Harga tembaga di London Metal Exchange ditutup nyaris tidak berubah di US$14.103,5/ton pada Kamis (6/8), setelah sempat melonjak hingga +1,8% ke US$14.369,5/ton pada intraday di hari yang sama menyusul laporan Reuters bahwa Republik Demokratik Kongo berencana melarang ekspor konsentrat tembaga dan kobalt, seiring klarifikasi dari Ivanhoe Mines — operator tambang tembaga terbesar di Afrika — yang mengatakan bahwa laporan Reuters tersebut keliru karena kebijakan larangan ekspor tersebut telah berlaku selama hampir 10 tahun.
Meski demikian, harga tembaga pada penutupan Kamis (6/8) hanya lebih rendah -2,9% di bawah level all–time high di US$14.527,5/ton pada Januari 2026, di mana Bloomberg melaporkan bahwa harga tembaga tertopang oleh aksi penumpukan stok (stockpiling) menjelang potensi tarif impor AS serta kondisi pasar fisik (physical market) di luar AS yang kian ketat, seiring meningkatnya pengiriman ke AS dan China.
[Sumber: Bloomberg, Reuters]
📝Stockbit Commentary
Kami menilai kabar larangan ekspor Kongo bukan merupakan katalis yang dapat diandalkan bagi emiten tembaga. Klarifikasi Ivanhoe Mines dan estimasi Bloomberg Intelligence menunjukkan dampaknya terhadap pasokan global sangat terbatas, tercermin dari harga tembaga yang justru menutup sesi nyaris tidak berubah setelah sempat melonjak +1,8%. Bertahannya harga tembaga di dekat level tertinggi sepanjang masa tetap berpotensi menopang harga jual rata–rata (ASP) Amman Mineral Internasional ($AMMN) dan Merdeka Copper Gold ($MDKA). Namun, penopang harga ke depannya kami perkirakan tetap berasal dari faktor penumpukan stok (stockpiling) menjelang potensi tarif impor AS dan ketatnya pasar fisik di luar AS, bukan dari kebijakan Republik Demokratik Kongo.
Ditulis oleh Theodorus Melvin, Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.
Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.
