🤑 BBCA 2025: Laba Bersih +5% YoY, Sesuai Ekspektasi / by Stockbit Snips

Photo by: Stockbit

Daily Market Performance 🚀

IHSG Foreign Flow Kurs USD/IDR Gold
8.980 +0,05%-Rp1,6 triliun16.766 -0,08%5.077 -0,11%
Oil Coal CPO Nickel
64,4 -0,52%110,0 -1,26%4.268 +1,02%18.522 -1,25%

đź‘‹ Stockbitor!

Bank Central Asia ($BBCA) mencatatkan laba bersih Rp14,1 T pada 4Q25 (-2% QoQ, +3% YoY). Hasil ini membuat realisasi laba bersih selama 2025 mencapai Rp57,5 T (+5% YoY), sejalan dengan ekspektasi karena setara ~100% estimasi 2025F konsensus. Beberapa highlights dari hasil 4Q25/2025 adalah: 1) loan growth terakselerasi pada Desember 2025; 2) CIR 2025 capai level terendah sepanjang masa BBCA; dan 3) CASA tumbuh kuat, sejalan dengan strategi BBCA.

CASA Tumbuh +13% YoY, Lebih dari 2x Lipat Laju Pertumbuhan pada 2023–2024 (~4% YoY)

BBCA mengatribusikan kuatnya pertumbuhan current account & savings account (CASA) kepada strategi perusahaan untuk agresif pada market non–retail. Dari pertumbuhan CASA ini, BBCA juga berhasil mendapatkan fee income yang solid, yang turut mendorong Non–Interest Income tumbuh +11%/+16% YoY selama 4Q25/2025. BBCA berharap dapat mempertahankan momentum pertumbuhan CASA pada 2026F, yang tercermin dari ekspektasi kenaikan Non–Interest Income sekitar +8–10% YoY pada 2026F.

Pertumbuhan Kredit Terakselerasi, Efisiensi Terus Meningkat

Loan growth per akhir 2025 mencapai +8% YoY, berada di kisaran atas guidance 2025F dari manajemen. Realisasi ini didorong akselerasi pertumbuhan kredit pada Desember 2025 (vs. November 2025 bank–only: +5% YoY), yang menurut manajemen didorong peningkatan permintaan secara umum dan tidak terlalu terkait dengan stocking/persiapan bulan Ramadan 2026. Terkait Cost–to–Income (CIR) yang mencapai level terendah di 30,7%, manajemen BBCA mengatribusikan efisiensi ini salah satunya pada penerapan AI dan otomasi operasional perusahaan. Manajemen menargetkan CIR berada di kisaran 31–33% pada 2026F, lebih tinggi dibandingkan realisasi 2025 meski lebih rendah dibandingkan guidance 2025 di kisaran 32–34%.

Guidance 2026F

Secara umum, BBCA melihat pertumbuhan volume kredit yang lebih kencang pada 2026F dapat mengkompensasi Net Interest Margin (NIM) yang lebih rendah sementara Cost of Credit (CoC) relatif stabil.

  • Loan growth: +8–10% YoY (vs. realisasi 2025: +8% YoY), masih didorong oleh segmen korporasi.
  • NIM: 5,4–5,6% (vs. realisasi 2025: 5,7%), tekanan pada loan yield diproyeksikan berlanjut.
  • CoC: 0,4–0,6% (vs. realisasi 2025: 0,5%), relatif stabil dengan pertimbangan cautious akibat masih tingginya ketidakpastian eksternal.

Key Takeaway

Secara umum, tidak ada surprise dari kinerja 4Q25 maupun guidance 2026F yang diberikan oleh manajemen BBCA, di mana keduanya relatif sejalan dengan yang telah kami tuliskan dalam Unboxing Indo Banks 2026. Per Selasa (27/1), BBCA diperdagangkan pada valuasi 3x 1–Year Forward P/BV, sekitar 1,5 Standar Deviasi di bawah rata–rata historis 10 tahun (3,8x). Kami menilai bahwa valuasi BBCA saat ini berada pada level yang atraktif, terutama dengan momentum kinerja yang meningkat dengan konsensus mengekspektasikan laba bersih BBCA tumbuh +7% YoY pada 2026F. Selain itu, potensi dividend yield final dari tahun buku 2025 mencapai 3,6% per Selasa (27/1). Estimasi kami ini berdasarkan dividend payout ratio 70% (vs. tahun buku 2024: 67,4%), di mana manajemen melihat ruang bagi kenaikan payout ratio.

