Photo by: Stockbit
Stockbit’s take:
United Tractors ($UNTR) mencatat laba bersih Rp314 M pada 2Q26 (-94% YoY, -51% QoQ). Hasil ini membuat laba bersih selama 1H26 hanya mencapai Rp956 M (-88% YoY), jauh di bawah ekspektasi karena baru mencapai 8% estimasi 2026F konsensus.
Pelemahan ini salah satunya disebabkan oleh beban one–off sebesar Rp3,3 T yang mencakup pembayaran terkait persetujuan penggunaan kawasan hutan (PPKH) di tambang Stargate pada 1Q26, serta impairment atas nilai joint venture (JV) dan piutang non–usaha PT Supreme Energy Rantau Dedap yang bergerak di sektor geothermal pada 2Q26. Nilai investasi pada JV tersebut kini telah menjadi nihil.
Di luar beban one–off tersebut, laba bersih selama 1H26 mencapai Rp4,3 T (-48% YoY), tetap jauh di bawah ekspektasi karena baru mencapai 38% estimasi 2026F konsensus. Pelemahan ini terutama disebabkan oleh pendapatan yang turun -15% YoY, sementara beban pokok pendapatan hanya turun -11% YoY, sehingga margin laba kotor tertekan menjadi 18% (vs. 1H25: 22%).
Seluruh segmen usaha mencatat penurunan laba bersih dan kinerja operasional secara tahunan selama 1H26, utamanya akibat pemangkasan kuota produksi RKAB 2026 dan pencabutan izin operasional PT Agincourt Resources selaku pengelola tambang Martabe pada awal 2026.
Seluruh Segmen Catat Pelemahan Kinerja Operasional secara Tahunan pada 2Q26/1H26
Di antara seluruh lini usaha, penjualan Komatsu dan emas masih berada di bawah guidance manajemen yang telah direvisi turun jika dibandingkan dengan realisasi tahunan 1H25. Kedua segmen tersebut juga menjadi penekan utama terhadap laba bersih konsolidasi UNTR.
Adapun penjualan emas dan laba bersih segmen ‘gold and other minerals' mulai membaik secara kuartalan pada 2Q26 seiring kembali beroperasinya tambang Martabe pada pertengahan Mei 2026 serta efek low–base pembayaran PPKH pada 1Q26.
Sementara itu, segmen ‘mining contractor’ menjadi yang paling resilient berkat penguatan dolar AS, meski volume overburden melemah. Segmen ini menjadi satu–satunya yang mencatat pertumbuhan pendapatan secara tahunan pada 2Q26/1H26 (+12% YoY/+6% YoY). Laba bersihnya juga naik +46% QoQ/+12% YoY pada 2Q26, meski melemah selama 1H26.
Lihat tabel di bawah untuk rincian kinerja operasional masing–masing segmen usaha UNTR.
Stockbit’s View
Secara umum, kami menilai prospek UNTR akan sangat bergantung pada perkembangan kebijakan sektor komoditas, terutama potensi revisi kuota produksi RKAB pada akhir Juli 2026 serta rencana penerapan bea ekspor emas.
Meskipun kinerja berpotensi membaik pada 2H26, kami menilai UNTR akan sulit membukukkan laba bersih yang sejalan dengan estimasi 2026F konsensus, sehingga kinerja selama 1H26 tergolong di bawah ekspektasi.
Kami akan menyampaikan ulasan yang lebih lengkap mengenai kinerja 1H26 UNTR setelah mengikuti earnings call pada hari ini, Kamis (30/7), pukul 16.30 WIB.
Ditulis oleh Everson Sugianto, Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.
Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.
