šŸ” Pemerintah Revisi Formula HPM Bijih Nikel / by Stockbit Snips

Photo by: Stockbit

Daily Market Performance šŸš€

IHSG Foreign Flow Kurs USD/IDR Gold
7.676,0 +2,34%-Rp30,7 miliar17.122 +0,11%4.810 +0,90%
Oil Coal CPO Nickel
98,3 -1,08%132,1 +1,66%4.463 -2,02%17.698 +2,65%

šŸ‘‹ Stockbitor!

Direktur Jenderal di Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pada Selasa (14/4) bahwa pemerintah telah merevisi formula harga patokan mineral (HPM) untuk bijih nikel dan bauksit. Revisi formula tersebut — yang ditujukan untuk mengoptimalkan pendapatan negara — akan berlaku efektif per 15 April 2026.

Sejumlah perubahan yang terdapat dalam revisi formula baru antara lain [untuk rincian selengkapnya, lihat tabel di atas]:

  1. HPM Bijih Nikel Perhitungkan Kandungan Mineral Lain — Formula baru untuk bijih nikel akan memperhitungkan kandungan besi, kobalt, dan kromium. Sebelumnya, hanya kandungan nikel yang dipertimbangkan sebagai bagian dari perhitungan.
  2. Corrective Factor Naik — Formula baru akan menaikkan variabel kunci yang digunakan dalam menghitung HPM bijih, yang dikenal sebagai corrective factor. Corrective factor untuk bijih nikel dalam formula baru dinaikkan menjadi 30% untuk bijih dengan kandungan nikel 1,6%, naik dari formula sebelumnya di 20% untuk kandungan nikel 1,9%.
  3. Satuan Ukuran Diubah ke Wmt — Satuan ukuran dalam formula HPM baru untuk semua mineral — termasuk bijih nikel, bauksit, kobalt, dan tembaga — diubah menjadi wet metric ton (wmt), dibandingkan sebelumnya dry metric ton (dmt).
  • Dampak ke HPM: Bijih Nikel Limonit Diestimasikan Naik +131% ke US$40,13/wmt

Menyusul perubahan formula tersebut, Shanghai Metals Market memperkirakan bahwa HPM baru untuk bijih nikel kadar 1,2% akan naik +131% dari US$17,33/wmt menjadi US$40,13/wmt, berdasarkan harga benchmark per 1 April 2026. Harga rata–rata bijih nikel laterit lokal Indonesia dengan kadar 1,2% (delivered–to–port) versi Shanghai Metals Market saat ini berada di US$28,5/wmt, masih di bawah HPM baru. Jika HPM berfungsi sebagai harga minimum, harga jual bijih limonit kadar 1,2% pasca–15 April 2026 akan menyentuh US$40,13/wmt.

  • Dampak ke Smelter HPAL: Biaya Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) untuk Bijih Non–captive

Berdasarkan perhitungan Shanghai Metals Market, biaya produksi MHP dari bijih limonit yang dibeli dari eksternal (non–captive) diperkirakan naik ~US$1.700/ton nikel.

  • Tekanan Tambahan pada Margin Smelter HPAL

Kenaikan harga bijih limonit yang dibeli secara non–captive berpotensi menjadi tambahan tekanan baru pada margin smelter HPAL yang memproduksi MHP, mengingat biaya bahan baku lain seperti sulfur telah melonjak seiring gangguan supply akibat perang Iran.

Reuters pada Selasa (14/4) melaporkan bahwa lonjakan harga sulfur belakangan ini telah memaksa beberapa smelter HPAL di Indonesia untuk mengurangi produksi MHP setidaknya -10% sejak bulan lalu. Narasumber anonim Reuters menyebut bahwa smelter–smelter yang terkena dampak termasuk fasilitas yang didukung oleh perusahaan–perusahaan China seperti Huayou Cobalt, Lygend Resources, dan Tsingshan Group. Perusahaan–perusahaan tersebut belum menanggapi kabar ini.

