
Daily Market Performance 🚀
IHSG | Foreign Flow | Kurs USD/IDR | Gold |
| 6.186,4 +1,56% | +Rp262,8 miliar | 18.085 +0,17% | 4.100 +0,85% |
Oil | Coal | CPO | Nickel |
| 89,9 -0,98% | 134,8 -1,82% | 4.683 +0,41% | 17.137 +0,98% |
👋 Stockbitor!
Astra International ($ASII) mencatat laba bersih Rp6,7 T pada 2Q26 (-22% YoY, +14% QoQ), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai Rp12,5 T (-19% YoY). Meski realisasi laba bersih 1H26 baru setara 43% estimasi 2026F konsensus, kami menilai kinerja ASII akan pulih signifikan pada 2H26, sehingga masih dapat mengejar proyeksi laba bersih konsensus di level ~Rp29 T.
Terdampak Impairment, Kinerja UNTR Masih Lemah & Bebani ASII — Kontribusi anak usaha di bidang pertambangan dan alat berat, yakni United Tractors ($UNTR), masih membukukan kinerja laba bersih yang lemah sebesar Rp199 M pada 2Q26 (-93% YoY, -51% QoQ), sehingga laba bersih UNTR selama 1H26 hanya mencapai Rp607 M (-88% YoY). Pelemahan ini disebabkan oleh faktor operasional maupun faktor non–operasional. Secara operasional, tambang emas Martabe belum kembali ke level operasional normal meski sudah membaik dibanding 1Q26. Selain itu, kuota produksi RKAB batu bara yang lebih rendah berdampak negatif terhadap penjualan alat berat dan aktivitas kontraktor pertambangan. Di luar operasional, segmen ini membukukan beban one–off yang signifikan senilai ~Rp2,1 T, utamanya dari impairment sub–bisnis geothermal dan pembayaran sub–bisnis nikel ke Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH).
Bisnis Otomotif & Jasa Keuangan Tumbuh High Single–Digit selama 1H26 — Segmen otomotif mencatat laba bersih Rp3,5 T pada 2Q26 (+13% YoY, +50% QoQ) sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai Rp5,9 T (+9% YoY). Pertumbuhan laba bersih segmen ini utamanya didorong oleh kenaikan kontribusi laba bersih entitas asosiasi dan JV sebesar +13% YoY ke level Rp4,7 T selama 1H26, utamanya dari kenaikan kinerja PT Astra Daihatsu Motor. Sementara itu, segmen jasa keuangan membukukan laba bersih Rp2,4 T pada 2Q26 (+7% YoY, +5% QoQ), sehingga laba bersih segmen tersebut selama 1H26 mencapai Rp4,6 T (+6% YoY). Pertumbuhan laba utamanya didorong oleh pembiayaan baru yang tumbuh +10% YoY per Juni 2026.
Segmen ‘Others’ Terdongkrak CPO & Properti — Mulai 2Q26, ASII melakukan perubahan format pelaporan segmen, di mana bisnis–bisnis lain di luar 3 bisnis inti di atas — yakni, pertambangan dan alat berat, otomotif, jasa keuangan) — digabung sebagai segmen ‘others’. Segmen ini mencatat kenaikan laba bersih +81% YoY menjadi Rp1,4 T selama 1H26, yang diatribusikan oleh manajemen kepada: 1) bisnis CPO yang mengalami kenaikan harga jual dan volume penjualan; serta 2) kinerja bisnis properti yang meningkat seiring kontribusi dari warehouse yang baru saja diakuisisi.
Key Takeaway
Dengan asumsi tidak adanya lagi beban one–off yang signifikan pada 2H26 serta potensi revisi naik RKAB dan kelanjutan pemulihan produksi emas Martabe, kami menilai kinerja UNTR dapat pulih signifikan pada 2H26. Oleh karena itu, kami menilai ASII masih berpeluang untuk mencetak laba bersih di kisaran Rp28–29 T selama 2026, meski realisasi 1H26 masih tertinggal. Rencana buyback saham dengan alokasi dana hingga Rp8 T yang telah diumumkan oleh ASII sebelumnya juga telah disetujui dalam RUPS dan akan dimulai pada bulan ini.
🌏 BUMI Teken Kontrak FEED & EPCC Proyek Coal–to–Methanol Senilai US$2,3 Miliar
- $BUMI: Bumi Resources melalui entitas usahanya, PT Bumi Etam Chemical, menandatangani kontrak front–end engineering design (FEED) serta framework agreement untuk engineering, procurement, construction, and commissioning (EPCC) dengan PT Istana Karang Laut dan China National Chemical Engineering Co. Ltd. guna menggarap proyek hilirisasi batu bara berupa coal–to–methanol. Kontan melaporkan bahwa proyek yang berlokasi di Kutai Timur, Kalimantan Timur ini merupakan pionir fasilitas produksi coal–to–methanol di Indonesia, di mana PT Bumi Etam Chemical mengestimasikan nilai investasi untuk proyek ini mencapai ~US$2,3 miliar. Fasilitas produksi coal–to–methanol ini akan menghasilkan metanol serta sulphuric acid sebagai produk sampingan dengan kapasitas produksi awal sebesar 2 juta ton per tahun, di mana selanjutnya BUMI berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas hingga 3,6 juta ton per tahun. Untuk bahan baku produksi dan pembangkit listrik, fasilitas tersebut membutuhkan pasokan batu bara sebanyak ~7,8 juta ton per tahun, di mana PT Bumi Etam Chemical akan menggunakan batu bara kalori rendah 3.400 kcal/kg GAR. Proyek ini dijadwalkan akan menempuh proses final investment decision hingga initial operation pada Agustus 2026–2029, dengan target beroperasi secara penuh pada 2030.
- $INCO: Vale Indonesia mencatat laba bersih US$104 juta selama 1H26 (+313% YoY), sejalan dengan ekspektasi karena setara ~50% estimasi 2026F konsensus. Lonjakan laba bersih tersebut utamanya berasal dari ekspansi margin seiring beban pokok pendapatan yang justru turun -1% YoY di saat pendapatan naik +27% YoY menjadi US$543 juta, sehingga margin laba kotor selama 1H26 naik ke level 28% (vs. 1H25: 7,1%) dan mengalir hingga ke margin laba usaha yang naik ke 19,2% (vs. 1H25: 5,9%). Seluruh pertumbuhan pendapatan ditopang bijih nikel yang mencapai US$142 juta (vs. 1H25: US$5 juta) yang berkontribusi 26% dari total pendapatan, sementara pendapatan nickel matte turun -5% YoY akibat volume penjualan turun -21% YoY menjadi 27.659 ton meski ASP naik +21% YoY menjadi US$14.491/ton. Secara kuartalan, laba bersih pada 2Q26 tercatat US$61 juta (+39% QoQ, +1.660% YoY) dengan margin laba kotor naik ke level 32,9% (vs. 1Q26: 22,5%). Kenaikan ini sebagian besar berasal dari perubahan nilai persediaan yang melonjak menjadi US$64 juta (vs. 1Q26: US$25 juta), sehingga akumulasinya mencapai US$89 juta pada 1H26, didominasi bijih untuk dijual sebesar US$49 juta. Selain itu, normalisasi pajak efektif ke level 30,4% (vs. 1Q26: 6,3%) membuat kenaikan laba sebelum pajak (+87% QoQ) tidak sepenuhnya mengalir ke laba bersih.
- $TAPG: Triputra Agro Persada mencatat laba bersih ~Rp1,3 T pada 2Q26 (+46% YoY, +76% QoQ), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai Rp2 T (+20% YoY) dan setara 48% estimasi 2026F konsensus. Mengingat tren produksi CPO secara musiman biasanya akan lebih tinggi pada 2H26, kami menilai hasil 1H26 ini melampaui ekspektasi. Kenaikan laba bersih pada 2Q26 utamanya didorong oleh: 1) kenaikan pendapatan menjadi ~Rp3,4 T (+17% YoY, +35% QoQ), seiring kenaikan volume penjualan CPO (+6% YoY, +26% QoQ) dan harga jual CPO (+10% YoY, +6% QoQ); serta 2) ekspansi margin laba kotor menjadi 46,3% (vs. 2Q25: 38,9%; 1Q26: 34,4%), seiring kenaikan harga jual CPO. Secara operasional, laba usaha pada 2Q26 naik menjadi ~Rp1,3 T (+46% YoY, +103% QoQ), dengan margin laba usaha naik ke level ~39,5% (vs. 2Q25: 31,5%, 1Q26: 26,3%).
- $MAPA: MAP Aktif Adiperkasa mencatat laba bersih Rp394 M pada 2Q26 (+22% YoY, -16% QoQ), sehingga laba bersih 1H26 mencapai Rp864 M (+30% YoY) dan sedikit melampaui ekspektasi karena setara 46% estimasi 2026F konsensus (vs. rata–rata 3 tahun terakhir: ~43% laba bersih tahunan). Pertumbuhan laba bersih secara tahunan pada 2Q26 ditopang oleh pendapatan yang tumbuh +15% YoY menjadi Rp5,2 T — utamanya dari Indonesia (+17% YoY) yang berkontribusi 76% dari total penjualan, sementara pertumbuhan dari Asia Tenggara di luar Indonesia mencapai +11% YoY — serta ekspansi margin laba usaha ke level 11,5% (+70 bps YoY) di tengah penyusutan margin laba kotor ke 46,5% (-40 bps YoY). Ekspansi margin usaha tersebut ditopang oleh efisiensi beban SG&A ke level 35,0% terhadap penjualan (-106 bps YoY), sehingga laba usaha pada 2Q26 tumbuh +22% YoY. Adapun penurunan laba bersih secara kuartalan pada 2Q26 lebih ditekan dari pos non–operasional, seperti tarif pajak efektif yang naik ke 27,3% (vs. 1Q26: 18,8%) dan kenaikan pos ‘other charges – net’ menjadi Rp56 M (vs. 1Q26: Rp22 M), sementara laba usaha pada 2Q26 relatif flat secara kuartalan (-1% QoQ). Terkait akuisisi Sports Direct Malaysia, MAPA telah membayarkan uang muka akuisisi sebesar US$29,6 juta per 30 Juni 2026 dari total nilai transaksi US$148,9 juta.
- $ERAA: Erajaya Swasembada mencatat laba bersih Rp331 M pada 2Q26 (-9% YoY, -27% QoQ), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai Rp784 M (+38% YoY) dan setara ~59% estimasi 2026F konsensus (vs. rata–rata 3 tahun terakhir: ~51% laba bersih tahunan). Namun, outperformance selama 1H26 terkonsentrasi pada 1Q26 yang turut ditopang pos ‘others’ sebesar Rp337 M (vs. 2Q26: Rp96 M). Penurunan laba bersih secara tahunan pada 2Q26 ditekan oleh pertumbuhan opex (+17% YoY) seiring ekspansi 102 gerai secara net selama 2Q26, serta kenaikan minority interest menjadi Rp45 M (+58% YoY) yang menyumbang ~47% dari penurunan laba bersih akibat konsolidasi Erablue sejak 1Q26. Sementara itu, pendapatan pada 2Q26 masih tumbuh +7% YoY, meski melandai seiring high–base 2Q25 akibat peluncuran seri iPhone 16. Hal tersebut tercermin pada kontraksi segmen ‘cellular phones & tablets’ (-4% YoY), sehingga keseluruhan pertumbuhan berasal dari ketiga segmen non–ponsel. SSSG sendiri terkontraksi -15,1% YoY pada 2Q26 (1H26: +4,1% YoY), meski tidak merata dengan SSSG ERAL relatif stabil di -0,7% YoY dan Erablue mencatat +10,5% YoY pada Juni 2026. Dari sisi margin, margin laba kotor justru naik ke level 11,8% pada 2Q26 (+44 bps YoY), didorong oleh perbaikan margin segmen non–ponsel serta pergeseran mix ke segmen tersebut, sementara margin segmen ponsel relatif stabil di 9,5% (+5 bps YoY).
- $TPIA: Chandra Asri Pacific mencatat laba bersih US$137 juta pada 2Q26 (-89% YoY, -6% QoQ), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai US$283 juta (-78% YoY) dan setara 40% estimasi laba bersih 2026F konsensus. Penurunan laba bersih selama 1H26 disebabkan oleh efek high–base seiring adanya keuntungan pembelian dengan diskon dari akuisisi Aster senilai ~US$1,8 miliar pada 1H25. Mengecualikan keuntungan one–off tersebut, laba sebelum pajak TPIA selama 1H26 berbalik positif menjadi US$434 juta (vs. 1H25: rugi US$196 juta). Dari segi operasional, laba usaha selama 1H26 berbalik positif menjadi US$596 juta (vs. 1H25: rugi US$167 juta), setara 49% estimasi 2026F konsensus. Laba bersih selama 1H26 ditopang oleh segmen energi yang melonjak menjadi US$898 juta (+553% YoY). Pendapatan eksternal segmen energi selama 1H26 naik +184% YoY menjadi US$3,3 miliar seiring konsolidasi penuh Aster Chemicals and Energy dan jaringan ritel Esso serta kenaikan harga jual, sehingga margin segmen energi melebar ke 26,9% (vs. 1H25: 11,7%). Secara kuartalan, laba segmen energi pada 2Q26 turun -39% QoQ menjadi US$341 juta dengan margin menyempit ke 18,2% (vs. 1Q26: 38,3%). Sementara itu, kerugian segmen kimia menyusut tajam menjadi US$21 juta (vs. 1Q26: rugi US$148 juta). Porsi biaya bahan baku dan produksi naik ke 87,7% dari pendapatan (vs. 1Q26: 77,9%) seiring arah harga minyak yang berbalik, dengan Brent menanjak sepanjang 1Q26 dari US$60,9/barrel ke US$118,4/barrel sebelum turun ke US$72,9/barrel pada akhir Juni 2026. Nilai persediaan naik +78% ke level US$984 juta sejak akhir Desember 2025 menjadi US$2,2 miliar.
- $SMSM: Selamat Sempurna akan membagikan dividen interim tahun buku 2026 senilai Rp40/saham, mengindikasikan dividend yield ~2,2% per Kamis. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 6 Agustus 2026, sementara pembayaran pada 27 Agustus 2026.
🔎 Insider Transactions

Top Gainer 🔥
$BULL | $CBDK | $ARTO | $SGER |
| +14,07% | +8,80% | +6,52% | +6,45% |
Top Loser 🤕
$TPIA | $HEAL | $CUAN | $BREN |
| -4,09% | -1,85% | -1,52% | -1,52% |
🔥 Hal lain yang lagi hot yang perlu kamu ketahui…

- The Fed pada Rabu (29/7) waktu setempat memutuskan untuk mempertahankan suku bunga AS di kisaran 3,5–3,75%, sejalan dengan ekspektasi, meski terdapat dissenting opinion dari 3 anggota komite yang menginginkan kenaikan 25 bps. Dalam konferensi persnya, Kepala The Fed, Kevin Warsh, menyatakan kembali komitmennya untuk menurunkan level inflasi.
- Bloomberg melaporkan bahwa Tsingshan Holding Group Co. telah menangguhkan ekspor beberapa produk yang dihasilkan smelter–nya di Indonesia karena manajemen perusahaan tersebut masih menunggu kejelasan mengenai kebijakan baru pemerintah terkait inspeksi unsur tanah jarang dan radioaktif seperti uranium. Bloomberg menyebut bahwa Tsingshan menghentikan pemuatan pengiriman mixed hydroxide precipitate (MHP), produk nikel yang digunakan dalam baterai kendaraan listrik dan mengandung kobalt. Sementara itu, ekspor produk lainnya, termasuk nickel pig iron (NPI), juga mengalami gangguan, meski belum dihentikan sepenuhnya. Narasumber Bloomberg mengatakan bahwa suspensi ekspor yang diterapkan Tsingshan merupakan langkah antisipasi perusahaan, bukan karena diinstruksikan langsung oleh pemerintah Indonesia. Tsingshan dan Badan Komunikasi pemerintah belum memberikan komentar terkait kabar ini. Kabar penangguhan ekspor Tsingshan ini muncul beberapa hari setelah Kepala Staf Kepresidenan, Dudung Abdurachman, meminta aparat penegak hukum, termasuk TNI, untuk tidak menghambat ekspor mineral yang mengandung logam tanah jarang jika belum terdapat aturan yang dilanggar.
- Harga minyak Brent naik sekitar +7,9% ke kisaran ~US$90,7/barrel pada penutupan perdagangan Rabu (29/7) dan stabil di ~US$89,9/barrel per Kamis (30/7) sore. Komando pusat militer AS pada Rabu (29/7) mengatakan bahwa AS kembali melancarkan serangan kepada Iran sebagai respons atas upaya Iran menyerang pasukan AS. Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengatakan kepada Fox News bahwa Iran akan menerima serangan balasan yang keras setelah serangan terhadap personel AS di Yordania. Sementara itu, persediaan minyak mentah komersial AS turun ke level terendah sejak 2018, memperkuat sinyal bahwa pasar fisik semakin ketat seiring berlanjutnya konflik di Timur Tengah. Selain itu, cadangan minyak strategic AS juga turun selama 18 pekan beruntun ke level terendah sejak 1983.
- Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan pada Kamis (30/7) bahwa pihaknya memprediksi El Nino akan bertahan hingga Desember 2026 atau Januari 2027, di mana fase puncak El Nino kali ini akan melewati batas kategori El Nino kuat. Ardhasena menyebut bahwa dampak El Nino di Indonesia hanya terjadi ketika bersamaan dengan musim kemarau, sementara BMKG memprediksi bahwa musim kemarau di Indonesia akan berakhir pada Oktober 2026. Hingga pertengahan Juli 2026, BMKG mencatat bahwa 54,5% zona musiman Indonesia telah memasuki musim kemarau, yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus 2026, tidak berubah dari perkiraan sebelumnya. BMKG sebelumnya telah memperingatkan para petani untuk menyesuaikan kegiatan pertanian mereka guna mengurangi risiko yang timbul dari cuaca kering ekstrem yang diperkirakan terjadi tahun ini.
- Mahkamah Konstitusi pada Kamis (30/7) mengabulkan gugatan sejumlah warga untuk memisahkan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari anggaran pendidikan paling lambat mulai 2028. Dalam pertimbangannya, Mahkamah Konstitusi menilai tujuan program MBG adalah untuk mengurangi angka stunting dan permasalahan kesehatan lainnya, sehingga anggaran program MBG seharusnya memiliki alokasi anggaran tersendiri. Dalam permohonannya, pemohon mengatakan anggaran program MBG yang menggunakan anggaran pendidikan dalam APBN 2026 mencapai Rp223 T atau ~29% dari total anggaran pendidikan, yang dinilai dapat mengurangi ruang fiskal untuk hak pendidikan berkualitas, seperti peningkatan kualitas guru, saranan dan prasarana, serta akses pendidikan yang setara.
- Argo Pantes ($ARGO) mendapatkan fasilitas pinjaman hingga Rp133 M bertenor 96 bulan dari PT Indonesia Infrastructure Finance, yang ditujukan untuk capex berupa renovasi gudang existing dan pembangunan gudang baru untuk PT Global Yimi Cargo (J&T Cargo) di tempat usaha perseroan.
- Data Sinergitama Jaya ($ELIT) mendapatkan fasilitas pembiayaan hingga Rp60 M dari PT Bank BCA Syariah, yang ditujukan untuk refinancing, pembelian perangkat server data center, modal kerja, serta jaminan atas tender maupun pelaksanaan proyek. Pencairan pertama atas fasilitas tersebut mencapai Rp12,5 M, sementara Rp47,5 M sisanya akan dicairkan pada akhir Agustus 2026.
🛒 Saham Oversold Dunia vs IHSG: Mana yang Murah, Mana yang Masih Kemahalan
“Jadi investor jangan all in hanya karena Stochastic rendah. Strategi yang lebih waras adalah cicil selot-selot pada saham yang profitable, likuid, dan valuasinya masih masuk akal. Tunggu Buyer mulai muncul, volume membesar, dan Stochastic berbalik naik.” — skydrugz27
Kutipan menarik dari komunitas Stockbit minggu ini
Menurut Stockbitor skydrugz27, saham yang oversold belum tentu dapat dikategorikan sebagai murah. Jika kita membandingkan harga saham di seluruh dunia, kita bisa menemukan bahwa ternyata saham NVIDIA sudah lebih murah dibandingkan BUMI dan MLPT. Beliau juga mengingatkan kita untuk tidak hanya menggunakan Stochastic sebagai patokan utama beli atau jual, namun juga memperhatikan indikator fundamental lainnya seperti PER, liquidity, dan profitability. Walaupun analisa teknikal memang paling berguna untuk investor swing ataupun scalping, mencicil saham yang ingin kita beli satu lot demi satu lot secara perlahan sambil memantau performa harganya juga dapat diintegrasikan ke dalam strategi investasi kita masing-masing.
Disclaimer:
Konten ini ditulis oleh PT Stockbit Karya Indonesia (“Stockbit”), perusahaan media ekonomi dan keuangan yang menghadirkan berita, analisis, dan insight tentang dunia bisnis, investasi, dan kebijakan ekonomi, khususnya yang terkait Pasar Modal.
Selanjutnya, semua keputusan investasi nasabah mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas investasi tersebut. Seluruh risiko investasi bukan merupakan tanggung jawab Stockbit melainkan menjadi tanggung jawab masing–masing nasabah.
Domain resmi Stockbit adalah https://stockbit.com/ dan semua informasi yang dikirimkan oleh kami akan menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit dan/atau alamat email yang diakhiri @Stockbit.com.
Semua pemberian Informasi Rahasia kepada pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit namun tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit merupakan tanggung jawab pribadi pihak pemilik Informasi Rahasia dan kami tidak bertanggung jawab atas setiap penyalahgunaan Informasi Rahasia yang dilakukan oleh pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit yang tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit.

IHSG
Foreign Flow
Kurs USD/IDR
Gold
Oil
Coal
CPO
Nickel
$BULL
$CBDK
$ARTO
$SGER
$TPIA
$HEAL
$CUAN
$BREN