi akan ditentukan berdasarkan harga penutupan hari ini, Senin (31/8). Sebagai konteks, sektor emiten emas Indonesia turun sekitar 2–4% pada sesi 1 hari ini.
Berdasarkan harga pada akhir sesi 1 hari ini, berikut perkiraan kami atas emiten emas Indonesia selama rebalancing GDX/GDXJ:
GDX
Potensi masuk: $EMAS. Perlu ditutup di kisaran Rp9.100/saham atau naik sekitar +0,8% dibandingkan harga per sesi 1 hari ini di Rp9.025/saham.
Tetap dalam indeks: $AMMN, $BRMS
GDXJ
Masuk: -
Tetap dalam indeks: $EMAS, $BRMS, $ARCI
Risiko keluar: $PSAB. Perlu ditutup di kisaran Rp640/saham atau naik sekitar +6,7% dibandingkan harga per sesi 1 hari ini di Rp600/saham agar tidak berisiko keluar dari indeks.
Perlu dicatat, perkiraan harga di atas hanya estimasi kami, yang disusun berdasarkan beberapa asumsi sebagai berikut:
Persyaratan indeks
Emiten yang baru terinklusi harus memperoleh setidaknya 50% pendapatan atau sumber daya mineral dari emas/perak, memiliki free float di atas 10%, market cap di atas US$150 juta, dan nilai transaksi harian rata–rata (ADTV) 3 bulan di atas US$1 juta.
Anggota yang sudah terinklusi memiliki kriteria yang lebih longgar: minimum 25% pendapatan atau sumber daya mineral dari emas/perak, free float 5%, dan market cap US$75 juta. Persyaratan ini yang kami gunakan untuk menilai PSAB, serta juga menjelaskan mengapa produsen dengan pendapatan mayoritas dari tembaga bisa masuk dalam indeks emas.
Threshold masuk minimum
GDX tidak memiliki threshold ukuran perusahaan yang tetap. Penentuan masuknya saham bergantung pada seberapa jauh cakupan indeks untuk mencapai 90% coverage target dan batas minimum 25 perusahaan. Oleh karena itu, kami menggunakan free float market cap terkecil yang diterima pada review GDX bulan Juni 2026 sebagai proxy, lalu menyesuaikannya dengan kinerja GDX selama 3 bulan terakhir. Untuk GDXJ, kami menggunakan data rebalancing bulan Maret 2026, mengingat GDXJ hanya melakukan review pada Maret dan September.
Flow estimate: Nilai AUM ETF VanEck yang terdaftar di AS saat ini (GDX US$32,3 miliar dan GDXJ US$10,2 miliar) dikalikan dengan estimasi bobot indeks, setelah menerapkan weighting caps dari MarketVector.
Analisis kami juga dapat berubah jika: 1) GDX memasukkan lebih banyak emiten dibandingkan asumsi kami; 2) Market Vectors memperbarui float factor; atau 3) harga bergerak menjelang penutupan hari ini atau sebelum batas waktu penentuan weighting pada 9 September 2026. Perlu dicatat juga bahwa perbandingan dengan peers didasarkan pada harga penutupan 26 Agustus 2026. Artinya, jika saham perusahaan tambang emas global mengalami penurunan harga seperti dengan emiten–emiten sektor emas Indonesia hari ini, maka tingkat acuan tersebut juga akan turun.
Dengan mempertimbangkan hal–hal tersebut, kami mengestimasikan arus dana (flow) dari GDX/GDXJ sebagai berikut.
Major flow:
$EMAS (GDX): berpotensi mendapatkan inflow sekitar US$115–119 juta jika harga ditutup di kisaran Rp9.100/saham pada hari ini, setara sekitar 4,1–4,2% dari free float dan ~13 hari perdagangan. Kami melihat peluang EMAS untuk masuk GDX sebagai sebuah kemungkinan dan bukan skenario base case, karena harga Rp9.025/saham hanya sedikit lebih rendah dibandingkan estimasi harga masuk terendah dari 3 skenario kami. Faktor pendukung skenario ini meliputi: 1) free float market cap pada harga Rp9.025 adalah ~US$2,78 miliar, angka yang sudah melampaui market cap anggota terkecil GDX saat ini di ~US$2,5 miliar; dan 2) likuiditas bukan merupakan kendala mengingat nilai perdagangan harian EMAS mencapai ~US$9 juta, jauh di atas batas minimum US$1 juta bagi emiten baru.
Minor flow:
$AMMN dan $BRMS (GDX): tetap berada di GDX, tetapi berpotensi mengalami sedikit pengurangan bobot secara pasif, sekitar US$0,3–6,5 juta untuk AMMN dan US$0,2–5,1 juta untuk BRMS, yang masing–masing lebih rendah dibandingkan setengah volume perdagangan harian AMMN dan BRMS. Besaran ini bergantung pada seberapa dalam cakupan indeks GDX — di mana variabel yang sama juga menentukan masuknya EMAS — sehingga jika EMAS terpilih masuk, nilainya akan berada di kisaran atas rentang tersebut.
$PSAB (GDXJ): potensi outflow sekitar US$2,4 juta jika dikeluarkan, setara 2,6% dari free float dan di bawah volume perdagangan harian PSAB, sehingga dampaknya akan minimal. Berdasarkan estimasi kami, PSAB perlu ditutup di sekitar Rp640/saham pada hari ini agar tetap bertahan di indeks.
Non–event:
$ARCI (GDXJ): pada harga Rp1.330/saham, estimasi kami menunjukkan bahwa posisi ARCI di GDXJ masih aman karena berada 34% di atas level threshold–nya di Rp995/saham. Namun, market cap ARCI masih terlalu kecil untuk masuk GDX — di mana ARCI setidaknya membutuhkan harga Rp21.050/saham dengan asumsi free float saat ini di level 10%.
Perlu diingat, pergerakan harga saham akan bervariasi, bergantung pada: 1) seberapa besar aksi front–running yang telah terjadi; 2) pergerakan harga emas dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjelang tanggal efektif 18 September 2026; serta 3) bagaimana pasar menanggapi pengumuman pada 11 September 2026.
Disclaimer: Tulisan ini adalah estimasi mekanis berdasarkan aturan indeks, bukan target harga ataupun rekomendasi investasi. Angka–angka di atas mengukur besarnya volume perdagangan yang harus dilakukan oleh indeks, bukan dampak pergerakan tersebut terhadap harga saham.
Ditulis oleh Theodorus Melvin, Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.
Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.