Reuters melaporkan bahwa harga sulfur di pasar spot yang dikirim ke Indonesia telah naik di kisaran US$800–1.000/ton, jauh lebih tinggi dibandingkan harga sebelum perang Iran meletus di kisaran US$500/ton. Menurut Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia, Arif Perdana Kusumah, kenaikan harga tersebut membuat biaya sulfur saat ini menyumbang sekitar 30–35% dari biaya operasional HPAL, naik dari level normal di kisaran 25%.

Reuters melaporkan pada Maret 2026 bahwa beberapa smelter HPAL di Indonesia hanya memiliki persediaan sulfur yang cukup untuk 1–2 bulan, sehingga pemotongan produksi kemungkinan akan terjadi pada April 2026 jika pasokan tidak pulih.

Key Takeaway

Dengan catatan tidak ada perubahan regulasi lanjutan, bijih nikel kadar ≤1,5% sebagai feedstock baterai EV domestik akan tetap dikenakan tarif istimewa 2% sesuai PP No. 19/2025. Dari sisi industri, dampak revisi formula HPM bijih nikel kemungkinan cenderung positif bagi industri upstream nikel, khususnya pada produsen bijih limonit. Meski demikian, realisasinya masih perlu dicermati lebih lanjut mengingat belum ada emiten yang menjual limonit langsung ke pihak ketiga. Berikut rinciannya:

  • Saprolit — Upside Terbatas

Harga jual aktual selama ini sudah mengandung premium di atas HPM lama. Dengan HPM baru yang naik signifikan, premium tersebut kemungkinan menyusut sebagai penyeimbang. Akibatnya, kenaikan harga jual rata–rata (ASP) efektif akan lebih moderat dibanding lonjakan HPM nominalnya. Upside tambahan berasal dari harga jual yang lebih tinggi karena memperhitungkan unsur lainnya.

  • Limonit — Upside Lebih Besar

Potensi upside lebih besar karena selama ini tidak ada premium yang terbentuk di pasar (minim transaksi eksternal). Meski demikian, belum ada emiten di BEI yang menjual bijih limonit langsung ke pihak ketiga karena biaya logistik untuk pengiriman jarak jauh yang kurang ekonomis. Akibatnya, penjualan bijih limonit umumnya terintegrasi ke smelter HPAL di kawasan yang sama, yang umumnya juga dimiliki oleh pemilik tambang itu sendiri.

  • Midstream — Tekanan Margin dari 2 Bahan Baku Utama

Produsen MHP yang menggunakan bijih limonit dari pihak ketiga akan menghadapi tekanan margin tambahan, di tengah biaya sulfur yang masih tinggi dan harga nikel London Metal Exchange yang tidak naik signifikan. Meski sebagian besar emiten nikel BEI relatif terlindungi berkat tambang yang terintegrasi dengan fasilitas smelter HPAL, kami menilai setiap emiten cenderung akan menurunkan utilisasi smelter HPAL jika harga sulfur tetap tinggi dan tidak mampu mengkompensasi margin yang kian menipis.

