💸 Inflasi Indonesia Kembali di Atas 3% / by Stockbit Investment Research

Photo by: Stockbit

Daily Market Performance 🚀

IHSG Foreign Flow Kurs USD/IDR Gold
6.599,9 +1,14%+Rp2,03 triliun17.726 +0,03%4.416 -1,45%
Oil Coal CPO Nickel
92,3 +1,99%141,8 +1,43%4.971 +1,57%16.861 -0,10%

👋 Stockbitor!

Pada Senin (1/9), BPS dan S&P Global mengumumkan sejumlah data makroekonomi Indonesia, di mana inflasi pada Agustus 2026 kembali meningkat lebih dari 3% YoY, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur pada Agustus 2026 terkontraksi, sementara neraca perdagangan pada Juli 2026 berbalik mencetak surplus tipis. Berikut rinciannya:

  • Inflasi Agustus 2026 Melonjak ke 3,19% YoY, Lampaui Ekspektasi — Inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada Agustus 2026 melonjak ke level 3,19% YoY (vs. Juli 2026: 2,88% YoY), melampaui ekspektasi konsensus yang memperkirakan inflasi 3,12% YoY, meski masih dalam kisaran target BI 2,5±1%. Secara bulanan, inflasi IHK mencapai 0,21% MoM (vs. Juli 2026: deflasi 0,14% MoM), utamanya didorong oleh kenaikan harga kelompok ‘makanan, minuman, dan tembakau’ seiring naiknya harga daging ayam ras, cabai rawit, ikan, dan beras. Inflasi inti juga naik ke 2,92% YoY (vs. Juli 2026: 2,76% YoY), melampaui ekspektasi konsensus yang memperkirakan inflasi 2,86% YoY.
  • PMI Manufaktur Terkontraksi ke 49,8 pada Agustus 2026 — S&P Global mencatat PMI manufaktur Indonesia turun ke 49,8 pada Agustus 2026 (vs. Juli 2026: 50,2), ditekan oleh penurunan produksi dan ketenagakerjaan yang masing–masing telah terkontraksi dalam 5 dari 6 bulan terakhir. S&P Global mencatat bahwa penurunan produksi didorong oleh persaingan yang semakin ketat, kondisi permintaan yang masih lemah, dan kenaikan harga barang. Kondisi permintaan menunjukkan beberapa tanda ketahanan dan memasuki wilayah ekspansi untuk pertama kalinya dalam 3 bulan terakhir — meski hanya sedikit di atas angka netral 50 — yang diimbangi oleh laporan sejumlah perusahaan bahwa kondisi permintaan masih lemah, persaingan semakin ketat, dan daya beli pelanggan menurun. Tekanan inflasi kembali mereda pada Agustus 2026, meski tingkat inflasi harga input dan harga output masih tergolong tinggi secara historis.
  • Neraca Perdagangan Balik Cetak Surplus US$0,12 Miliar pada Juli 2026, Lampaui Ekspektasi — BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia mencetak surplus US$0,12 miliar pada Juli 2026 (vs. Juni 2026: defisit US$450 juta), lebih baik dari ekspektasi konsensus yang memperkirakan impas, serta mengakhiri tren defisit dalam 2 bulan sebelumnya. Hasil ini ditopang oleh surplus sektor non–migas sebesar US$3,1 miliarutamanya dari ekspor pertambangan yang tumbuh +14,85% YoY didorong komoditas batu bara, serta industri pengolahan yang tumbuh +6,03% YoY. Sementara itu, sektor migas mencetak defisit US$2,98 miliar seiring kenaikan impor migas +49,91% YoY. Secara kumulatif selama 7M26, kenaikan nilai ekspor komoditas utama — yakni, batu bara, CPO, besi baja — utamanya didorong oleh harga, sementara volume justru menurun.

Key Takeaway

Kami menilai tren inflasi berpotensi bertahan di level yang tinggi, bahkan dapat semakin meningkat dengan risiko perkembangan El Nino yang diproyeksikan menguat hingga 4Q26. Ditambah dengan lebih hawkish–nya The Fed, hal tersebut dapat mendorong Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga. Hal ini kontras dengan ekspektasi konsensus ekonom yang mengekspektasikan Bank Indonesia masih akan mempertahankan BI Rate di level 5,75% hingga akhir 2026, menurut survei Bloomberg pada Agustus 2026.

Secara sektoral, inflasi yang tinggi serta potensi tekanan margin dari kenaikan harga beberapa bahan baku utama dapat menjadi sentimen negatif bagi sektor konsumer. Sebaliknya, kami melihat sektor perbankan memiliki prospek yang relatif lebih baik, seiring dengan: 1) kondisi likuiditas yang tidak seketat yang dikhawatirkan; 2) mulai menguatnya momentum pertumbuhan kredit; serta 3) tren kualitas aset yang terjaga. Pandangan kami ini telah kami tuliskan dalam Stockbit Commentary yang dirilis pada siang hari ini.

⛏️ PTBA 1H26: Laba Bersih +218% YoY, Lampaui Ekspektasi

  • $PTBA: Bukit Asam mencatat laba bersih ~Rp1,8 T pada 2Q26 (+319% YoY, +130% QoQ), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai ~Rp2,6 T (+218% YoY) dan melampaui ekspektasi karena setara 66% estimasi 2026F konsensus. Lonjakan laba bersih secara kuartalan pada 2Q26 utamanya didorong oleh kenaikan harga jual rata–rata (ASP) +15% QoQ ke level ~Rp1,1 juta/ton dan peningkatan volume penjualan +7% QoQ menjadi 10,9 juta ton, yang mendorong ekspansi margin laba kotor menjadi 22,3% (vs. 2Q25: 11,4%, 1Q26: 15,5%). Volume produksi PTBA meningkat hampir 2x menjadi 12,8 juta ton pada 2Q26 (vs. 1Q26: 6,6 juta ton), menyusul inventory drawdown yang signifikan pada 1Q26. Pemulihan produksi tersebut membawa volume produksi selama 1H26 menjadi 19,4 juta ton (-10% YoY), setara 39% guidance 2026F dari manajemen.
  • $BUMI: Reuters melaporkan bahwa Bumi Resources telah meresmikan groundbreaking pembangunan fasilitas produksi coal–to–methanol, yang ditargetkan dapat memproduksi 2 juta ton gas metana. Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, mengatakan bahwa output dari fasilitas tersebut akan menggantikan impor metanol yang digunakan dalam produksi biodiesel. Proyek ini dikembangkan oleh BUMI melalui entitas usahanya, PT Bumi Etam Chemical, yang mengestimasikan nilai investasi proyek mencapai ~US$2,3 miliar dengan target commissioning pada 2029. Sebelumnya, PT Bumi Etam Chemical telah menandatangani kontrak FEED serta kesepakatan EPCC dengan PT Istana Karang Laut dan China National Chemical Engineering Co. Ltd. guna menggarap proyek ini pada akhir Juli 2026.
  • $DSSA: Wakil Direktur Utama Dian Swastatika Sentosa, Lokita Prasetya, mengatakan kepada Kontan bahwa pihaknya siap menggali peluang ekspansi dari program pembangunan PLTS 100 GWp yang digagas pemerintah, terutama melalui entitas usaha perseroan yang bergerak di bidang manufaktur modul panel surya, PT Trina Mas Agra Indonesia. Lokita mengatakan bahwa PT Trina Mas Agra Indonesia turut dilibatkan dalam pembahasan proyek awal berkapasitas 4,5 GW, sembari menambahkan bahwa pihaknya siap untuk mendukung proyek pemerintah tersebut. Saat ini, PT Trina Mas Agra Indonesia mengoperasikan fasilitas produksi panel surya di Kawasan Ekonomi Khusus Kendal, Jawa Tengah. Pabrik dengan nilai investasi lebih dari Rp1,5 T tersebut telah resmi beroperasi pada Juni 2025. PT Trina Mas Agra Indonesia sendiri merupakan perusahaan patungan antara anak usaha DSSA, PT Daya Sukses Makmur Selaras, bersama Trina Solar Co. Ltd dan PT PLN Indonesia Power Renewables. Selain melalui PT Trina Mas Agra Indonesia, DSSA juga menggarap bisnis energi surya melalui PT Daya Mas Agra Sejahtera, yang menawarkan sistem tenaga surya atap untuk sektor industri dan komersial dengan merek Dian Solar. Sebelumnya, pemerintah pada pekan lalu telah resmi memulai program pembangunan PLTS dengan target total kapasitas 100 GWp, di mana Presiden Prabowo Subianto menargetkan pemerintah dapat merealisasikannya dalam waktu 3 tahun.
  • $TPIA: Chandra Asri Pacific mengumumkan bahwa anak usahanya, PT Chandra Pelabuhan Nusantara, telah mendapatkan izin berusaha pengoperasian terminal umum dari Kementerian Perhubungan, sehingga perusahaan tersebut kini terbuka untuk mendukung kebutuhan logistik eksternal, khususnya untuk mendukung rantai pasok industri di Cilegon dan sekitarnya. Pelabuhan milik PT Chandra Pelabuhan Nusantara sendiri didukung oleh 3 dermaga dengan kapasitas hingga 80.000 DWT, fasilitas penyimpanan yang terdiri atas 56 tangki dengan kapasitas gabungan 501.606 meter kubik, serta memfasilitasi kegiatan bongkar muat berbagai produk kimia dan petroleum olahan cair. Dengan dibukanya akses bagi pengguna eksternal, PT Chandra Pelabuhan Nusantara berpeluang untuk membangun kerja sama yang lebih luas dengan pelaku industri yang membutuhkan solusi kepelabuhanan dan logistik untuk produk cair serta bahan baku industri.
  • $PGAS: Perusahaan Gas Negara menandatangani perjanjian pembelian gas dengan Mont D’Or Oil Tungkal Ltd. dari wilayah kerja Tungkal, Jambi sebesar 5,45 BBTUD untuk periode 2026–2034, sebelum nantinya ramping down (menurun secara bertahap) hingga 2040. PGAS menyebut perjanjian pembelian gas ini akan mendukung keandalan penyaluran gas ke pelanggan.
  • $APEX: Apexindo Pratama Duta berencana menggelar private placement sebanyak ~218,1 juta saham baru dengan harga pelaksanaan Rp325/lembar dan efek dilusi hingga 5,79% untuk mengkonversi utang kepada 2 kreditur sindikasi luar negeri, HSBC Bank Plc dan The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Ltd., senilai total US$4,1 juta dolar AS atau ~Rp70,9 M. Pasca–restrukturisasi, total kewajiban perseroan kepada kedua kreditur tersebut turun dari US$36,3 juta menjadi US$8,7 juta. Rencana ini akan dibahas dalam RUPSLB pada 7 Oktober 2026.

🔎 Insider Transactions

Source: IDX

Top Gainer 🔥

$SMGR $TAPG $CUAN $SGER
+16,89%+11,48%+11,04%+10,08%

Top Loser 🤕

$EMAS $PSAB $ISAT $INDF
-8,33%-5,04%-4,40%-4,00%

 🔥 Hal lain yang lagi hot yang perlu kamu ketahui…

  • Harga minyak mentah Brent naik sekitar +2% ke kisaran US$92,3/barrel pada Selasa (1/9) sore, melanjutkan kenaikan sebesar +1,3% pada perdagangan Senin (31/8). Kenaikan harga minyak didorong oleh ketegangan baru antara AS–Iran, yang memicu kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan pada aktivitas logistik energi melalui Selat Hormuz. Bloomberg melaporkan bahwa Iran menargetkan pangkalan udara AS di Yordania, meski media setempat melaporkan bahwa serangan rudal Iran berhasil dicegat. Menanggapi serangan ini, Presiden Donald Trump mengatakan kepada Fox News pada Senin (31/8) bahwa AS akan merespons serangan tersebut, yang memunculkan kemungkinan terjadinya eskalasi militer. Bloomberg mengatakan bahwa sejumlah pejabat serta mantan pejabat AS dan Iran memperkirakan konflik ini akan berlarut–larut selama berbulan–bulan.
  • Rapat paripurna DPR pada Selasa (1/9) menyetujui Destry Damayanti sebagai gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman sebagai deputi gubernur senior Bank Indonesia, serta Solikin M. Juhro sebagai deputi gubernur Bank Indonesia, menyusul persetujuan dari Komisi XI DPR pada pekan lalu. Destry mengatakan bahwa stabilitas ekonomi akan menjadi prioritas utamanya di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
  • Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik +5 bps ke level 3% pada Selasa (1/9), menandai level tertinggi sejak 1996, setelah Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, memberi sinyal bahwa pemerintah AS ingin bank sentral Jepang menaikkan suku bunga lebih agresif. Pernyataan Bessent tersebut muncul saat dirinya bertemu dengan Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, dan Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, di sela pertemuan G20 pada Senin (31/8). Kenaikan yield obligasi pemerintah Jepang tersebut merupakan bagian dari global bond sell–off, di mana yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025 pada Senin (31/8) di level 4,78%. Konsensus kini memperkirakan bank sentral Jepang akan menaikkan suku bunga +25 bps ke 1,25% dalam rapat kebijakan moneter pada 18 September 2026. Financial Times melaporkan bahwa sejumlah ekonom dan trader menilai yield di atas 3% dapat menimbulkan keraguan atas kemampuan pemerintah Jepang dalam mengelola fiskalnya, sekaligus berpotensi mendorong perusahaan asuransi Jepang melepas obligasi AS dan merepatriasi dananya ke pasar domestik.
  • BPS mencatat bahwa kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia mencapai ~1,5 juta orang pada Juli 2026 (+3% YoY, +10% MoM). Hasil ini membuat kunjungan wisman selama 7M26 mencapai ~9 juta orang (+5,2% YoY), setara 51–56% target 2026 dari pemerintah di kisaran 16–17,6 juta orang.
  • PT PP ($PTPP) melalui skema kerja sama operasi (KSO) mendapatkan kontrak pembangunan jalan hauling batu bara senilai Rp970 M di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan dengan masa pelaksanaan selama 540 hari. PTPP merupakan leader project KSO tersebut, dengan porsi kepemilikan 65%.
  • Semen Indonesia ($SMGR) berencana menggabungkan 7 anak usaha ke dalam PT Semen Indonesia Distributor, meliputi PT Semen Kupang Indonesia, PT Semen Indonesia International, PT Bima Sepaja Abadi, PT Bima Sepaja Abadi Logistik, PT Sepatim Batamtama, PT Sinergi Informatika Semen Indonesia, dan PT Sinergi Mitra Investama. Proses penggabungan dijadwalkan berlangsung dalam beberapa tahap hingga 8 Oktober 2026, termasuk persetujuan pemegang saham. Selain itu, SMGR juga berencana menggabungkan 3 anak usaha di bidang beton siap pakai ke dalam PT Varia Usaha Beton, mencakup PT Semen Indonesia Beton, PT Solusi Bangun Beton, dan PT Readymix Concrete Indonesia. Kedua aksi korporasi dilakukan seiring arahan dari Danantara terkait penataan anak usaha di lingkungan BUMN, serta ditujukan untuk memperkuat posisi strategis, daya saing, dan skala bisnis secara terintegrasi.
  • COO Danantara, Dony Oskaria, mengatakan pada Senin (31/8) bahwa pihaknya tengah menyiapkan skema dukungan finansial untuk Adhi Karya ($ADHI), dengan fokus utama guna merampungkan proyek hunian LRT City yang dikembangkan anak usaha perseroan, Adhi Commuter Properti ($ADCP). Bisnis melaporkan bahwa bantuan finansial tersebut ditargetkan dapat terealisasi pada September 2026. Dony menyebut bahwa opsi bantuan finansial yang dipertimbangkan mencakup penambahan ekuitas maupun shareholder loan.

🤵 The FED Kembali Hawkish: Apa Dampaknya Terhadap IHSG?

“Pasar yang kuat tidak selalu ditandai oleh kenaikan ketika berita positif. Kualitas tren justru terlihat ketika sentimen negatif datang, tetapi harga tetap menolak membentuk lower low baru.” — Rohal

Kutipan menarik dari komunitas Stockbit minggu ini

Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole kembali meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga AS masih berpotensi dinaikkan pada pertemuan September 2026, seiring fokus The Fed yang tetap tertuju pada pengendalian inflasi, terutama karena inflasi PCE masih berada di atas target 2%. Kondisi tersebut langsung direspons oleh pasar global melalui kenaikan yield obligasi AS dan penguatan indeks dolar, sementara harga emas dan indeks saham AS mengalami tekanan, sehingga secara teori menciptakan sentimen yang kurang kondusif bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Meski demikian, sentimen tersebut belum cukup kuat untuk mengubah pandangan Stockbitor Rohal bahwa IHSG masih berada pada tahap awal fase markup. Pergerakan IHSG mulai menunjukkan stabilitas dengan tidak lagi membentuk lower low secara agresif, sementara tekanan koreksi cenderung semakin terbatas dan sektor perbankan tetap menjadi salah satu sektor yang memimpin kuat. Oleh karena itu, fokus investor sebaiknya tidak hanya tertuju pada kemungkinan koreksi akibat sentimen hawkish The Fed, tetapi juga pada kedalaman koreksi serta kekuatan buyer dalam mempertahankan area support dalam beberapa sesi mendatang untuk menilai kekuatan tren. Selain itu, Rohal juga menuliskan skenario respon pasar pada tulisan selengkapnya di sini!

Copyright 2026 Stockbit, all rights reserved.

Disclaimer:

Konten ini ditulis oleh PT Stockbit Karya Indonesia (“Stockbit”), perusahaan media ekonomi dan keuangan yang menghadirkan berita, analisis, dan insight tentang dunia bisnis, investasi, dan kebijakan ekonomi, khususnya yang terkait Pasar Modal.

Selanjutnya, semua keputusan investasi nasabah mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas investasi tersebut. Seluruh risiko investasi bukan merupakan tanggung jawab Stockbit melainkan menjadi tanggung jawab masing–masing nasabah.

Domain resmi Stockbit adalah https://stockbit.com/ dan semua informasi yang dikirimkan oleh kami akan menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit dan/atau alamat email yang diakhiri @Stockbit.com.

Semua pemberian Informasi Rahasia kepada pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit namun tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit merupakan tanggung jawab pribadi pihak pemilik Informasi Rahasia dan kami tidak bertanggung jawab atas setiap penyalahgunaan Informasi Rahasia yang dilakukan oleh pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit yang tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit.