Purbaya: Penempatan Dana SAL di Himbara Diperpanjang hingga Juli 2027 by Stockbit Investment Research

  • Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pada Rabu (5/8) bahwa pemerintah akan memperpanjang penempatan dana saldo anggaran lebih (SAL) sebesar Rp200 T di himpunan bank milik negara (Himbara) hingga Juli 2027.

  • Pernyataan Purbaya tersebut muncul sehari setelah dirinya mengatakan bahwa pemerintah kemungkinan akan mempertahankan penempatan dana SAL di Himbara hingga 2027 [https://stockbit.com/post/34476284].

  • Purbaya juga menambahkan bahwa special mission vehicles di bawah kementeriannya — seperti PT Sarana Multi Infrastruktur dan PT Sarana Multigriya Finansial — yang menempatkan deposito di Himbara akan mendapatkan suku bunga yang sama dengan deposito pemerintah mulai pekan depan di 80% dari BI Rate guna mengurangi biaya pendanaan Himbara dan membantu menurunkan suku bunga pinjaman.

  • Sebelumnya, Purbaya pada Juni 2026 mengatakan bahwa pemerintah akan kembali menginjeksi dana SAL ke Himbara dengan potensi mencapai Rp400 T [https://stockbit.com/post/33149339].

[Sumber: Reuters, Bloomberg]


Ditulis oleh Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.

BUVA Update Rincian Rights Issue, Incar Dana Rp1,5 T dengan Harga Pelaksanaan Rp250/Lembar by Stockbit Investment Research

  • Bukit Uluwatu Villa ($BUVA) mengumumkan update rincian rencana rights issue yang telah disetujui pemegang saham dalam RUPSLB pada 26 Februari 2026, di mana perseroan kini berencana menerbitkan ~6,2 miliar saham baru dengan harga Rp250/lembar, rasio 4 saham lama mendapatkan 1 rights, dan efek dilusi hingga 20%.

  • Potensi perolehan dana dari aksi korporasi ini mencapai ~Rp1,5 T, yang ditujukan untuk: 1) penyertaan modal di PT Bukit Bali Permai guna mengakuisisi PT Royal Uluwatu Residence dan proyek pengembangan West Resort di Uluwatu; 2) pembayaran dipercepat atas seluruh pokok utang pinjaman pembiayaan; 3) pembangunan infrastruktur proyek Uluwatu Estate dan renovasi Alila Ubud; dan 4) serta penyertaan modal di PT Bukit Lagoi Villa untuk pengembangan infrastruktur kawasan wisata terpadu di Lagoi, Bintan.

  • Pengendali BUVA, PT Nusantara Utama Investama, berkomitmen untuk melaksanakan 2,4 miliar rights dari total haknya sebesar ~3,8 rights.

  • Aksi korporasi ini memiliki sejumlah pembeli siaga, yakni PT Henan Putihrai Sekuritas sebesar maksimum Rp100 M, PT Tata Tirta Datun maksimum Rp350 M, Hapsoro maksimum Rp100 M, dan Ferry Sudjono maksimum Rp388,6 M.

  • Jadwal cum rights di pasar reguler dan negosiasi pada 24 September 2026, sementara jadwal periode perdagangan dan pelaksanaan rights pada 1–14 Oktober 2026.

[Sumber: Keterbukaan Informasi]


Ditulis oleh Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.

BUMI: Laba Bersih Naik Hampir 3x selama 1H26 by Stockbit Investment Research

Photo by: Stockbit

Stockbit's take:

  • Bumi Resources ($BUMI) mencatat laba bersih US$35 juta pada 2Q26 (vs. 1Q26: US$24 juta, 2Q25: US$3 juta), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai US$59 juta (vs. 1H25: US$20 juta).

  • Kinerja BUMI pada 2Q26 hingga akun ‘profit before minority interest’ (-24% QoQ) tertekan oleh kerugian Bumi Resources Minerals ($BRMS) [https://stockbit.com/post/34415123], seiring konsolidasi yang dilakukan BUMI terhadap BRMS meski kepemilikan efektifnya hanya ~20% per Juni 2026.

  • Secara underlying, kinerja BUMI di segmen batu bara tetap solid pada 2Q26, tercermin dari kenaikan pendapatan segmen batu bara (+19% QoQ, +52% YoY), serta meningkatnya kontribusi dari joint venture PT Kaltim Prima Coal (+80% QoQ, +410% YoY). Sementara itu, pendapatan dari segmen emas melemah signifikan pada 2Q26 (-56% QoQ, -48% YoY), yang ~90% di antaranya disumbang oleh BRMS.

  • Kami menyarankan investor untuk lebih memperhatikan akun ‘profit after minority interest’ karena telah menormalisasi dampak kepentingan non–pengendali (minority interest). Setelah memperhitungkan efek tersebut, porsi kerugian BRMS yang menjadi beban BUMI hanya sebesar US$0,9 juta (setara ~3% laba bersih BUMI pada 2Q26).

  • Selama 1H26, pertumbuhan laba bersih didukung oleh kenaikan pendapatan segmen batu bara (+37% YoY), meningkatnya kontribusi dari PT Kaltim Prima Coal (+205% YoY), serta berkurangnya kerugian dari penjualan dan impairment aset tetap menjadi US$0,01 juta (vs. 1H25: rugi US$14 juta).

  • Hingga tulisan ini dibuat, BUMI belum merilis data kinerja operasional untuk periode 2Q26.

[Sumber: Laporan Keuangan]


Ditulis oleh Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.

BEI Tambah Notasi Khusus ‘P’ terkait Free Float, Hapus Notasi Khusus ‘E’, ‘D’, ‘A’ & ‘S’ by Stockbit Investment Research

  • BEI pada Jumat (31/7) merilis surat edaran yang akan menghapus dan menambah notasi khusus, mencakup penambahan notasi khusus ‘P’ serta penghapusan notasi khusus ‘E’, ‘D’, ‘A’, dan ‘S’.

  • Notasi khusus ‘P’ menunjukkan bahwa saham terkait tidak memenuhi ketentuan minimum free float [https://stockbit.com/post/29867627], di mana notasi khusus ini akan mulai diberlakukan pada 30 November 2026 untuk papan akselerasi dan 30 April 2027 untuk papan utama dan papan pengembangan.

  • Adapun penghapusan notasi khusus ‘E’, ‘D’, ‘A’, dan ‘S’ akan dilakukan setelah 30 November 2026.

  • Sebagai konteks, notasi khusus ‘E’ menandakan laporan keuangan terakhir menunjukkan ekuitas negatif, ‘D’ menandakan adanya opini “tidak menyatakan pendapat (disclaimer)” dari akuntan publik, ‘A’ menandakan adanya opini tidak wajar (adverse) dari akuntan publik, dan ‘S’ menandakan laporan keuangan terakhir menunjukkan tidak ada pendapatan usaha.

[Sumber: Surat Edaran BEI]


Ditulis oleh Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.

INDF 1H26: Laba Bersih Terdampak Rugi Kurs, Operasional Sejalan Ekspektasi by Stockbit Investment Research

Photo by: Stockbit

Stockbit’s take:

  • Indofood Sukses Makmur ($INDF) mencatat laba bersih Rp1,8 T pada 2Q26 (-43% YoY, -40% QoQ), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai Rp4,7 T (-19% YoY).

  • Laba bersih terdampak kerugian kurs seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ke level ~17.900 per 30 Juni 2026

  • Secara operasional, pendapatan relatif solid meski terdilusi lonjakan opex. Laba usaha mencapai Rp5,3 T pada 2Q26 (+10% YoY) dan Rp11,7 T selama 1H26 (+5% YoY), yang kami nilai sejalan ekspektasi.

  • Secara segmental, ‘Bogasari’ menjadi segmen yang outperform bagi INDF sementara ‘consumer branded products’ di bawah Indofood CBP Sukses Makmur ($ICBP) mencatat kinerja moderat.

Top–line Solid, tapi Opex Melonjak akibat Kenaikan Biaya Logistik serta Iklan & Promosi

INDF mencatat kenaikan pendapatan +12%/+9% YoY pada 2Q26/1H26, didorong kinerja ICBP yang bukukan pertumbuhan top–line +15%/+11% YoY pada 2Q26/1H26. Namun, pertumbuhan top–line ICBP tersebut terdilusi oleh lonjakan opex +29%/+17% YoY pada 2Q26/1H26, utamanya akibat kenaikan biaya logistik serta iklan & promosi. Hal ini menyebabkan laba usaha segmen ICBP hanya tumbuh +7/4% YoY pada 2Q26/1H26. Laba usaha keseluruhan INDF tumbuh sedikit lebih tinggi +10/+5% YoY, didorong kinerja segmen ‘Bogasari’ yang mencatatkan kenaikan laba usaha +18/+21% YoY pada 2Q26/1H26, didorong top–line maupun margin yang lebih tinggi.

Total Rugi Kurs Rp2,2 T selama 1H26, Mayoritas pada 2Q26 (Rp1,7 T)

Kerugian kurs selama 1H26 utamanya datang dari aktivitas pendanaan (obligasi), berbalik dari keuntungan kurs pada 2Q25 dan 1H25 yang masing–masing sebesar Rp912 M dan Rp261 M. Sementara dari aktivitas operasional, INDF mencatat kenaikan keuntungan kurs ke level Rp1,2 T pada 1H26 (vs. 1H25: Rp492 M), yang kami duga dari pemulihan kurs operasional di Nigeria.


Ditulis oleh Edi Chandren, Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.

CNBC: TLKM Pertimbangkan Jual MDI Ventures by Stockbit Investment Research

  • CNBC melaporkan bahwa Telkom Indonesia ($TLKM) melalui anak usahanya, PT Multimedia Nusantara (TelkomMetra), sedang mempertimbangkan untuk menjual MDI Ventures.

  • Narasumber CNBC mengatakan bahwa pertimbangan divestasi tersebut masih dalam tahap awal dan belum ada keputusan akhir yang dibuat, sembari menambahkan bahwa TelkomMetra telah menyewa Jefferies sebagai penasihat kesepakatan tersebut.

  • Perwakilan MDI Ventures dan Jefferies enggan mengomentari isu ini kepada CNBC, sementara TelkomMetra belum memberikan tanggapan.

  • MDI Ventures sendiri merupakan salah satu investor teknologi milik negara yang paling aktif di Indonesia dengan portofolio lebih dari 80 perusahaan, di mana 6 di antaranya berstatus unicorn seperti platform kredit digital Kredivo serta penyedia layanan sistem pembayaran Nium yang berbasis di San Francisco dan Singapura.

  • CNBC menyebut bahwa rencana divestasi MDI Ventures muncul menyusul vonis korupsi terhadap 2 mantan eksekutif perusahaan tersebut terkait investasi di startup agritech TaniHub, serta di tengah kabar arahan pemerintah kepada TLKM untuk memangkas jumlah anak usahanya [https://stockbit.com/post/32165861].

[Sumber: CNBC]


Ditulis oleh Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.

RATU Berencana Private Placement untuk Modal Kerja & Pengembangan Usaha by Stockbit Investment Research

  • Raharja Energi Cepu ($RATU) berencana menggelar private placement hingga ~271,5 juta saham baru dengan efek dilusi hingga 9,09%.

  • Harga pelaksanaan dan calon investor belum diumumkan, sementara perolehan dana ditujukan untuk modal kerja serta pengembangan kegiatan usaha.

  • Rencana ini akan dibahas dalam RUPSLB pada 8 September 2026.

[Sumber: Keterbukaan Informasi]


Ditulis oleh Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.

BUMI Teken Kontrak FEED & EPCC untuk Proyek Coal–to–Methanol Senilai US$2,3 Miliar by Stockbit Investment Research

  • Bumi Resources ($BUMI) melalui entitas usahanya, PT Bumi Etam Chemical menandatangani kontrak front–end engineering design (FEED) serta kesepakatan engineering, procurement, construction, and commissioning (EPCC) dengan PT Istana Karang Laut dan China National Chemical Engineering Co. Ltd. guna menggarap proyek hilirisasi batu bara berupa coal–to–methanol.

  • Kontan melaporkan bahwa proyek yang berlokasi di Kutai Timur, Kalimantan Timur ini merupakan pionir fasilitas produksi coal–to–methanol di Indonesia, di mana PT Bumi Etam Chemical mengestimasikan nilai investasi untuk proyek ini mencapai ~US$2,3 miliar.

  • Fasilitas produksi coal–to–methanol ini akan menghasilkan metanol dan sulphuric acid sebagai produk sampingan dengan kapasitas produksi awal sebesar 2 juta ton per tahun, di mana selanjutnya BUMI berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas hingga 3,6 juta ton per tahun.

  • Untuk bahan baku produksi dan pembangkit listrik, fasilitas tersebut membutuhkan pasokan batu bara sebanyak ~7,8 juta ton per tahun, di mana PT Bumi Etam Chemical akan menggunakan batu bara kalori rendah 3.400 kcal/kg GAR.

  • Proyek ini dijadwalkan akan menempuh proses final investment decision hingga initial operation pada Agustus 2026–2029, dengan target beroperasi secara penuh pada 2030.

[Sumber: Kontan]


Ditulis oleh Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.

INCO 1H26: Laba Bersih +313% YoY, Sejalan dengan Ekspektasi by Stockbit Investment Research

Photo by: Stockbit

Stockbit's take:

  • Vale Indonesia ($INCO) mencatat laba bersih US$104 juta pada 1H26 (+313% YoY), sejalan ekspektasi (50% estimasi 2026F konsensus di US$207 juta).

  • Lonjakan laba bersih tersebut utamanya berasal dari ekspansi margin seiring beban pokok pendapatan yang justru turun -1% YoY di saat pendapatan naik +27% YoY menjadi US$543 juta, sehingga margin laba kotor selama 1H26 naik ke level 28% (vs. 1H25: 7,1%) dan mengalir hingga ke margin laba usaha yang naik ke 19,2% (vs. 1H25: 5,9%).

  • Seluruh pertumbuhan pendapatan ditopang bijih nikel yang mencapai US$142 juta (vs. 1H25: US$5 juta) yang berkontribusi 26% dari total pendapatan, sementara pendapatan nickel matte turun -5% YoY akibat volume penjualan -21% YoY menjadi 27.659 ton meski ASP naik +21% YoY menjadi US$14.491/ton.

  • Secara kuartalan, laba bersih 2Q26 tercatat US$61 juta (+39% QoQ, +1.660% YoY) dengan margin laba kotor naik ke level 32,9% (vs. 1Q26: 22,5%). Kenaikan ini sebagian besar berasal dari perubahan nilai persediaan yang melonjak menjadi positif US$64 juta (vs. 1Q26: positif US$25 juta), sehingga akumulasinya mencapai positif US$89 juta pada 1H26, didominasi bijih untuk dijual sebesar positif US$49 juta.

  • Selain itu, normalisasi pajak efektif ke level 30,4% (vs. 1Q26: 6,3%) membuat kenaikan laba sebelum pajak (+87% QoQ) tidak sepenuhnya mengalir ke laba bersih.

Stockbit’s View: Fondasi Operasional Menguat, Kuota RKAB Jadi Penentu 2H26

  • Kami tetap mempertahankan pandangan positif kami terhadap INCO sejak 1Q26, yang kini dikonfirmasi oleh laba bersih 1H26 setara 50% estimasi 2026F konsensus (vs. 1Q26: 20% 2026F) dan biaya tunai nickel matte yang kembali mendekati target manajemen, di mana keduanya merupakan variabel yang kami soroti pada 1Q26 [https://stockbit.com/post/31528982].

  • Meski demikian, ASP bijih nikel gabungan yang turun ke US$36/wmt pada 2Q26 (vs. 1Q26: US$59/wmt) — yang kami asumsikan berasal dari pergeseran bauran seiring porsi blok Pomalaa yang lebih banyak berisi limonit naik dari 9% ke 54% total volume bijih — menjadi poin utama yang akan kami cermati pada earnings call mendatang.

  • Untuk 2H26, kami mengekspektasikan kinerja INCO akan ditopang oleh: 1) rampungnya pembangunan kembali furnace 3 pada Juni 2026 sesuai jadwal 1H26, sehingga tidak ada lagi overhang produksi nickel matte pada 2H26 untuk mencapai target manajemen di 67.645 ton (vs. 1H26: 44% target); 2) skala segmen bijih nikel yang terus meningkat, dengan cash cost blok Pomalaa turun ke US$7/ton (vs. 1Q26: US$13/ton) seiring kenaikan volume produksi yang berakibat pada economies of scale; dan 3) disiplin biaya nickel matte yang kembali ke target manajemen di US$10.005/ton pada 2Q26 (vs. 1Q26: US$10.382/ton), meski harga HSFO, diesel, dan batu bara masing–masing naik +25%, +40%, dan +12% QoQ.

  • Key upside: 1) persetujuan revisi RKAB untuk blok Pomalaa dan Bahodopi yang saat ini masih 30% dari volume yang diajukan; 2) naiknya harga nikel global seiring pengetatan kuota produksi bijih nikel nasional, yang menurut manajemen mulai menyeimbangkan kembali pasokan nikel dunia; dan 3) realisasi persediaan sebesar positif US$89 juta yang menumpuk pada 1H26 menjadi penjualan dan arus kas pada 2H26, seiring produksi nickel matte yang melampaui penjualan.

  • Faktor risiko: 1) tidak terealisasinya revisi kuota RKAB yang berdampak pada outlook volume produksi dan penjualan bijih nikel perseroan; 2) potensi kenaikan lanjutan biaya energi seiring dinamika geopolitik; dan 3) risiko pasar terus mendiskon faktor kepastian outlook volume penjualan bijih nikel, dengan harga saham turun –31,8% dalam 3 bulan terakhir ke Rp4.640/saham, sementara estimasi laba bersih 2026F konsensus hanya direvisi turun -4,6% pada periode yang sama.

[Sumber: Laporan Keuangan, Press Release]


Ditulis oleh Theodorus Melvin, Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.

The Fed Pertahankan Suku Bunga, Sejalan Ekspektasi, tapi Market Volatil by Stockbit Investment Research

The Fed pada Rabu (29/7) waktu setempat memutuskan untuk mempertahankan suku bunga AS di kisaran 3,5–3,75%, sejalan dengan ekspektasi, meski terdapat dissenting opinion dari 3 anggota komite yang menginginkan kenaikan 25 bps. Dalam konferensi persnya, Kepala The Fed, Kevin Warsh, menyatakan kembali komitmennya untuk menurunkan level inflasi.

Reaksi Pasar

  • Harga emas naik +0,9% ke US$4.066/oz

  • Indeks dolar AS (DXY) turun -0,6% ke 100,8

  • S&P500 turun -1,5% ke 7.316

  • Yield obligasi pemerintah AS 10 tahun naik ~8 bps sementara tenor 2 tahun turun tipis ~1 bps

  • Reuters mengutip ekonom Bank America bahwa respons pasar pasca–pengumuman tersebut mengindikasikan pasar keuangan mempertanyakan kredibilitas The Fed.

[Sumber: Reuters]

📝Stockbit’s Commentary

Meski DXY melemah, kami menilai nilai tukar rupiah belum tentu akan menguat, mengingat: 1) isu kredibilitas The Fed meningkatkan premi risiko secara keseluruhan; 2) harga minyak yg kembali tembus US$90/barrel; serta 3) market masih menunggu siapa calon definitif gubernur Bank Indonesia.


Ditulis oleh Edi Chandren, Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.

UNTR 1H26: Laba Bersih -88% YoY, Jauh di Bawah Ekspektasi by Stockbit Investment Research

Photo by: Stockbit

Stockbit’s take:

  • United Tractors ($UNTR) mencatat laba bersih Rp314 M pada 2Q26 (-94% YoY, -51% QoQ). Hasil ini membuat laba bersih selama 1H26 hanya mencapai Rp956 M (-88% YoY), jauh di bawah ekspektasi karena baru mencapai 8% estimasi 2026F konsensus.

  • Pelemahan ini salah satunya disebabkan oleh beban one–off sebesar Rp3,3 T yang mencakup pembayaran terkait persetujuan penggunaan kawasan hutan (PPKH) di tambang Stargate pada 1Q26, serta impairment atas nilai joint venture (JV) dan piutang non–usaha PT Supreme Energy Rantau Dedap yang bergerak di sektor geothermal pada 2Q26. Nilai investasi pada JV tersebut kini telah menjadi nihil.

  • Di luar beban one–off tersebut, laba bersih selama 1H26 mencapai Rp4,3 T (-48% YoY), tetap jauh di bawah ekspektasi karena baru mencapai 38% estimasi 2026F konsensus. Pelemahan ini terutama disebabkan oleh pendapatan yang turun -15% YoY, sementara beban pokok pendapatan hanya turun -11% YoY, sehingga margin laba kotor tertekan menjadi 18% (vs. 1H25: 22%).

  • Seluruh segmen usaha mencatat penurunan laba bersih dan kinerja operasional secara tahunan selama 1H26, utamanya akibat pemangkasan kuota produksi RKAB 2026 dan pencabutan izin operasional PT Agincourt Resources selaku pengelola tambang Martabe pada awal 2026.

Seluruh Segmen Catat Pelemahan Kinerja Operasional secara Tahunan pada 2Q26/1H26

  • Di antara seluruh lini usaha, penjualan Komatsu dan emas masih berada di bawah guidance manajemen yang telah direvisi turun jika dibandingkan dengan realisasi tahunan 1H25. Kedua segmen tersebut juga menjadi penekan utama terhadap laba bersih konsolidasi UNTR.

  • Adapun penjualan emas dan laba bersih segmen ‘gold and other minerals' mulai membaik secara kuartalan pada 2Q26 seiring kembali beroperasinya tambang Martabe pada pertengahan Mei 2026 serta efek low–base pembayaran PPKH pada 1Q26.

  • Sementara itu, segmen ‘mining contractor’ menjadi yang paling resilient berkat penguatan dolar AS, meski volume overburden melemah. Segmen ini menjadi satu–satunya yang mencatat pertumbuhan pendapatan secara tahunan pada 2Q26/1H26 (+12% YoY/+6% YoY). Laba bersihnya juga naik +46% QoQ/+12% YoY pada 2Q26, meski melemah selama 1H26.

  • Lihat tabel di bawah untuk rincian kinerja operasional masing–masing segmen usaha UNTR.

Stockbit’s View

  • Secara umum, kami menilai prospek UNTR akan sangat bergantung pada perkembangan kebijakan sektor komoditas, terutama potensi revisi kuota produksi RKAB pada akhir Juli 2026 serta rencana penerapan bea ekspor emas.

  • Meskipun kinerja berpotensi membaik pada 2H26, kami menilai UNTR akan sulit membukukkan laba bersih yang sejalan dengan estimasi 2026F konsensus, sehingga kinerja selama 1H26 tergolong di bawah ekspektasi.

  • Kami akan menyampaikan ulasan yang lebih lengkap mengenai kinerja 1H26 UNTR setelah mengikuti earnings call pada hari ini, Kamis (30/7), pukul 16.30 WIB.


Ditulis oleh Everson Sugianto, Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.

TINS 1H26: Laba Bersih +805% YoY, Lampaui Ekspektasi by Stockbit Investment Research

Photo by: Stockbit

Stockbit's take:

  • Timah ($TINS) mencatat laba bersih Rp2,7 T pada 1H26 (+805% YoY), melampaui ekspektasi (70% estimasi 2026F konsensus Rp3,9 T).

  • Lonjakan laba tersebut utamanya berasal dari ekspansi margin seiring pendapatan yang naik +147% YoY menjadi Rp10,4 T akibat kenaikan ASP logam timah (+52% YoY) dan volume penjualan (+85% YoY), sementara beban pokok pendapatan hanya naik +89% YoY. Selama 1H26, margin laba kotor naik ke level 39% (vs. 1H25: 20%) dan mengalir hingga ke margin laba bersih yang meningkat ke level 26,1% (vs. 1H25: 7,1%).

  • Secara kuartalan, laba bersih pada 2Q26 mencapai Rp1,2 T (-19% QoQ, +563% YoY). Penurunan laba bersih secara kuartalan utamanya disebabkan oleh volume penjualan yang turun menjadi 4.975 MT (-17% QoQ, +63% YoY) di saat produksi logam timah justru mencapai 5.235 MT (-7% QoQ, +39% YoY) dan berdampak pada perubahan nilai persediaan yang berbalik menjadi positif Rp220 M (vs. 1Q26: negatif Rp182 M).

  • Selain itu, penurunan laba bersih secara kuartalan pada 2Q26 juga disebabkan oleh pendapatan lain–lain yang berbalik negatif Rp40 M (vs. 1Q26: positif Rp37 M), yang sebagian besar berasal dari pos lain–lain yang tidak dirinci.

Stockbit's view: Momentum Volume Penjualan jadi Variabel Kunci pada 2H26

  • Kami tetap mempertahankan pandangan positif kami terhadap TINS sejak 4Q25, yang kini dikonfirmasi oleh laba bersih 1H26 yang telah mencapai 70% estimasi 2026F konsensus.

  • Untuk 2H26, pandangan kami ditopang oleh: 1) optimisme perseroan dapat mengejar volume produksi pada 2H26, mengingat realisasi produksi bijih timah selama 1H26 baru mencapai ~41% dari usulan RKAB 2026 di level 30 ribu ton bijih timah; 2) ASP yang berpotensi bertahan tinggi seiring pasar timah global yang masih mencatat defisit pasokan 5.720 ton pada 1H26 menurut CRU Tin Monitor; dan 3) posisi pangsa pasar yang menguat, dengan pangsa ekspor timah nasional TINS mencapai 56,5% pada 2Q26 (vs. 1Q26: 53,6%; 2Q25: 18,3%) dan 54,8% selama 1H26 (vs. 1H25: 20,3%).

  • Key upside TINS antara lain: 1) potensi one–off gain dari penyerahan aset sitaan negara yang hingga 1H26 belum diakui karena proses administrasi masih berjalan; 2) kenaikan harga timah global seiring harga timah LME global saat ini telah mencapai US$54.000/MT, di atas rata–rata periode 2Q26 di US$51.859/MT dan rata–rata periode 1H26 di US$50.319/MT; dan 3) realisasi penjualan atas persediaan yang tertahan pada 2Q26, seiring produksi yang melampaui penjualan sebanyak 260 MT.

  • Faktor risiko: 1) penurunan volume produksi dan penjualan lebih lanjut pada 2H26, setelah realisasi 2Q26 sebesar 4.975 MT berada di bawah perkiraan kami di kisaran 7.000–8.000 MT; 2) kenaikan biaya tunai ke US$23.220/MT pada 2Q26 (+14% QoQ, +19% YoY), yang kami nilai terutama didorong kenaikan biaya bahan baku, disertai naiknya biaya tetap per unit seiring volume produksi bijih timah yang turun -6% QoQ; dan 3) risiko pasar memperlakukan lonjakan laba sebagai puncak siklus: estimasi laba bersih 2026F konsensus direvisi naik +81% dalam 6 bulan terakhir menjadi Rp3,9 T, sementara harga saham TINS hanya menguat +6,75% YTD dan masih diperdagangkan pada ~6,3x P/E 2026F.


Ditulis oleh Theodorus Melvin, Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.

BEI Umumkan Evaluasi Indeks IDX30, LQ45, dan IDX80 by Stockbit Investment Research

BEI pada Senin (27/7) mengumumkan evaluasi indeks LQ45, IDX30, dan IDX80, dengan periode efektif pada 3 Agustus–30 Oktober 2026. Berikut rinciannya:

  • LQ45

    • Masuk: INDY, $NCKL

    • Keluar: SMGR, TOWR

  • IDX30

    • Masuk: $DEWA

    • Keluar: PTBA

  • IDX80

    • Masuk: $BFIN, LSIP, NCKL

    • Keluar: INTP, PANI, SIDO

[Sumber: Keterbukaan Informasi]


Ditulis oleh Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.

MEDC 1H26: Produksi Minyak & Gas +19% YoY, Penjualan Listrik +16,5% YoY by Stockbit Investment Research

  • Medco Energi Internasional ($MEDC) mencatat produksi minyak dan gas sebesar 171 mboepd pada 2Q26 (+1,6% QoQ, +19,9% YoY), sehingga produksi minyak dan gas selama 1H26 mencapai 170 mboepd (+19% YoY) dan berada di rentang atas guidance 2026F di kisaran 165–170 mboepd.

  • Dari segmen penjualan listrik, MEDC mencatat penjualan listrik sebesar 1.270 GWh pada 2Q26 (+20,7% QoQ, +13,2% YoY), sehingga penjualan listrik selama 1H26 mencapai 2.323 GWh (+16,5% YoY) dan setara ~51% guidance 2026F di level 4.550 GWh.

  • MEDC juga mencatat bahwa proven and probable (2P) reserves tumbuh +12% YoY menjadi 541 mmboe selama 1H26.

[Sumber: Investor Relations]


Ditulis oleh Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.

BTPS 1H26: Laba Bersih +2% YoY, Sedikit di Bawah Ekspektasi by Stockbit Investment Research

Photo by: Stockbit

Stockbit’s take:

  • Bank BTPN Syariah ($BTPS) mencatat laba bersih Rp336 M pada 2Q26 (+1% YoY, +5% QoQ).

  • Realisasi ini membuat laba bersih BTPS selama 1H26 mencapai Rp655 M (+2% YoY), sedikit di bawah ekspektasi karena setara 49% estimasi 2026F konsensus (vs. rata–rata 2 tahun terakhir: 53% realisasi tahunan).

  • Hasil yang sedikit di bawah ekspektasi ini utamanya disebabkan oleh pertumbuhan pembiayaan yang didorong oleh segmen dengan yield rendah, sehingga Net Margin Income (NMI) turun -2% YoY selama 1H26 dan baru mencapai 46% estimasi 2026F konsensus (vs. rata–rata 2 tahun terakhir: 50% realisasi tahunan).

  • Di sisi lain, kenaikan laba bersih pada 2Q26/1H26 ditopang oleh penurunan beban provisi (-31% YoY/-34% YoY), sejalan dengan tren kinerja BTPS selama setahun terakhir.

  • Untuk 2026F, manajemen BTPS memperkirakan pertumbuhan laba bersih dapat mencapai double–digit, meningkat dari proyeksi sebelumnya pada earnings call 1Q26 yang berada di kisaran high–single digit [https://stockbit.com/post/30914429], salah satunya didukung oleh potensi pertumbuhan group financing yang lebih tinggi selama 2H26.

Kualitas Aset Terus Membaik, tapi Ruang Penurunan CoC Terbatas

  • NPF turun menjadi 2,4% per Juni 2026 (vs. Maret 2026: 2,6%, Juni 2025: 3,1%), terendah setidaknya sejak 2023.

  • Sementara itu, pembiayaan restrukturisasi akibat banjir di Sumatra menunjukan perbaikan yang cepat, dengan sisa saldo sebesar Rp155 M per Juni 2026 (vs. saldo awal: Rp302 M). Dari jumlah tersebut, dua pertiga nasabah telah kembali melakukan pembayaran secara tepat waktu.

  • Perbaikan kualitas aset membuat Cost of Credit (CoC) turun menjadi 5,2% selama 1H26 (vs. 1H25: 8,2%), terendah setidaknya sejak 2023. Namun, karena CoC telah berada di level yang relatif rendah, ruang penurunan lebih lanjut diperkirakan akan semakin terbatas.

  • Sementara itu, manajemen memperkirakan NPF Coverage Ratio — termasuk pembiayaan restrukturisasi — akan bertahan di sekitar level saat ini, yakni 202% hingga akhir tahun (vs. Maret 2026: 157%, Juni 2025: 248%).

Pertumbuhan Group Lending Masih Lemah, NMI Tertekan

  • BTPS mencatat pertumbuhan pembiayaan +9% YoY per Juni 2026, didorong oleh segmen ‘Non–Banking Financial Institutions’ (+157% YoY) dengan yield di kisaran single–digit. Di sisi lain, pembiayaan pada segmen group lending — yang memiliki double digit yield — justru flat secara tahunan.

  • Kondisi tersebut, ditambah macetnya sejumlah pembayaran nasabah terdampak banjir di Sumatra, menyebabkan performa NMI untuk melemah secara tahunan.

Stockbit’s View: Outlook 2H26 Bergantung pada Pertumbuhan Pembiayaan

  • Dengan ruang penurunan CoC yang semakin terbatas, kami menilai outlook kinerja BTPS ke depan akan lebih bergantung pada pertumbuhan segmen group financing.

  • Manajemen BTPS sendiri masih memperkirakan pertumbuhan group financing akan lebih kuat pada 2H26.

  • Manajemen memutuskan untuk menaikkan guidance pertumbuhan laba bersih 2026F menjadi double–digit, dari sebelumnya di kisaran high–single digit.

  • Terkait wacana penurunan suku bunga PNM dari 24% menjadi ~8%, manajemen menilai dampaknya tidak mengkhawatirkan karena 1) setiap kompetitor memiliki karakteristik yang berbeda; 2) penurunan bunga relatif kecil secara nominal mengingat ticket size pembiayaan yang rendah; 3) dan nasabah mikro pada umumnya memiliki ~2 pembiayaan dari 2 institusi yang berbeda.

Dividen & Aksi Korporasi

  • Di tengah Capital Adequacy Ratio (CAR) yang tinggi per Juni 2026 (59%), manajemen BTPS membuka peluang untuk secara bertahap meningkatkan dividend payout ratio.

  • Manajemen juga mengatakan sedang mengajukan program buyback kepada regulator dan memperkirakan persetujuannya akan diperoleh pada 3Q26. Nilai buyback tersebut diperkirakan lebih besar dibandingkan rencana tahun lalu yang dibatalkan dengan alokasi dana sebesar Rp927 M.


Ditulis oleh Everson Sugianto, Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.

BFIN Brief Results: Laba Bersih Tumbuh Solid +33% YoY/+9% YoY pada 2Q26/1H26, Lampaui Ekspektasi by Stockbit Investment Research

Photo by: Stockbit

  • BFI Finance Indonesia ($BFIN) mencatat laba bersih Rp475 M pada 2Q26 (+33% YoY, +34% QoQ).

  • Hasil ini membuat laba bersih BFIN selama 1H26 mencapai Rp829 M (+9% YoY), melampaui ekspektasi karena setara 51% estimasi 2026F konsensus (vs. rata–rata 2 tahun terakhir: 46% realisasi tahunan).

  • Kinerja BFIN didukung oleh penurunan beban provisi secara neto yang signifikan pada 2Q26 (-34% YoY, -45% QoQ), terutama dari segmen roda empat, sehingga beban provisi selama 1H26 tercatat flat secara tahunan (vs. 3M26: +39% YoY).

  • Manajemen BFIN sebelumnya telah menyampaikan potensi penurunan beban provisi secara neto dan cost of credit (CoC) dalam earnings call 1Q26 [https://stockbit.com/post/31158587], setelah CoC sempat melonjak pada 1Q26 yang salah satunya dipengaruhi oleh faktor seasonality.

  • Sementara itu, net interest income (NII) secara tahunan masih tumbuh +5% YoY/+6% YoY pada 2Q26/1H26, didukung oleh kenaikan managed receivables sebesar +4% YoY.

  • Adapun pertumbuhan managed receivables secara tahunan masih di bawah guidance manajemen di low–teens untuk 2026. Namun, sebelumnya manajemen memperkirakan pembiayaan akan tumbuh lebih solid pada 2H26 seiring banyaknya hari libur pada 1H26.

Kami akan menuliskan ulasan yang lebih detail mengenai kinerja BFIN selama 1H26 setelah mendengarkan earnings call manajemen pada Senin (27/7) pukul 09.00 WIB.


Ditulis oleh Everson Sugianto, Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.

Mahkamah Konstitusi Wajibkan Operator Telekomunikasi Sediakan Opsi Layanan Kuota Internet Rollover by Stockbit Investment Research

  • Mahkamah Konstitusi pada Kamis (23/7) mewajibkan operator telekomunikasi untuk menyediakan pilihan layanan kuota rollover atau kuota internet yang dapat diakumulasi jika masih terdapat sisa kuota yang belum digunakan oleh pelanggan.

  • Putusan Mahkamah Konstitusi tidak secara otomatis mewajibkan seluruh paket internet menjadi kuota tanpa batas waktu, di mana operator tetap dapat menawarkan berbagai skema layanan sepanjang konsumen diberikan pilihan yang menjamin perlindungan terhadap sisa kuota yang dimilikinya.

  • Mahkamah Konstitusi menegaskan bahwa kuota internet yang telah dibeli oleh konsumen merupakan benda tidak berwujud yang di dalamnya melekat hak milik pribadi, sehingga sisa kuota internet yang telah dibayar lunas oleh pengguna jasa telekomunikasi tidak boleh dihanguskan secara sewenang–wenang oleh operator.

  • Mahkamah Konstitusi menyatakan kuota internet yang telah dibeli konsumen memiliki nilai ekonomi riil, sehingga harus memperoleh perlindungan hukum sebagaimana hak milik pribadi yang dijamin oleh konstitusi.

[Sumber: Kompas, Kontan]


Ditulis oleh Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.

PTRO Dapat Kontrak Rp9,3 T dari 2 Anak Usaha SINI, SINI Estimasikan Pendapatan Rp57,1 T dari Produksi Batu Bara by Stockbit Investment Research

  • Petrosea ($PTRO) mengumumkan telah mendapatkan kontrak jasa pertambangan batu bara dari 2 anak usaha Singaraja Putra ($SINI), PT Pesona Bara Cakrawala dan PT Cakrawala Bara Persada, senilai total Rp9,3 T dengan durasi life of mine.

  • SINI memproyeksikan bahwa produksi batu bara PT Pesona Bara Cakrawala dari produksi sepanjang kontrak tersebut akan mencapai 42 juta ton dari overbuden removal sebanyak 189 juta bcm, sementara estimasi produksi PT Cakrawala Bara Persada sebanyak 8 juta ton dari overburden removal sebanyak 40 juta bcm.

  • SINI mengestimasikan pendapatan PT Pesona Bara Cakrawala dari produksi sepanjang kontrak tersebut akan mencapai ~US$2,6 miliar atau ~Rp45,6 T, sementara proyeksi pendapatan PT Cakrawala Bara Persada sebesar US$656 juta atau ~Rp11,5 T.

[Sumber: Keterbukaan Informasi]


Ditulis oleh Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.

Selain AS, Pemerintah Beri Relaksasi DHE SDA ke Eksportir Tujuan China, Australia & Kanada by Stockbit Investment Research

  • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pada Kamis (23/7) bahwa eksportir sumber daya alam (SDA) ke China, Australia, dan Kanada termasuk ke dalam kelompok yang mendapatkan relaksasi aturan devisa hasil ekspor SDA (DHE SDA).

  • Berdasarkan aturan saat ini, eksportir sumber daya alam yang tercakup dalam perjanjian bilateral atau perjanjian perdagangan tertentu akan mendapatkan keringanan kewajiban DHE SDA, dengan hanya 30% devisa hasil ekspor yang perlu ditahan di dalam negeri setidaknya selama 3 bulan dalam rekening valuta asing khusus di bank domestik, bukan hanya di bank BUMN.

  • Sebelumnya, relaksasi ini hanya diberikan kepada eksportir SDA ke AS.

[Sumber: Bloomberg]


Ditulis oleh Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.

Presiden Prabowo Angkat Wakil Menteri Pertanian Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional by Stockbit Investment Research

  • Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengatakan pada Rabu (22/7) bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menunjuk Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, sebagai kepala Badan Gizi Nasional, menggantikan Nanik S. Deyang yang mengundurkan diri.

  • Prasetyo menyebut bahwa pelantikan Sudaryono sebagai kepala Badan Gizi Nasional akan digelar pada hari ini agar tidak ada kekosongan jabatan dalam pelaksanaan tugas badan tersebut.

  • Sebelumnya, Nanik S. Deyang mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya pada Rabu (22/7) karena alasan kesehatan [https://stockbit.com/post/34003883].

[Sumber: Kompas, Bloomberg]


Ditulis oleh Stockbit Investment Research, tim riset dari Stockbit yang menyediakan analisis pasar saham Indonesia secara akurat, independen, dan real time.

Dapatkan informasi saham lengkap, data real time, dan analisa saham terbaru langsung di aplikasi Stockbit.