šŸ’° EMAS Dapat Fasilitas Kredit hingga US$150 Juta

  • $EMAS: Merdeka Gold Resources mendapatkan fasilitas kredit bergulir tanpa jaminan hingga US$150 juta dari Kasikornbank Public Company Ltd., Bank Central Asia ($BBCA), CIMB Niaga ($BNGA), Bank Danamon Indonesia ($BDMN), dan Bank Maspion Indonesia ($BMAS). Pinjaman ini memiliki tenor 12 bulan dan ditujukan untuk membiayai keperluan umum korporasi grup perseroan, termasuk capex dan pembiayaan intra–grup melalui penyertaan modal atau pinjaman pemegang saham.
  • $BBRI: Bank Rakyat Indonesia mengumumkan bahwa cum dividen final di pasar reguler dan negosiasi akan jatuh pada 20 April 2026, sementara pembayaran pada 8 Mei 2026. Dalam aksi korporasi ini, BBRI akan membagikan dividen final tahun buku 2025 senilai Rp209/saham, mengindikasikan yield dividen final ~6% berdasarkan harga saham BBRI per Selasa (14/4). Sebelumnya, BBRI telah membagikan dividen interim Rp137/saham pada Januari 2026, sehingga total dividend payout ratio tahun buku 2025 mencapai ~92% (vs. 2024: ~86%).
  • $UNVR: Unilever Indonesia mengatakan dalam klarifikasi kepada BEI bahwa bisnis jus Buavita masih dimiliki oleh perseroan, sembari menambahkan bahwa hingga saat ini UNVR tidak pernah menandatangani perjanjian jual beli apapun terkait transaksi penjualan bisnis jus Buavita kepada pihak manapun. UNVR menyebut bahwa jika di kemudian hari terdapat langkah strategis terkait bisnis jus Buavita yang akan dilakukan oleh perseroan, hal tersebut akan disampaikan melalui keterbukaan informasi. Klarifikasi UNVR muncul setelah DealStreetAsia melaporkan pada pekan lalu bahwa UNVR berencana untuk mendivestasikan bisnis jus Buavita, meski tidak merincinya lebih lanjut.
  • $PGEO: Konsorsium Pertamina Geothermal Energy dan PT PLN Indonesia Power mengumumkan telah mencapai kesepakatan tarif listrik dengan PLN untuk pengembangan proyek PLTP Lahendong Bottoming Unit berkapasitas 15 MW, meski perseroan tidak merinci tarifnya lebih lanjut. Setelah kesepakatan tarif tercapai, pengembangan proyek akan dilanjutkan dengan pembentukan joint venture, pelaksanaan proses konstruksi dan commissioning, hingga penyusunan perjanjian jual–beli listrik. Proyek ini ditargetkan dapat beroperasi secara komersial pada 2028.
  • $CTRA: Ciputra Development mencatat marketing sales Rp2,4 T pada 1Q26 (-23% YoY, +31% QoQ), setara 26% dari target 2026 di ~Rp9,5 T. Kontribusi marketing sales terbesar berasal dari segmen ā€˜rumah dan tanah kavling’ (88%), diikuti ā€˜ruko’ (10%), ā€˜apartemen’ (2%), dan ā€˜perkantoran’ (0,03%). Sebanyak ~54% marketing sales 1Q26 berasal dari produk yang memenuhi syarat PPN DTP.
  • $PWON: Pakuwon Jati mencatat marketing sales ~Rp316,5 M pada 1Q26 (-4,3% YoY, -21% QoQ), setara ~21% target 2026 di ~Rp1,5 T. Kontribusi marketing sales terbesar selama 1Q26 berasal dari segmen ā€˜condominium’ (62%), diikuti ā€˜rumah tapak’ (31%) dan ā€˜perkantoran’ (7%). Sebanyak 34% marketing sales 1Q26 berasal dari produk yang memenuhi syarat PPN DTP.
  • $BFIN: BFI Finance Indonesia berencana mengalihkan seluruh saham treasuri sebanyak 290 juta saham atau ~1,93% modal disetor untuk program MESOP. Saham treasuri tersebut merupakan hasil buyback saham senilai Rp223,4 M. Harga pelaksanaan akan ditetapkan kemudian oleh dewan komisaris dan tidak lebih rendah dari harga rata–rata buyback saham di ~Rp770/saham. Rencana ini akan dibahas dalam RUPS pada 20 Mei 2026. Dalam keterbukaan informasi terpisah, Komisaris Utama BFIN, Lay Sioe Ho, menjual 20 juta saham BFIN dengan harga rata–rata ~Rp673/lembar atau senilai total ~Rp13,5 M pada periode 6–8 April 2026. Setelah transaksi ini, kepemilikan langsung Lay Sioe Ho di BFIN turun dari 2,25% menjadi 2,18%.