🎯 BBTN: Target Laba Bersih +20–22% YoY pada 2026

  • $BBTN: Direktur Utama Bank Tabungan Negara, Nixon Napitupulu, mengatakan bahwa pihaknya menargetkan pertumbuhan laba bersih sekitar +16–18% YoY pada 2025 dan +20–22% YoY pada 2026 (vs. realisasi 2024: -14% YoY). Nixon juga menyebutkan bahwa kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK) perseroan masing–masing tumbuh sekitar +11–12% YoY dan +16% YoY per Desember 2025 (vs. realisasi 9M25: kredit +7% YoY dan DPK +16% YoY). Untuk 2026, BBTN menargetkan pertumbuhan kredit sekitar +8–9% YoY, pertumbuhan DPK sekitar +7–8% YoY, penurunan Cost of Fund ke bawah 3,6%, Cost of Credit di kisaran 1–1,2%, serta menjaga rasio NPL di bawah 3%. Selain itu, Nixon menjelaskan bahwa BBTN akan melakukan penguatan permodalan tier 2 senilai Rp2 T pada 1H26, yang diharapkan dapat dibeli oleh Danantara.
  • $ARCI: Wakil Komisaris Utama Archi Indonesia, Rizki Indrakusuma, menjual ~13,2 juta saham ARCI dengan harga rata–rata Rp2.030/lembar atau senilai total ~Rp26,8 M pada 26 Januari 2026. Setelah transaksi ini, porsi kepemilikan langsung Rizki Indrakusuma di ARCI turun dari 0,0998% menjadi 0,0475%.
  • $TPIA: Bloomberg melaporkan bahwa Chandra Asri Pacific telah mendapatkan pinjaman sebesar US$250 juta bertenor 8 tahun dari Bangkok Bank dan Indonesia Investment Authority, yang ditujukan untuk mendukung akuisisi jaringan SPBU Esso di Singapura milik Exxon Mobil Corp. TPIA menolak mengomentari kabar ini, sementara Indonesia Investment Authority dan Bangkok Bank belum menanggapi permintaan komentar. Sebelumnya, perusahaan investasi, KKR, mengumumkan akan menyediakan solusi pembiayaan khusus senilai US$750 juta untuk TPIA guna mendukung strategi pertumbuhan perseroan serta akuisisi jaringan SPBU Esso.
  • $PTRO: Komisaris Petrosea, Erwin Ciputra, membeli 400.000 saham PTRO dengan harga rata–rata Rp9.138/lembar atau senilai total ~Rp3,7 M pada 26 Januari 2026. Setelah transaksi ini, kepemilikan Erwin Ciputra di PTRO naik dari 0,1056% menjadi 0,1096%.
  • $IMPC: Pengendali sekaligus direktur utama Impack Pratama Industri, Haryanto Tjiptodihardjo, membeli 2,5 juta saham IMPC dengan harga rata–rata Rp3.500/lembar atau senilai total Rp8,75 M pada 26 Januari 2026. Setelah transaksi ini, porsi kepemilikan langsung Haryanto Tjiptodihardjo di IMPC naik, tetapi masih di kisaran 1,14%.
  • $MLBI: Multi Bintang Indonesia mengumumkan akuisisi 99,9% saham PT Karya Distilindo Sejahtera dari pihak non–afiliasi dengan harga tidak lebih dari Rp15 M.

Top Gainer 🔥

$GOTO $ENRG $DEWA $SCMA
+8,33%+8,09%+6,35%+6,29%

Top Loser 🤕

$INDY $ELSA $ASII $MDKA
-11,97%-8,45%-8,36%-6,96%

 🔥 Hal lain yang lagi hot yang perlu kamu ketahui…

  • BEI pada Senin (26/1) mengumumkan evaluasi indeks LQ45, IDX30, dan IDX80, dengan periode efektif pada 2 Februari–30 April 2026. Berikut rinciannya:
  • Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengatakan pada Senin (26/1) bahwa izin tambang milik perusahaan yang termasuk dalam 28 perusahaan yang izinnya dicabut oleh pemerintah pada pekan lalu akan diserahkan kepada Aneka Tambang ($ANTM) atau MIND ID. Sementara itu, izin 22 perusahaan di sektor kehutanan akan diserahkan kepada PT Perhutani. Terkait dengan status perusahaan kedepan, Prasetyo menyebut bahwa pemerintah membuka peluang beberapa perusahaan tersebut akan diambil alih oleh negara untuk dioperasikan kembali. Sebelumnya, entitas usaha United Tractors ($UNTR), PT Agincourt Resources, dan Toba Pulp Lestari ($INRU) termasuk dalam 28 perusahaan yang izinnya dicabut oleh pemerintah karena dinilai melanggar peraturan lingkungan yang memperburuk dampak banjir di Sumatra pada akhir tahun lalu.
  • Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengatakan pada Senin (26/1) bahwa perusahaan–perusahaan yang izin lingkungannya dicabut oleh Kementerian Lingkungan Hidup dapat mengajukan banding. Hanif menjelaskan bahwa terdapat 8 perusahaan yang izin lingkungannya dicabut, di mana 6 di antaranya telah dikenakan denda administratif. Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup telah mengajukan gugatan perdata senilai total Rp4,84 T terhadap 6 perusahaan yang diduga menyebabkan kerusakan lingkungan di Sumatra Utara. Kontan melaporkan bahwa 6 perusahaan tersebut terdiri dari PT North Sumatra Hydro Energy, PT Agincourt Resources (entitas usaha UNTR), INRU, PT Perkebunan Nusantara, PT Multi Sibolga Timber, dan PT Tri Bahtera Srikandi.
  • Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pada Senin (26/1) bahwa layer baru untuk cukai hasil tembakau rokok ilegal akan diposisikan di level moderat, yakni lebih rendah dibandingkan rokok golongan mesin — sigaret kretek mesin dan sigaret putih mesin — tetapi lebih tinggi dibandingkan sigaret kretek tangan. Purbaya menjelaskan bahwa besaran tarif untuk layer baru tersebut masih dalam tahap pembahasan internal sebelum didiskusikan dengan DPR.
  • Presiden AS, Donald Trump, mengatakan pada Senin (26/1) bahwa dia akan menaikkan tarif bagi Korea Selatan dari 15% menjadi 25% untuk produk otomotif, kayu, dan farmasi. Trump menyebut bahwa kenaikan tarif tersebut didasarkan pada penilaiannya bahwa parlemen Korea Selatan tidak menindaklanjuti kesepakatan dagang dengan AS. Meski demikian, Trump tidak merinci kapan kebijakan ini mulai berlaku. Sebelumnya, kesepakatan perdagangan kedua negara tersebut mencakup komitmen Korea Selatan untuk berinvestasi sebesar US$350 miliar ke sektor–sektor strategis AS. Namun, Menteri Keuangan Korea Selatan, Koo Yun–cheol, mengatakan bahwa realisasi kesepakatan tersebut kemungkinan besar tidak akan dimulai pada 1H26, mengingat lemahnya mata uang won.
  • Komisaris Merdeka Copper Gold ($MDKA), Andrew Phillip Starkey, membeli 300.000 saham MDKA dengan harga rata–rata Rp3.078/lembar atau senilai total Rp923,4 juta pada 22 Januari 2026. Setelah transaksi ini, porsi kepemilikan langsung Andrew Phillip Starkey di MDKA naik dari 0,011% menjadi 0,012%.
  • Pengendali sekaligus direktur utama Pelayaran Kurnia Lautan Semesta ($KLAS), Kurnyatjan Sakti Efendie, menjual 120 juta saham KLAS dengan harga rata–rata Rp102/lembar atau senilai total ~Rp12,2 M pada 20 Januari 2026. Setelah transaksi ini, porsi kepemilikan langsung Kurnyatjan Sakti Efendie di KLAS turun dari 74,96% menjadi 70,57%.

🛍️ Strategi Rebound: Kapan Waktunya "Belanja" dan Sektor Mana yang Jadi Juara?

“Rebound bukan soal adu nyali, tapi adu strategi.” — Illusix

Kutipan menarik dari komunitas Stockbit minggu ini

Banyak trader tergoda buru-buru “belanja” saat IHSG turun sedikit, padahal timing rebound yang presisi adalah kunci untuk menangkap keuntungan saat pasar crash, menurut Stockbitor Illusix. Dalam tulisannya, beliau membahas strategi rebound dengan pendekatan objektif: mulai dari mengenali volume klimaks sebagai tanda weak hands habis, memperhatikan foreign flow yang mulai stabil/berbalik arah, hingga penggunaan indikator teknikal seperti higher low, MA, dan RSI sebagai sinyal bahwa tren turun telah berakhir. Beliau juga menekankan pentingnya memadukan bandarmology melalui pengamatan orderbook untuk mengikuti jejak smart money, serta memilih sektor yang cenderung lebih cepat rebound seperti perbankan, konsumer, dan komoditas berdasarkan histori pasar. Penasaran kapan tepatnya waktu yang pas untuk “serok” dan sektor mana yang biasanya lebih dulu bangkit? Simak ulasan selengkapnya dalam tulisan berikut ini!

Copyright 2025 Stockbit, all rights reserved.

Disclaimer:

Konten ini ditulis oleh PT Stockbit Sekuritas Digital (“Stockbit”), perusahaan efek yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Semua konten dalam website ini dibuat untuk tujuan informasional dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual saham tertentu. Always do your own research.

Selanjutnya, semua keputusan investasi nasabah mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas investasi tersebut. Seluruh risiko investasi bukan merupakan tanggung jawab Stockbit melainkan menjadi tanggung jawab masing–masing nasabah.

Domain resmi Stockbit adalah https://stockbit.com/ dan semua informasi yang dikirimkan oleh kami akan menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit dan/atau alamat email yang diakhiri @Stockbit.com.

Semua pemberian Informasi Rahasia kepada pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit namun tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit merupakan tanggung jawab pribadi pihak pemilik Informasi Rahasia dan kami tidak bertanggung jawab atas setiap penyalahgunaan Informasi Rahasia yang dilakukan oleh pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit yang tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit.