Executive Summary
Joint venture (JV) antara Trans Power Marine ($TPMA) dan Tsingshan, PT Trans Logistik Perkasa (TLP), berhasil mendatangkan ~40 set kapal tunda dan tongkang bekas pada 4Q23 dan sudah dalam kondisi operasional. Hal ini jauh lebih cepat dari ekspektasi awal kami dalam Mini Unboxing TPMA sebelumnya, yang memperkirakan kapal-kapal tersebut baru akan didatangkan paling cepat pada 2025. Meski demikian, kami tidak lagi mengekspektasikan re-rating valuasi TPMA, mengingat tren harga batu bara dan nikel masih cenderung lemah. Oleh karena itu, kami menilai upside harga saham TPMA ke depannya akan lebih didorong oleh pertumbuhan kinerja.
Ekspansi armada yang dilakukan Trans Power Marine ($TPMA) dan TLP kami prediksi dapat melanjutkan kinerja positif perseroan, dengan pertumbuhan laba bersih double digit pada 2024. Pada 4Q23 sendiri, kinerja perseroan mengindikasikan kinerja yang solid dengan volume angkut yang lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya. Kami memperkirakan laba bersih pada 2023 dapat tumbuh +21,1% YoY ke level US$17,3 juta.
TPMA sendiri berencana menambah armada kapal tunda dan tongkang dari ~35 set per akhir 2023 menjadi ~41 set pada 2024. Sementara itu, TLP berencana menambah armadanya menjadi ~53 set kapal dari sebelumnya 40 set kapal. Dengan ekspansi ini, kami memprediksi laba bersih TPMA pada 2024 akan mencapai US$20,3 juta (+17,4% YoY), dengan pendapatan sebesar US$68,6 juta (+7,4% YoY).
Potensi pertumbuhan laba bersih double digit pada 2023 dan 2024 pada akhirnya akan membuat dividen TPMA menjadi semakin atraktif. Kami memperkirakan perseroan dapat membagikan dividen dengan yield sebesar 9–12,1% pada 2023 dan 2024, dengan asumsi kurs rupiah terhadap dolar AS di level 15.500, dividend payout ratio sebesar 65%, dan mengacu harga saham saat ini di level Rp645/lembar. Dari segi keuangan, TPMA memiliki arus kas dan posisi utang yang sehat, serta masih mencatat net cash ~US$5,4 juta. Pada November 2023, TPMA telah membagikan dividen interim sebesar Rp30/lembar, sehingga dividen final tahun buku 2023 berpotensi memiliki yield sebesar 5,6%.
Meski tidak terdapat banyak potensi re-rating, kami menilai harga saham TPMA tetap dapat menawarkan upside dari pertumbuhan laba bersih. Menggunakan asumsi valuasi P/E Ratio di kisaran 6,5x, serta proyeksi Earnings Per Share (EPS) 2024 naik ke level Rp120/saham, maka saham TPMA berpotensi diperdagangkan di level ~Rp780/lembar.
Adapun beberapa risiko utama dari TPMA antara lain: 1) meningkatnya suplai kapal tunda dan tongkang yang lebih cepat dari ekspektasi, sehingga berpotensi menekan tarif sewa (charter rate) kapal; 2) harga batu bara yang terus melemah berpotensi menyebabkan penurunan produksi batu bara, sehingga tarif sewa, volume angkut, dan utilisasi armada dapat turun; dan 3) keterlambatan pengiriman kapal dari produsen, sehingga dapat menghambat ekspansi TPMA.