šŸ”Ž Insider Transactions

Source: IDX

Top Gainer šŸ”„

$RATU $BULL $BRPT $PTRO
+15,98%+11,47%+11,42%+10,83%

Top Loser šŸ¤•

$INDY $TLKM $ISAT $FILM
-2,90%-2,19%-1,87%-1,67%

ā€ŠšŸ”„ Hal lain yang lagi hot yang perlu kamu ketahui…

  • Bloomberg melaporkan bahwa angkatan laut AS telah memulai blokade di Selat Hormuz untuk meningkatkan tekanan pada Iran, menyusul gagalnya kedua negara dalam mencapai kesepakatan pada negosiasi pekan lalu untuk mengakhiri perang. Trump memperingatkan bahwa AS akan menargetkan kapal–kapal Iran menggunakan taktik yang sama seperti yang dilakukan terhadap kapal–kapal yang diduga menyelundupkan narkoba di Laut Karibia dalam beberapa bulan terakhir. Di sisi lain, Iran mengatakan akan menargetkan semua pelabuhan di Teluk Persia jika pusat pengiriman mereka sendiri terancam. Meski demikian, narasumber Bloomberg mengatakan bahwa AS dan Iran sedang berdiskusi untuk mengadakan negosiasi berikutnya sebelum gencatan senjata berakhir pada 22 April 2026. Trump pun mengisyaratkan kemungkinan negosiasi lebih lanjut dan mengeklaim bahwa Iran telah menghubungi pemerintah AS.
  • Harga minyak mentah Brent turun sekitar -1,1% ke level ~US$98,3/barrel pada Selasa (14/4) sore seiring kabar bahwa AS dan Iran mengincar negosiasi lanjutan sebelum gencatan senjata berakhir pada 22 April 2026.
  • Kementerian Pertahanan AS dan Kementerian Pertahanan Indonesia mengumumkan pembentukan kemitraan kerja sama pertahanan antara kedua negara pada Senin (13/4), yang mencakup modernisasi militer, pelatihan dan pendidikan militer, hingga latihan dan kerja sama operasional. Pengumuman ini muncul setelah Bloomberg dan Reuters melaporkan bahwa Indonesia dan AS sedang menjajaki proposal untuk mengizinkan penerbangan militer AS di wilayah udara Indonesia, meski joint statement yang dirilis oleh AS–Indonesia tidak membahas isu tersebut. Dalam kabar terpisah, Menteri Energi Rusia, Sergei Tsivilev, mengatakan pihaknya telah menerima permintaan dari Indonesia untuk pasokan produk minyak, dengan negosiasi kontrak jangka panjang sedang berlangsung.
  • Direktur Utama Hotel Fitra International ($FITT), Joni Rizal, mengatakan bahwa pihaknya bersiap mengubah arah bisnis perseroan dari sektor pariwisata ke sektor pertambangan, seiring akuisisi perseroan oleh PT Jinlong Resources Investment pada akhir 2025. Joni menyebut bahwa dalam jangka menengah sekitar 3–5 tahun ke depan, FITT akan fokus mengembangkan bisnis di sektor sumber daya pertambangan, jasa pertambangan, dan perdagangan produk tambang — dengan ketiga lini usaha tersebut dirancang untuk saling terintegrasi. Direktur FITT, Sukino, menyebut bahwa perseroan tengah melakukan evaluasi dan penjajakan terhadap sejumlah calon target akuisisi yang dinilai potensial mendongkrak kinerja keuangan dan menjaga keberlanjutan usaha. Meski demikian, FITT belum merinci komoditas pertambangan apa yang akan digarap oleh perseroan ke depannya.
  • Matahari Putra Prima ($MPPA) mengumumkan bahwa harga pelaksanaan rights issue adalah Rp50/lembar, dengan rasio 114 saham existing mendapatkan 211 rights dan efek dilusi hingga 64,92%. Dalam aksi korporasi ini, MPPA akan menerbitkan hingga ~24 miliar saham baru, sehingga potensi perolehan dana mencapai ~Rp1,2 T. Sebanyak 65,35% perolehan dana ditujukan untuk capex berupa pembelian tanah dan bangunan dari sejumlah anak usaha pengendali perseroan, Multipolar ($MLPL), sementara sisanya untuk modal kerja. MLPL akan melaksanakan seluruh haknya sekaligus menjadi pembeli siaga hingga ~Rp378,4 M. Cum rights di pasar reguler dan negosiasi pada 12 Juni 2026, sementara periode pelaksanaan dan perdagangan rights pada 19–25 Juni 2026.
  • Pembangunan Jaya Ancol ($PJAA) mengumumkan bahwa perseroan pada 13 April 2026 telah menerima surat pengunduran diri Winarto selaku direktur utama perseroan.
  • Link Net ($LINK) mengumumkan bahwa perseroan telah mencapai 5 juta home–passed di Indonesia. Ke depan, perseroan menyebut akan memfokuskan strategi pada optimalisasi utilisasi jaringan, peningkatan monetisasi via kemitraan strategis, dan penguatan kapabilitas untuk mendukung pertumbuhan.

šŸ˜µā€šŸ’« Sektor yang Paling Babak Belur di Bursa Saat Ini Adalah Perbankan dan Konsumer Primer

ā€œKalau kondisi seperti ini berlanjut, investor tinggal pilih mau ikut takut bersama market, atau mulai bedah satu-satu saham yang laba dan neracanya masih kuat tapi PBV-nya sudah jatuh di bawah standar historis.ā€ — skydrugz27

Kutipan menarik dari komunitas Stockbit minggu ini

Dari semua sektor industri di Indonesia, sektor perbankan dan kebutuhan primer memang memiliki laba yang paling dominan. Meskipun secara fundamental mereka menghasilkan pendapatan riil yang besar, banyak investor menilai valuasi bank-bank dan perusahaan besar di Indonesia sudah ā€œterlalu mahalā€. Oleh karena itu, mereka enggan membeli saham pada harga yang dianggap overvalued. Di sisi lain, sektor konsumer primer menghadapi permasalahan serupa, yang dinilai disebabkan oleh menurunnya volume penjualan serta daya beli masyarakat yang semakin melemah. Dalam tulisannya, user Skydrugz27 menyimpulkan fenomena ini dengan membagi perspektif menjadi dua kelompok: ada yang mengartikan penurunan harga sebagai sinyal bahaya, sementara yang lain melihatnya sebagai kesempatan untuk terus membeli. Penasaran dengan pandangan Skydrugz27? Simak ulasan selengkapnya dalam tulisan berikut ini!

Copyright 2026 Stockbit, all rights reserved.

Disclaimer:

Konten ini ditulis oleh PT Stockbit Karya Indonesia (ā€œStockbitā€), perusahaan media ekonomi dan keuangan yang menghadirkan berita, analisis, dan insight tentang dunia bisnis, investasi, dan kebijakan ekonomi, khususnya yang terkait Pasar Modal.

Selanjutnya, semua keputusan investasi nasabah mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas investasi tersebut. Seluruh risiko investasi bukan merupakan tanggung jawab Stockbit melainkan menjadi tanggung jawab masing–masing nasabah.

Domain resmi Stockbit adalah https://stockbit.com/ dan semua informasi yang dikirimkan oleh kami akan menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit dan/atau alamat email yang diakhiri @Stockbit.com.

Semua pemberian Informasi Rahasia kepada pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit namun tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit merupakan tanggung jawab pribadi pihak pemilik Informasi Rahasia dan kami tidak bertanggung jawab atas setiap penyalahgunaan Informasi Rahasia yang dilakukan oleh pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit yang tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit.